Mantan Presiden Indonesia BJ Habibie, yang berkuasa selama transisi Indonesia ke sistem demokrasi setelah mantan ‘orang kuatnya’ Suharto mengundurkan diri pada 1998, telah meninggal dunia karena sakit, Rabu malam, (11/9).
Habibie, 83, menderita masalah jantung dan dirawat di rumah sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta sejak 1 September 2019.
Sebagai seorang yang memiliki pendidikan sebagai insinyur, Habibie menggantikan Suharto sebagai presiden ketiga Indonesia hanya beberapa bulan setelah menjadi wakilnya, tepat ketika Indonesia sedang diguncang oleh kerusuhan dan pergolakan ekonomi yang dipicu oleh krisis keuangan Asia.
Masa kekuasaannya ditandai oleh keputusannya untuk mengizinkan referendum kemerdekaan bagi rakyat bekas jajahan Portugis di Timor Timur, yang telah dianeksasi oleh Indonesia pada tahun 1970-an.
Pada Januari 1999, Habibie mengatakan Timor Timur dapat memiliki kemerdekaan jika rakyatnya menolak otonomi di Indonesia. Orang Timor Timur memilih mendukung kemerdekaan yang memicu gelombang kekerasan. Negara itu sekarang dikenal sebagai Timor-Leste.
Habibie lahir pada Juni 1936 di Sulawesi Selatan dan mempelajari teknik penerbangan dan aerospace di Jerman dan Belanda sebelum kembali ke Indonesia pada pertengahan 1970-an karena Suharto memintanya untuk membantu proses industrialisasi di Indonesia.
Dia mengetuai perusahaan penerbangan milik negara Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan kemudian menjabat sebagai menteri riset dan teknologi selama 20 tahun.
Presiden Joko Widodo, dalam pidato televisi yang mengumumkan meninggalnya Habibie, menggambarkan Habibie sebagai “ilmuwan kelas dunia dan bapak teknologi di Indonesia”.
Habibie hanya menjabat selama 17 bulan sebagai presiden dan digantikan oleh Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai Gus Dur.
Habibie memeliki dua putra dari pernikahannya dengan Hasri Ainun, yaitu Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.
Sumber: Aljazeera.com














