ItWorks.id-Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian RI, berkomitmen terus mendorong transformasi industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional agar semakin kompetitif dan berdaya saing tinggi melalui adopsi teknologi. Adopsi teknologi, terlebih di era Industri 4.0 merupakan kunci utama bagi para pelaku industri untuk meningkatkan daya saing di kancah global.
Demikian ditegaskan Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, saat menyampaikan sambutan pada acara pembukaan Pameran tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara, Indo Intertex & Inatex 2026, yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Rabu (15/4/2026). Turut hadir hadir mendampingi peresmikan acara pembukaan pamera ini, di antaranya Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, Presiden Direktur PT Peraga Expo, Paul Kingsen, selaku penyelenggara pameran, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFi) Redma Gita Wirawasta, Ketua Umum Komunitas Digital Printing Indonesia (KOPI) Usman Batubara, delegasi AFTEX, serta berbagai tamu VIP lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menperin Agus menyampaikan penghargaan kepada para penyelenggara serta pelaku industri yang terlibat dalam pameran berskala internasional tersebut. Ia menilai, Indo Intertext Inatex menjadi wadah strategi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi pengembangan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia.
“Kehadiran peserta dari berbagai negara seperti Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Chile, Singapura, Vietnam hingga Kanada menunjukkan bahwa industri tekstil Indonesia tetap memiliki daya tarik tersendiri di mata dunia. Hal ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa saat ini industri tekstil nasional tengah berada dalam fase penting yang menuntut adanya perubahan dan penyesuaian. Transformasi yang dimaksud tidak hanya mencakup modernisasi mesin dan peralatan produksi, tetapi juga mencakup penerapan teknologi mutakhir serta penguatan inovasi di seluruh lini industri.
Disebutkan bahwa perkembangan teknologi menjadi faktor kunci yang tidak bisa dihindari. Pelaku industri dituntut untuk lebih adaptif dalam menghadapi perubahan, termasuk dalam mengadopsi digitalisasi dan teknologi ramah lingkungan guna meningkatkan efisiensi sekaligus memenuhi tuntutan pasar global yang semakin kompleks.
Pemerintah, lanjutnya, terus berupaya memberikan dukungan melalui berbagai strategi kebijakan, mulai dari insentif bagi industri yang melakukan restrukturisasi mesin hingga program peningkatan kualitas sumber daya manusia. Langkah ini diharapkan mampu mendorong produktivitas dan daya saing industri tekstil nasional secara berkelanjutan.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa industri tekstil merupakan salah satu sektor penting yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, terutama dalam hal penyerapan tenaga kerja dan perolehan devisa negara. Oleh karena itu, keinginan sektor ini harus dijaga dengan baik melalui sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan mitra internasional.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan seperti persaingan global, ketegangan harga bahan baku, serta tuntutan terhadap produk yang lebih ramah lingkungan, Agus tetap optimistis bahwa industri tekstil Indonesia mampu bertahan dan terus berkembang. Ia menilai, dengan kolaborasi yang kuat dan inovasi yang berkelanjutan, sektor ini akan semakin tangguh menghadapi dinamika global.
Disebutkan bahwa kinerja industri TPT nasional masih tetap terjaga. Sepanjang tahun 2025, sektor ini mencatat pertumbuhan sebesar 3,55% (YoY), dengan nilai ekspor mencapai USD 12,08 miliar dan surplus sebesar USD 3,45 miliar. Dalam konteks tersebut, penyelenggaraan
Indo Intertex – Inatex 2026 dinilai semakin relevan dan strategis, tidak hanya sebagai ajang pameran, tetapi juga sebagai momentum untuk mengakselerasi penguatan industri TPT nasional.
Lebih lanjut, pameran ini berperan sebagai platform business matching yang mempertemukan pelaku usaha nasional dan internasional, sehingga membuka peluang kemitraan dan investasi yang lebih luas. Melalui penyelenggaraan Indo Intertex Inatex 2026, ia berharap dapat mendorong terciptanya kerja sama yang lebih luas, sekaligus memperkuat ekosistem industri tekstil nasional. Agus pun menutup Segalanya dengan harapan agar ajang ini menjadi titik awal bagi peningkatan investasi, inovasi, dan perluasan pasar bagi industri tekstil Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.
Pentingnya Inovasi Teknologi Tekstil
Pameran ke-22 ini menyoroti teknologi tekstil, mesin, garmen, dan solusi keberlanjutan. Acara ini berlangsung pada 15-18 April 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, menampilkan lebih dari 800 peserta dan 1.500 merek global dari berbagai negara. “Fokus pameran yang sudah ke-22 ini, di antaranya menyoroti pentingnya inovasi teknologi tekstil, mesin, garmen, dan solusi keberlanjutan.Targetnya bisa terus mendorong kebangkitan industri tekstil nasional. Dalam hal ini kami juga menyediakan platform business matching untuk memfasilitasi forum untuk kolaborasi dan kerja sama bisnis,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja saat menyampaikan sambutan.
Dalam sambutannya, ia juga menyoroti bahwa tahun 2026 diawali dengan kondisi global yang masih dinamis, ditandai oleh ketegangan geopolitik, disrupsi perdagangan, serta pergeseran rantai pasok. Ia menekankan bahwa di tengah tantangan tersebut, industri tekstil
dan produk tekstil (TPT) dituntut untuk semakin efisien, adaptif, dan visioner. Namun demikian, industri ini terbukti memiliki daya tahan yang kuat dan tetap menjadi sektor strategis yang menyerap jutaan tenaga kerja, menopang industrialisasi nasional, serta menghubungkan rantai
nilai dari hulu hingga hilir.
Pameran yang mengambil area seluas 35.000 meter persegi di JIEXPO Kemayoran juga menampilkan Trunk Show dari Indonesia Fashion Chamber (IFC). Sejumlah program unggulan juga dihadirkan pada pemeran kali ini untuk memperkaya wawasan sekaligus memberi nilai tambah bagi pelaku industri tekstil dan garmen.
Antara lain melalui Seminar dan Workshop interaktif dengan menghadirkan para ahli dari luar negeri, praktisi guna membahas tren, strategi, serta tantangan terkini di industri tekstil dan garmen. Di sisi lain, isu keberlanjutan dan sirkularitas tekstil menjadi sorotan, mendorong pelaku industri untuk semakin memahami dan menerapkan praktik berkelanjutan yang kian relevan di pasar global.
“Kami berharap ini dapat menjadi titik awal kebangkitan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), dengan mendorong masuknya investasi, meningkatkan kinerja ekspor, serta menggerakkan kembali seluruh ekosistem industri. Tentu adanya konflik timur tengah belakangan ini, juga menjadi tantangan dan mudah-mudahan ini segera teratasi. Tapi secara umum, kita tetap optimistis karena kita ini punya potensi dan ekosistem yang lengkap TPT dan garmen ini,” ujarnya.















