ItWorks- Kementerian Desa, Daerah Pembangunan Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa) menggandeng PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) dan institusi penunjang ekosistem digital, melaksanakan program Digitalisasi Pariwisata Desa di daerah Sumba.
Digitalisasi menawarkan beragam peluang yang bisa meningkatkan daya saing ekonomi bagi berbagai sektor.Tak hanya industri manufaktur, namun juga bidang jasa, seperti sektor budaya dan pariwisata yang ada di daerah-dearah pedesaan. Dengan teknologi digital, obyek wisata yang bersangukutan, bisa dikelola dengan system manajemen yanag lebih baik, mudah diekspos dan perluas informasinya kepada khalayak melalui ranah digital (internet).
Berkat kemajuan internet, juga memudahkan promosi, pemasaran, dan lainnya. Beragam industri pendukung berbasis teknologi digital juga bisa terangkat, seperti layanan financial technology (fintech), penjualan online, dan lainnya.
Melalui program digitalisasi desa wisata ini, Sumba Provinsi Nusa Tenggara Barat yang memiliki lebih dari 162 objek pariwisata dan 7 event budaya yang sangat eksotis, daerah yang termasuk ke dalam desa di kawasan Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T) ini, diharapkan bisa lebih cepat berkembang untuk mendorong kesejahteraan ekonomi masyarakat daerah.
Berdasarkan rilis media dari Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendesa, komitmen ini disampaikan Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo saat melakukan kunjungan kerja di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur selama tiga hari, saat menghadiri rangkaian Festival Budaya Pasola 2020 (16/3) lalu, di Desa Wihura, Kecamatan Wanukaka, Kabupaten Sumba Barat.”Era digitalisasi harus dimanfaatkan demi kemajuan pariwisata Indonesia, termasuk desa wisata di daerah tertinggal. Potensi pariwisata di Sumba cukup banyak, namun masih banyak orang yang belum tahu wisata-wisata yang ada di Sumba, oleh karena itu potensi pariwisata tersebut harus dipromosikan secara digital, agar semakin banyak masyarakat yang tahu,” ujar Samsul Widodo.
Festival Budaya Pasola 2020 merupakan warisan budaya religi sebagai festival pertandingan perang tradisional yang di gelar rutin setiap tahunnya. Festival ini merupakan warisan budaya sebagai ungkapan rasa syukur dan ekspresi kegembiraan masyarakat penganut agama kepercayaan Merapu atas hasil panen yang melimpah. Kegiatan ini selalu menyedot perhatan masyarakat luas, termasuk dari luar daerah yang ingin menyaksikan kemeriahan festival ini.
Kerja sama ditandai penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) program Digitalisasi Pariwisata Desa yang dilanjutkan dengan peresmian program Digitalisasi Pariwisata Desa yang dilakukan Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendesa, Samsul Widodo bersama General Manager Telkom Witel NTT, Samsurizal Aruni.
Melalui kerja sama ini, Telkom menghadirkan program Telkom Digital Travel & Tourism Solution atau yang dikenal dengan TITAN melalui implementasi e-ticketing (TITAN Ticketing) dan e-reservation homestay (TITAN Stay) di 8 objek wisata dan 9 homestay sebagai pilot project, yang juga didukung oleh LinkAja yang telah menggandeng 18 merchants di Sumba.
Sehari sebelumnya bertempat di Rumah Adat Budaya Sumba yang menjadi salah satu titik program e-ticketing, Dirjen PDT Kemendesa melakukan uji coba e-ticketing didampingi oleh Pendiri Rumah Adat Budaya Sumba, Pastor Peter Robert Ramone. Dengan implementasi TITAN ini akan mempermudah wisatawan mengakses wisata budaya di daerah Sumba, di samping juga meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Rumah Budaya Sumba menjadi salah satu destinasi wisata yang ada di Sumba yang akan menerapkan sistem e-ticketing dan cashless payment system, hasil kerja sama Ditjen PDT dengan Pemerintah Sumba Barat Daya, Telkom Digital Travel and Tourism Solution (TITAN) dan LinkAja. Setelah berdialog dengan para Kepala Desa se-Kabupaten Sumba Barat Daya, Samsul Widodo mengunjungi Museum Atma Hondu yang miliki koleksi kain tenun berusia ratusan tahun dari seluruh Pulau Sumba.
Dengan dilakukannya penandatanganan ini, LinkAja telah resmi menjadi pelopor uang elektronik yang melakukan digitalisasi di ekosistem di wilayah Sumba Barat maupun Sumba Barat Daya. Beberapa ekosistem yang sudah menggunakan LinkAja meliputi ekowisata Mangrove Liberani, tiket wisata di Desa Wisata Bali Loku, Kampung Adat Prai Ijing, Bodo Ede dan Prai Goli, paket wisata Sumba yang dapat dipesan secara online di website Goers, dan berbagai macam rumah makan yang ada di Tambolaka dan Waikabubak.
Kedepannya, LinkAja juga akan hadir untuk mendukung kemudahan transaksi nontunai di Desa Wisata Pajoreja, Kabupaten Nagakeo, Nusa Tenggara Timur. “Kehadiran LinkAja di Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya merupakan bentuk komitmen kami untuk meningkatkan pemerataan akses layanan keuangan digital di seluruh Indonesia. Fungsi uang elektronik sejatinya untuk membantu mencapai inklusi keuangan, sehingga masih menjadi tugas kami untuk mencapai masyarakat yang belum memiliki akses perbankan. Kami harap kontribusi LinkAja sebagai uang elektronik nasional dapat menjadi solusi bagi berbagai kebutuhan harian, dengan memperluas akses pembayaran yang memudahkan kehidupan masyarakat pulau Sumba sehari-hari,” papar Haryati Lawidjaja, Pejabat Operasional Harian Direktur Utama LinkAja dalam keterangan persnya. (AC)














