Saat ini pabrikan ponsel di Indonesia ramai-ramai membuat sub-brand yang fokus menjual ponsel murah seperti Xiaomi membuat Redmi dan Pocophone, Huawei dengan Honor dan Oppo dengan Realme.
Analis pasar IDC Indonesia, Rizky Febrian mengatakan vendor yang memiliki sub-brand tersebut ingin masuk ke segmen pasar tertentu tanpa perlu membawa citra dari merk induk.
“Ingin mengubah image secara total dan ingin menciptakan sesuatu yang berbeda,” kata Rizky.
Merk baru sengaja dibuat sama sekali berbeda agar produk-produknya dapat keluar dari citra merk induk, seperti yang terjadi dengan Realme yang menargetkan segmen menengah ke bawah dan Oppo untuk ponsel kelas menengah hingga premium.
Resikonya, strategi itu memiliki kemungkinan untuk mematikan merk induk jika produk-produk yang dihadirkan bersinggungan, bisa dari harga atau segmen kelas yang ditargetkan.
Namun, ketika disinggung apakah fenomena sub-brand kelas low end seperti ini dapat mematikan vendor lokal. Rizky mengatakan vendor lokal yang memiliki sumber daya besar, seperti Advan dan Evercoss, tidak akan langsung keluar dari pasar meski pun persaingan di segmen ponsel murah semakin ketat.
Meski Pasar Ponsel Lesu, Pengguna Mulai Doyan Beli Ponsel Mahal
Meski pasar smartphone seluruh segmen cenderung lesu (minus dua persen), penjualan smartphone premium justru berbanding terbalik dengan kondisi ini. Pasar smartphone kelas atas itu malah tumbuh sebesar 18 persen dari akhir tahun 2018 lalu.
Angka tersebut diperoleh dari hasil penelitian lembaga riset Counterpoint. Riset yang dilakukan sepanjang 2018 itu memperlihatkan bahwa smartphone premium dengan harga di atas 400 dollar AS (sekitar Rp 5,6 juta) mengalami peningkatan yang paling tinggi.
Pertumbuhan ini dipimpin oleh produk-produk Apple. Perusahaan besutan Steve Jobs ini juga memimpin angka pertumbuhan pada segmen harga di atas 800 dollar AS (di atas Rp 11 juta).
Selama periode penelitian, Apple berhasil meraih total 51 persen dari pasar smartphone premium dengan kisaran harga di atas 400 dollar AS. Kemudian Samsung membuntuti di belakangnya dengan 22 persen kemudian Huawei dengan 10 persen.
Khusus untuk Huawei, angka pertumbuhan tersebut dipicu oleh kesuksesan P20 dan Mate 20 yang berhasil menarik minat para pembeli. Sementara pasar smartphone dengan harga di atas 800 dollar AS menjadi segmen dengan pertumbuhan yang paling cepat.
Apple memimpin segmen harga smartphone ultra-premium ini dengan angka 80 persen seperti dikutip GSM Arena.
Hasil penelitian Counterpoint juga menunjukkan bahwa smartphone dengan kisaran harga mulai dari 400 dollar AS hingga 600 dollar AS menjadi segmen dengan volume penjualan paling besar.
Apple juga masih meraih angka penjualan yang cukup besar namun OnePlus menjadi brand yang memimpin pada segmen ini. Brand asal China ini tercatat mendapat permintaan yang cukup besar di pasar India.
Hasil penelitian Counterpoint ini memperlihatkan bahwa konsumen ternyata mau merogoh kocek lebih dalam untuk membeli sebuah smartphone di tahun 2018. Bukan tanpa sebab, melainkan agar ponsel yang dibeli bisa berusia lebih panjang ketimbang membeli smartphone kelas menengah maupun bawah.
Selain itu, kesimpulan dari penelitian Counterpoint ini juga mengatakan bahwa pertumbuhan ini akan terus berlanjut seiring dengan kedatangan teknologi 5G, ponsel layar tekuk serta meningkatnya produksi ponsel premium dengan harga lebih terjangkau.














