Jakarta, Itech- BPPT terus mendorong pengembangan inovasi garam farmasi yang 100 persen berbahan dasar lokal apalagi garam farmasi adalah salah satu bahan baku obat yang sangat di butuhkan. Tidak saja bagi industri farmasi, garam farmasi juga di butuhkan untuk industri food and beverage, bahkan industri kosmetik. Dengan luasnya pantai Indonesia, mengimpor garam farmasi yang bahan baku dasarnya adalah garam rakyat, amatlah disayangkan.
Terkait hal tersebut, PT Kimia Farma telah mewujudkannya dengan berdiri nya pabrik garam farmasi pertama di Indonesia. Kepala BPPT, Unggul Priyanto, menyatakan bahwa spesifikasi garam farmasi ini sangat lah tinggi. Karenanya tidaklah mengherankan bila harganya bisa berkali lipat dibanding garam rakyat. Perlu keberanian bagi industri farmasi untuk memproduksi garam farmasi yang hampir 95 persen ketergantungan impor.
Menurut Direktur Utama PT Kimia Farma, Tbk, Rusdi Rosman, Kementerian Kesehatan telah membuat road map yang komprehensif, salah satunya adalah agar industri farmasi Indonesia mulai bergerak dari hulu, yakni menghasilkan bahan baku obat. ” Pabrik Garam Farmasi ini merupakan pabrik bahan baku pertama di Indonesia. Dengan kapasitas produksi 2000 ton per tahun, kami harapkan akan membantu mengurangi ketergantungan impor garam farmasi. Kami juga akan segera melakukan pembangunan pabrik garam farmasi ke dua dengan kapasitas 4000 ton per tahun,” jelas Rusdi.
Dikesempatan yang sama, dilakukan juga pengiriman pertama kepada lima perusahaan industri yang telah memesan langsung garam farmasi, yakni PT MJB Pharma, PT Indofarma Tbk, Labiomed DitkesAD, PT Gracia Pharmindo dan PT Djojonegoro C-1000. “Telah banyak industri yang memesan garam farmasi, hari ini kita mulai lakukan pengiriman pertama,” tambah Rusdi.
Terpisah, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Eniya Listiani Dewi, mengatakan bahwa selain inovasi garam farmasi, kedeputiannya juga telah mengembangkan inovasi filler kapsul berbahan baku dari singkong. “Secara teknologi, inovasi kami telah memenuhi standar farmasi. Kelebihannya adalah lebih cepat larut. Dan ini adalah upaya kami dalam memanfaatkan kekayaan lokal Indonesia,” pungkas Eniya. (red)














