PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menyatakan perlu adanya strategi khusus untuk menghadapi tantangan di dunia perbankan pada era modern yaitu disrupsi digital.
Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI Arga M. Nugraha dalam keterangan resminya, Jumat (30/06/2023) mengatakan bahwa pihaknya memiliki rencana matang dengan 3 fokus utama untuk melakukan transformasi digital yang tertuang dalam BRIVolution 2.0.
Pertama, BRI terus berupaya meningkatkan resiliensi. Arga mencontohkan saat dunia diterpa pandemi Covid-19 mengakibatkan disrupsi yang sangat luas secara tiba-tiba. Alhasil, digitalisasi dipacu sedemikian cepat di berbagai bidang tak terkecuali perbankan.
Kedua, BRI ingin fokus kepada open banking yang dinilai menjadi salah satu terobosan baru di bidang perbankan. Pihak bank membuka jalan untuk membangun kerja sama dengan pihak ketiga. Khususnya untuk berbagai jenis aplikasi digital.
Saat ini di BRI telah tersedia layanan BRIAPI yang mana keterhubungan pihak ketiga dengan nasabah BRI bisa dilakukan menggunakan teknologi Application Programming Interface (API) yang mengintegrasikan data perbankan dengan data yang ada di aplikasi.
BRIAPI saat ini sudah memiliki 766 partner per kuartal I/2023. Pada periode tersebut, kerja sama di BRIAPI menghasilkan fee-based income (FBI) hingga Rp26 miliar atau naik 73,2% secara tahunan.
Sementara itu, jumlah transaksinya mencapai 117,5 juta, naik sekitar 22,4% secara tahunan. Sedangkan sales volume mencapai Rp111,4 triliun atau naik 18,2% secara tahunan.
Ketiga, penguatan artificial intelligence dan juga machine learning. Dengan demikian BRI mampu mengelola data nasabah yang begitu besar untuk memberikan manfaat dan value.
Baca juga: Cloudera Observability, Optimalkan Biaya Hybrid Cloud dan Tingkatkan Kinerja Pelanggan














