Selain memiliki fungsi utama sebagai cadangan bagi SATRIA-1, Dirut BAKTI Kementerian Kominfo menyatakan penyediaan HBS bertujuan untuk menambah kecepatan internet sekaligus meningkatkan user experience pengguna layanan akses internet untuk dukungan layanan publik.
“Proyek Penyediaan HBS ini, nantinya akan memiliki kapasitas 80 Gbps yang menggunakan teknologi HTS dengan frekuensi Ka-Band,” tutur Direktur Utama BAKTI Kementerian Kominfo Anang Latief dalam Konferensi Pers Penunjukan Pemenang Proyek Hot Backup Satellite, yang berlangsung secara virtual dari Media Center Kominfo, Jakarta, 11/03/2022..
Dirut Anang Latief mengharapkan keberadaan Proyek HBS dapat memberikan manfaat untuk peningkatan kualitas layanan publik di instansi Pemerintah. Menurutnya, potensi penerima manfaat Proyek HBS, pertama akan digunakan instansi di lingkungan Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi di daerah 3T.
“Untuk mendukung penyediaan layanan internet cepat di 93.400 titik sekolah SD, SMP, SMA, SMK, madrasah, dan pesantren. Bukan hanya untuk pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), namun juga untuk proses belajar mengajar sejak awal,” jelasnya.
Kedua, Proyek HBS juga memberikan manfaat dengan mendukung layanan 3.700 titik Puskesmas, Rumah Sakit, dan layanan kesehatan lain.
7 Stasiun Bumi dan 2 SCC
Proyek HBS akan memiliki tujuh stasiun bumi yang tersebar di beberapa kota di wilayah Indonesia antara lain Banda Aceh, Bengkulu, Cikarang, Gresik, Banjarmasin, Tarakan dan Kupang. Selain itu, Proyek HBS juga akan memiliki dua set Satellite Control Center (SCC) primer dan backup.
“Untuk SCC primer terletak di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat dimana antenna dan RF subsystem-nya terletak di Banda Aceh. Lalu, SCC backup terletak di Banjarmasin dengan antenna dan RF Susbsytem-nya berada di Kupang,” jelas Dirut Anang Latief.
Dirut BAKTI Kementerian Kominfo menyatakan konstruksi proyek HBS akan dimulai pada Q1 tahun 2022. Selanjutnya akan diluncurkan di Q1 tahun 2023 agar pada Q4 tahun 2023 sudah beroperasi dan masyarakat dapat merasakan manfaatnya.
“Adapun perusahaan manufaktur satelit untuk proyek HBS adalah Boeing, dan menggunakan rocket launcher dari Space-X yaitu Falcon 9. Sedangkan untuk slot orbit menggunakan administrator Indonesia pada slot 113 E,” jelasnya.
Pengadaan Infrastruktur (Capital Expenditure) penyediaan HBS, menurut Dirut Anang Latief membutuhkan biaya investasi sebesar Rp5.208.984.690.000, termasuk PPN.
“Sedangkan biaya jasa pengoperasian dan pemeliharaan Infrastruktur HBS senilai Rp475.204.320.000, termasuk PPN pertahun selama masa operasi 15 tahun,” ungkapnya.
Baca: Mitigasi Risiko Satelit SATRIA-1, Kominfo Siapkan Hot Backup Satellite














