Jakarta, Itech- Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan International Atomic Energy Agency (IAEA) menggelar IAEA/RAS Regional Training Course on The Applications of In-vitro Techniques in Mutation Breeding of Bioenergy Crops (RAS5070) pada 23-27 Mei 2016. Kegiatan tersebut dalam rangka meningkatkan kapasitas teknologi pemuliaan tanaman bioenergi dengan teknik mutasi radiasi dari para peneliti dan pakar tanaman bioenergi.
Dalam kegiatan tersebut, Pakar pemuliaan tanaman bioenergi IAEA Rajbir Sangwan akan mengajarkan tentang teknologi perbaikan produktivitas dan kualitas tanaman bioenergi pada lahan marginal kepada peserta pelatihan dari 14 negara di Asia yaitu Bangladesh, Kamboja, China, India, Indonesia, Republik Korea, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Philipina, Sri Lanka, dan Vietnam.
Kepala BATAN Dr. Djarot S. Wisnubroto berpendapat Indonesia dipilih karena keberhasilan Batan menghasilkan varietas sorgum dan banyak varietas tanaman lainnya termasuk padi, kedelai, kacang hijau, gandum tropis, dan kapas. Sejauh ini, telah banyak peneliti dan ilmuwan mancanegara yang mengikuti pelatihan dan pemuliaan mutasi tanaman di Batan. Di antaranya berasal dari Myanmar, Burkina Faso, Nepal, dan Sri Langka.
“Jumlah peserta pelatihan dipastikan akan terus bertambah apalagi setelah Batan memperoleh Outstanding Achievement Award on Plant Mutation breeding dari IAEA pada September 2014,” katanya di Jakarta, Senin (23/5). Diakui, Indonesia memang ditunjuk IAEA sebagai Lead Country Coordinator (LCC) di kawasan Regional Asia karena ketersediaan lahan marginal yang cukup luas dan memiliki program pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Sementara itu, Pakar tanaman pangan Batan Dr. Soeranto Human, menjelaskan, tanaman bioenergi sendiri dikelompokkan menjadi tiga yaitu tanaman penghasil minyak (biodiesel), tanaman penghasil karbohidrat atau gula (bioetanol), dan biomassa. Tanaman penghasil minyak di antaranya sawit, jarak pagar dan bunga matahari. Sedangkan penghasil karbohidrat/gula di antaranya sorgum manis, tebu, dan singkong. “Telah disepakati tanaman bioenergi yang diteliti dan dikembangkan harus tanaman yang tidak berkompetisi dengan pangan. Karenanya, lahan yang harus digunakan adalah lahan marginal,” jelasnya.
Di Indonesia, pemuliaan tanaman bioenergi dengan teknik radiasi telah dilakukan di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi BATAN dan menghasilkan varietas unggul sorghum. Tanaman ini banyak manfaatnya. “Biji shorgum mengandung karbohidrat, lemak, dan protein tinggi yang dapat digunakan untuk bahan pangan. Batang dan daunnya untuk pakan ternak ruminansia. Selain itu, ada shorgum manis yang batangnya mengandung cairan gula yang cukup tinggi, yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan gula cair, sirup atau diproses lanjut menjadi bioetanol,” paparnya. (red/ju)














