Jakarta, ItWorks- Ekonomi pariwisata yang selama ini menjadi salah satu sektor andalan ekonomi masyarakat di daerah wisata seperti Bali, kini mulai bergerak dengan menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya melalui penerapan transaksi pembayaran digital QRIS yang kini mulai banyak dilakukan para pelaku parekraf di era adaptasi kebiasaan baru.
Dibukanya objek wisata di beberapa daerah diharapkan diikuti bangkitnya optimisme karena roda perekonomian kembali berputar. Seiring meningkatnya sosialisasi akan penggunaan sistem pembayaran berbasis Quick Response Code Indonesian Standard atau (QRIS) yang dilakukan Bank Indonesia (BI) dan para Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) digital, para pelaku parekraf di Bali pun mulai banyak menerapkan sistem pembayaraan ini bagi para wisatawan. Bahkan layanan yang diberikan juga makin luas, sehingga konsumen atau wisatawan dapat melakukan pembayaran di sejumlah merchant tanpa kontak langsung, sehingga aman dari penularan Covid-19.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama Kusubandio mengapresiasi penerapan alat pembayaran digital QRIS oleh para pelaku parekraf di Bali ini. Hal ini disampaikan Deklarasi Program Kepariwisataan Dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru & Digitalisasi Pariwisata Berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Peninsula Nusa Dua, Bali, (30/7/2020) lalu.
“Penerapan QRIS menjadi solusi untuk membangkitkan sektor pariwisata dalam mendukung tatanan kehidupan era baru karena tidak akan ada kontak fisik dalam interaksi atau cashless. Dengan penerapan QRIS akan mempermudah sistem transaksi bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, tidak ribet, lebih cepat, dan kekinian,” ujar Wishnutama Kusubandio melalui rilis persnya, baru-baru ini.
Menparekraf mengapresiasi langkah BI yang memfasilitasi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) menerapkan QRIS untuk mendukung kemudahan usahanya. Penerapan QRIS menjadi solusi untuk mengimplementasikan dan menjalankan protokol kesehatan, sekaligus melaksanakan upaya pemulihan pariwisata di Bali. Sebagai bentuk citra positif yang tidak hanya diperhatikan masyarakat Indonesia, tapi juga diperhatikan masyarakat dunia.
“Keberhasilan Bali dalam menjalankan hal tersebut akan memberi dampak pada bangkitnya pariwisata nasional. Saat ini, pemerintah juga tengah memperjuangkan untuk memberikan stimulus pariwisata dalam bentuk insentif tiket pesawat,” ujarnya.
Saat Deklarasi Program Kepariwisataan Dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru & Digitalisasi Pariwisata Berbasis QRIS hadir pula Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Gubernur Bali I Wayan Koster, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana, Direktur Utama ITDC Abdulbar M Mansoer, Pangdam IX Udayana Mayjen TNI Kurnia Dewantara, Kapolda Bali Irjen. Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose, dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menjelaskan Penerapan kanal pembayaran QRIS di sektor pariwisata merupakan implementasi QRIS yang sudah diterapkan pada awal Januari 2020 seiring dengan program kepariwisataan dalam tatanan kehidupan Bali di era baru digitalisasi pariwisata berbasis QRIS.
“QRIS Bank Indonesia menjadi salah satu solusi alat pembayaran digital yang dapat diaplikasikan di semua sektor khususnya sektor pariwisata yang menuntut semuanya harus serba cepat, mudah, murah, dan aman. Dan bisa diterapkan di semua sektor mulai dari retail, tiketing, pajak, atau untuk memenuhi kebutuhan wisatawan asing” ujarnya.
Saat ini, jumlah merchant yang sudah menggunakan QRIS di Bali per-24 Juli 2020 sudah mencapai 114.446 merchant, meningkat 337 % dibandingkan pada awal 2020. Dari angka tersebut sebanyak 57 % pengguna QRIS berasal dari usaha mikro, 20 % usaha kecil, 17 % usaha menengah, dan 6 % usaha berskala besar. (AC)














