Jakarta, Itech – Dirjen Penguatan Inovasi Kemristekdikti mendorong tanaman nilam menjadi salah satu produk unggulan inovasi daerah. Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe, mengatakan, klaster inovasi Nilam Aceh diinsiasi oleh Kemristekdikti sejak tahun 2017, dibuat untuk mendorong peningkatan ekonomi suatu kawasan.
“Sumber pendapatan ekonomi daerah perlu mendapat perhatian, difasilitasi insentif sehingga bisa mengembangkan produk unggulan untuk industri,” kata Jumain Appe di sela-sela Rapat Koordinasi Pengembangan Klaster Inovasi Nilam Aceh dan Kelapa Minahasa Selatan (Minsel) di Jakarta, Senin (10/9).
Jumain mengatakan, untuk menjadikan nilai produk bernilai tambah perlu sinergi usaha pemerintah daerah, perguruan tinggi, swasta dan komunitas. Tanpa itu, sulit untuk mewujudkan hadirnya produk unggulan daerah. ” Pada intinya untuk mengangkat produk lokal, kami menggandeng Pemda, dunia usaha, industri, dan perguruan tinggi. Namun, pemda lah yang harus lebih aktif karena paling tahu apa potensinya,” tandasnya
Nilam di Aceh Jaya dikenal di dunia karena kualitasnya bagus. Hanya saja nilam tersebut tidak diekspor langsung oleh Indonesia. Nilam Aceh tersebut dibeli Singapura dan Malaysia untuk diolah menjadi bahan intermediate, lalu dijual kepada kalangan produsen parfum di Paris. Dengan sentuhan inovasi, Djumain berharap, nilam di Indonesia bisa dibuat produk turunannya seperti untuk kosmetik atau produk kesehatan lainnya sehingga harga jualnya pun tinggi.
Selain itu, Nilam di Aceh Jaya dikenal sejak zaman Belanda. Kemudian pada tahun 1998, nilam Aceh sempat berjaya karena harganya naik dari Rp 25.000 hingga Rp 250.000 per kilogram (kg) menjadi lebih dari Rp 1 juta. Saat ini, Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala sedang mendorong bibit unggul nilam yang akan diujicobakan di lahan sekitar 2 hektar (ha). Selain itu, bibit tahan hama, inovasi lain dalam pengolahan nilam akan dibuat, sehingga tidak lagi sekedar menjual bahan baku atau bahan mentah.
“Klaster inovasi nilam Aceh dan kelapa Minsel merupakan sebuah model pendekatan untuk peningkatan ekonomi rakyat, mendorong kolaborasi dan sinergi pelaku inovasi khususnya untuk kedua daerah tersebut. Kami mendukung perguruan tinggi, pemda, dunia usaha dan masyarakat untuk bersinergi membangun kembali kejayaan nilam Aceh dan kelapa Minsel. Perguruan Tinggi bisa berperan sebagai pusat keunggulan (center of excellent) dalam menghasilkan teknologi yang diperlukan oleh masyarakat,” papar Jumain. (red/Ju)














