
Yogyakarta, Itech- BPPT sebagai lembaga kaji dan terap teknologi terus mengembangkan kawasan Baron Technopark Yogyakarta sebagai lokasi wisata edukasi teknologi dan energi terbarukan. Baron Tecnhnopark berlokasi di Desa Planjan, Kecamatan Saptosari, Gunungkidul memiliki luas lahan 9,5 hektare. Rencananya, pada 21-22 Desember 2016 di lokasi ini akan digelar Baron festival yang menampilkan inovasi para siswa di Gunung Kidul, festival kuliner dan budaya Gunung Kidul.
Menurut Kepala Sub Bidang Pengelolaan Technopark Energi Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) BPPT, Ridwan Budi Prasetyo, di lokasi ini, pengunjung bisa melihat pemanfaatan energi terbarukan dari sinar matahari dan angin serta surya yang menghasilkan listrik. Selain itu, Baron Technopark juga melakukan desalinasi air laut untuk pasokan air bersih kawasan ini.
Lebih lanjut Ridwan menjelaskan, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Baron Tecnopark dapat menghasilkan 36.000 watt atau 36 kilowatt (Kwh). Sedangkan untuk pembangkit listrik tenaga angin dari empat kincir yang ada menghasilkan 16000 watt listrik. “Baron Technopark juga kerap kali dijadikan rujukan pembelajaran bagi daerah atau instansi yang ingin mengembangkan energi terbarukan,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (8/12),
Pengembangan PLTS juga telah digagas perusahaan swasta di Gunung Kidul dan pembangkit listrik tenaga angin di pantai baru di kawasan sekitar Gunung Kidul. Pengembangan itu pun didukung transfer pengetahuan dari Baron Technopark. Sementara itu, dari desalinasi air laut menjadi air bersih menghasilkan 10.000 liter air per hari dengan didukung 6000 watt listrik.
Masih menurut Ridwan, jam matahari memang menjadi salah satu daya tarik pengunjung Baron Technopark. Jam tersebut digunakan sebagai alat penanda waktu dengan mengandalkan jarum jam raksasa yang menjulang menantang cahaya matahari dan menghasilkan bayangan. Jam Matahari adalah seperangkat alat yang digunakan sebagai penunjuk waktu berdasarkan bayangan gnomon (batang atau lempengan) yang berubah-ubah letaknya, seiring pergerakan Bumi terhadap Matahari.
Jam Matahari berkembang di antara kebudayaan kuno Babilonia, Yunani, Mesir, Romawi, Cina, dan Jepang. Pembangunan Jam Matahari sebagai sarana pembelajaran, karena sebagai alat penanda waktu dengan mengandalkan jarum jam raksasa yang menjulang dan menantang cahaya matahari itu menghasilkan bayangan.(red/ju)













