Potensi pertumbuhan ekonomi digital telah mempercepat adopsi teknologi global dan pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence-AI) secara besar-besaran. Pengeluaran biaya terhadap penggunaan AI secara global diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dari US$50,1 miliar pada tahun 2020 menjadi lebih dari US$110 miliar pada tahun 2024.
Di Asia-Pasifik, penggunaan teknologi AI semakin terintegrasi di berbagai sektor, seperti keuangan, kesehatan, dan ritel yang berdampak untuk meningkatkan efesiensi operasional dan produktifitas. Oleh karena itu, pemerintah di negara-negara Asia-Pasifik melakukan investasi besar-besaran untuk pengembangan ekosistem AI dan mendorong pengembangan proyek riset AI.
Demikian disampaikan SoftBank Ventures Asia (SBVA), dalam keterangan resmi yang diterima Redaksi It Works, di Jakarta, 23/06/2021.
SBVA, didirikan pada tahun 2000, adalah perusahaan modal ventura tahap awal dari SoftBank Group. Dengan keahlian pada investasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communications Technology – OCT) termasuk juga Artificial Intelligence (AI), loT, dan robot pintar (smart robotics). Saat ini, SBVA mengelola dana sekitar US$1,5 miliar untuk investasi di perusahaan rintisan (start-up) teknologi yang inovatif di seluruh dunia.
Di pasar Indonesia, SBVA terus berkomitmen investasi pada sejumlah perusahaan rintisan teknologi. Sejak pertama kali berinvestasi di Tokopedia pada tahun 2013, belakangan SBVA terus melakukan pendanaan terhadap Ajaib, Alodokter, CoHive, Funding Societies (Modalku), MamiKos, Super, Waresix dan Yummy Corp.
Baca: Strategi Penilaian Startup Jadi Kunci Modal Ventura Berinvestasi
Selain menyuntikan dana, SBVA memanfaatkan keahlian in-house dan jaringan industrinya yang luas untuk mendampingi perusahaan portofolio melalui berbagai tahap pertumbuhan dan tantangan.
Lewat keterangan resmi ini juga, SoftBank Ventures Asia dan dua venture capital (Alto Ventures dan Yellowdog) mengumumkan mereka telah menyuntikan dana tahap awal sebesar US$ 27 juta untuk perusahaan rintisan Artificial Intelligence (AI) asal Korea Selatan, VoyagerX. Dana ini akan digunakan untuk mendukung rencana ekspansi produk dan rekrutmen Sumber Daya Manusia (SDM).
“Dengan semakin cepatnya perkembangan teknologi AI dan meningkatnya permintaan untuk solusi digital, kami melihat adanya peluang pasar yang cukup besar. Di SoftBank Ventures Asia, kami fokus pada investasi di bidang teknologi transformatif yang bisa memberikan dampak positif pada kehidupan masyarakat,” ujar JP Lee, CEO SoftBank Ventures Asia.
“Kecerdasan buatan termasuk dalam kategori tersebut, dan VoyagerX dengan kemampuan handal mereka di bidang AI, inovasi yang kreatif dan waktu pemasaran yang cepat, telah membuktikan bahwa mereka memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin pasar di bidang ini,” ujar JP Lee, CEO SoftBank Ventures Asia.
Partisipasi SBVA pada pendanaan VoyagerX merupakan strategi berkelanjutan perusahaan yang fokus pada perusahaan rintisan yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi dari prospek menjanjikan pasar ekonomi digital Asia. Belum lama ini, SoftBank Ventures Asia juga mengumumkan investasi ke Youibot, perusahaan rintisan robot asal China; Super, perusahaan rintisan social commerce di Indonesia, dan Standard Energy, pengembang baterai ion vanadium dari Korea Selatan.
Baca: Pemerintah Pertemukan 70 Startup Lokal dengan 88 Pemodal di Bali















