Jakarta, Itech – Dalam rangka perencanaan efisiensi energi secara nasional, Balai Besar Teknologi Energi (B2TE-BPPT) melakukan kajian dan penyusunan roadmap teknologi efisiensi energi. Roadmap ini disusun ke dalam sebuah buku Perencanaan Efisiensi dan Elastisitas Energi
Tahun 2014 ini, menurut Kepala B2TE, Andhika Prastawa difokuskan pada industri bubur kayu dan kertas (pulp and paper). “ Saat ini telah dilakukan identifikasi terhadap teknologi efisiensi energi di industri tersebut dan dilakukan simulasi menggunakan perangkat lunak LEAP untuk menghitung dampak penerapan teknologi efisiensi energi pada penghematan energi secara nasional,” katanya disela “B2TE-BPPT Energy Partners Gathering 2014 dengan mengusung tema ‘Managing Energy for BetterFuture’ di Jakarta, Kamis (4/12)
Di bidang Energi Terbarukan, Program WHyPGen yaitu suatu program Nasional di bawah kerjasama BPPT dan UNDP dalam mempromosikan energy angin, tahun ini didorong upaya pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) skala besar dan Hibrid (PLTH) berbasis sumber energy angin yang diparalel (hibrida) dengan sumber energy lainya baik yang off-grid maupun yang on-grid.
Sementara itu, untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terbukanya pasar industry energy angin di Indonesia, telah diidentifikasi 21 lokasi potensial energy angin yang tersebar di 17 propinsi. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat beberapa lokasi yang potensial untuk dikembangkan menjadi aplikasi wind farm dengan potensi lebih dari 960 MW di sekitar selatan pulau Jawa, Sulsel, Sulut, NTT dan NTB. Salah satu yang telah digarap oleh para pengembang adalah di Samas, Yogyakarta sebesar 50 MW.
Studi WHyPGen mencataat adanya potensi pembangunan wind farm di 17 lokasi di Indonesia sebesar 960 MW. Dari situ dapat dihasilkan listrik 2.382 GWH, dengan perkiraan penghematan BBM sebesar 821.962.845 KLiter dan menekan emisi CO2 2.110.859 ton. “Untuk dapat mendorong proyek pertama wind farm di Indonesia, maka BPPT telah memberikan dukungan teknis dalam rangka proses evaluasi proposal dan negosiasi PPA. Selain itu kerjasama dengan PT. Sarana Multi Infrastruktur dirintis untuk pembangkit yang terletak di Nusa Tenggara Timur dan Banten dalam hal kajian finansialnya,” jelas Kepala BPPT, Unggul Priyanto.
Masih menurut Andhika Prastawa, terkait bidang konservasi energi, BPPT melayani berbagai pengujian efisiensi energy peralatan-peralatan baik untuk industry maupun rumah tangga. Sehingga public mengerti informasi keefisienan suatu peralatan yang pada gilirannya mendorong untuk turut melakukan usaha-usahak observasi energi. “Di bidang inovasi teknologi, melalui program MCTAP BPPT telah memberikan percontohan tentang pemanfaatan teknologi kogenerasi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku gas hingga 40%,” ujarnya. (*)














