Frekuensi 700MHz dinilai sebagai frekuensi yang ideal untuk mengimplementasikan 4G LTE . Demikian Head MBB Solution Nokia Solutions and Networks (NSN) Asia Pasifik, Nils Keemann kepada wartawan di Jakarta.
Namun jika diterapkan di 700MHz, maka penerapan 4G LTE akan memakan waktu lama karena frekuensi itu masih digunakan untuk televisi analog. Di sisi lain, penerapan 4G LTE diharapkan segera terealisasi, mengingat para vendor teknologi juga tengah menggarap teknologi jaringan terbaru, 5G.
Sedangkan untuk perangkat yang mendukung 4G LTE dinilai tidak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, jika di Indonesia telah ada jaringan 4G LTE, maka para vendor perangkat hanya tinggal menyesuaikan produk besutannya. Menurut data The Global Mobile Suppliers Association (GSA), terdapat 1.240 perangkat yang mendukung 4G LTE di dunia per November, dengan lebih dari sepertiga diantaranya merupakan smartphone. Lalu pada 2019, 65 persen dari populasi dunia diprediksi akan menjadi pengguna 4G LTE.
Berdasarkan data Nokia Solution and Networks (NSN), trafik data di Indonesia terus melonjak setiap bulan dalam dua tahun terakhir, terutama dari smartphone.
Untuk tahun ini, trafik data dari tablet atau laptop, smartphone, dan feature phone telah melebihi 20 ribu terabyte setiap bulan dan diprediksi akan melebihi 80 ribu terabyte pada 2016.
“Trafik data di Indonesia mengalami pertumbuhan dan terus berlanjut, terutama karena banyak populasi anak muda yang menggunakan media sosial dan browsing. Ini juga terjadi di negara lain seperti Jepang dan Korea Selatan,” tutur Presiden Direktur NSN Indonesia, Dharmesh Malhotra.
Disisi lain, Direktur Eksekutif Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) Eddy Thoyib mengatakan bahwa untuk mengimplementasikan teknologi-teknologi baru bukan perkara mudah. Setidaknya dibutuhkan dua hal penting sebelum mengimplementasikannya yaitu dari teknologi itu sendiri dan sisi keuntungannya. “Kita harus lihat dulu bagaimana performa teknologi itu dan keuntungannya dari sisi ekonomi,” sambung Eddy.














