Lima keputusan teknologi strategis menurut istilah Satya Nadella, CEO Microsoft, adalah Tech Intensity. Tech intensity mendorong perusahaan untuk mempercepat adopsi teknologi agar kemudian fokus membangun kemampuan digital masing-masing.

Semakin banyak perusahaan yang mengadopsi teknologi untuk menjawab tantangan-tantangan yang hadir di era disrupsi ini. Beberapa industri bahkan tidak hanya terdisrupsi, tetapi juga berevolusi, sehingga adopsi teknologi dan proses digital diperlukan untuk tetap relevan dan kompetitif dengan perkembangan teknologi.
Sebagai navigator dalam perusahaan, CEO merupakan penanggung jawab kepercayaan pelanggan dan perlu memastikan bahwa semua unsur kepercayaan, diantaranya keamanan, privasi, reliabilitas, transparansi, kepatuhan dan etika, semenjak awal telah tertanam pada inisiatif-inisiatif transformasi digital.
“Tahun 2019 merupakan tahun transformasi digital, dengan memanfaatkan layanan cloud computing maka pemimpin perusahaan dapat mengambil langkah terbaik untuk merespon bentuk ekonomi baru: ekonomi digital. Para CEO perlu mempertimbangkan 5 keputusan teknologi untuk memperkuat strategi digital mereka dan menjadi lebih kompetitif di industri,” kata Haris Izmee, Presiden Direktur, Microsoft Indonesia.
Baca juga: Microsoft Indonesia: AI, Mixed Reality, dan Internet of Things Jadi Pendorong Transformasi Digital
Berikut lima keputusan teknologi versi Microsoft:
Modernisasi strategi data: Data adalah kunci proses pertumbuhan perusahaan. Pada sejumlah organisasi besar di Asia-Pasifik, yang sering menjadi tantangan bukan ketersediaan data, melainkan tenaga yang dibutuhkan untuk mengelola data perusahaan yang bertambah. Industri perbankan misalnya, membutuhkan alat untuk melacak dan menganalisis data acak dari berbagai saluran seperti perangkat, touchpoint terbaru pelanggan dan arus data pihak ketiga. Selain itu, perbankan juga mempertimbangkan sumber daya tambahan untuk mengatasi kenaikan persyaratan peraturan dan kepatuhan.
Mempercepat adopsi cloud secara menyeluruh: Dari awal kemunculan platform cloud, banyak CEO yang mempertanyakan risiko keamanan data serta kepatuhan terhadap regulasi. Sejak Microsoft menghadirkan hybrid cloud (integrasi public cloud dan on-premise) di Indonesia, Azure Stack, perusahaan kini dapat memilih untuk mengaplikasikan strategi Hybrid Cloud yang memungkinkan pembagian data dan aplikasi di dua domain tersebut. Solusi ini memberikan perusahaan kemampuan untuk mengukur infrastuktur on-premise mereka melalui public cloud secara mulus tanpa harus memberikan akses pusat data kepada pihak ketiga, serta tetap patuh terhadap regulasi yang berlaku. Layanan Hybrid Cloud ini sudah tersedia melalui enam mitra lokal Microsoft di Indonesia, yaitu Telkom Telstra, CBN Cloud, ViBiCloud, Visionet (VidiaCloud), Datacomm, dan Angkasa.
Pengembangan Keterampilan Digital Tenaga Kerja: Para CEO perlu memprioritaskan pengembangan keterampilan tenaga kerja agar terjadi kesinambungan antara kemampuan pekerja dan proses transformasi. Tahun ini, Microsoft Indonesia mendukung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui penyediaan Digital Talent Scholarship yang memberikan kursus intensif di bidang teknologi di kampus ternama di Indonesia. Hal ini bukan menjadi kolaborasi Microsoft yang pertama. Selama 23 tahun terakhir, Microsoft telah mengembangkan keterampilan digital generasi muda Indonesia bersama melalui organisasi non-profit Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) melalui platform GenerasiBisa!
Menumbuhkan pola pikir digital: Menurut Peter Drucker, culture eats technology for breakfast. Makna dari istilah ini adalah sebesar apapun pengaplikasian teknologi tidak akan mampu mentransformasi perusahaan ke arah digital secara menyeluruh apabila tidak dibarengi dengan perubahan budaya; budaya yang menerapkan pola pikir terbuka dan menyukai eksperimen. Budaya ini telah menjadi budaya dasar Microsoft selama 4 tahun terakhir selama bertransformasi, yang fokus menciptakan budaya learn-it-all, bukan know-it-all. Perubahan pola pikir ini mentransformasi mode bisnis Microsoft secara dramatis.
Organisasi digital ditandai dengan kepercayaan (trust): Organisasi membutuhkan tahunan untuk membangun kepercayaan, yang ironisnya dapat dihancurkan dalam sekejap mata. Kepercayaan merupakan hal yang krusial bagi organisasi digital yang tidak hanya rentan terhadap serangan dunia maya tetapi juga menghadapi tantangan lain seperti regulasi yang terus berubah serta ekspektasi kepatuhan etika dalam transaksi online dan penanganan data konsumen.
Baca juga:
Microsoft Mengembangkan Tenaga Kerja yang Siap Menghadapi Masa Depan














