DE-CIX Indonesia merupakan perusahaan penyedia solusi interkoneksi yang sudah beroperasi sejak Maret 2024 lalu dan merupakan perusahaan patungan antara DE-CIX dan PT IDMarco Digital Solusi. DE-CIX sendiri diketahui merupakan perusahaan Jerman yang sudah berkecimpung di dunia internet exchange selama 30 tahun terakhir ini. Demikian seperti diungkap Thomas Dragono, Direktur DE-CIX Indonesia pada sesi penjurian TOP Digital Awards 2024 yang diselenggarakan Majalah It Works secara virtual, Kamis (31/10/2024).
Dikatakan Thomas, visi dari DE-CIX Indonesia tidak lain adalah untuk menjadi penyedia solusi interkoneksi, dalam hal ini sebagai aggregator seluruh konten OTT/CDN yang ada di luar negeri dengan seluruh stake holder yang ada di Indonesia, baik itu dari sisi perusahaan, penyedia jaringan, ataupun penyedia jasa internet di Indonesia.
“Visi ini mungkin akan sulit dijangkau apabila tidak didukung dengan satu prinsip atau satu misi yang kita tanamkan di seluruh stake holder dalam hal ini DE-CIX Indonesia,” tandas Thomas.
Adapun misi yang dicanangkan DE-CIX Indonesia, yakni fokus pada penyediaan akses interkoneksi yang aman, cepat, dan efisien untuk berbagai pihak, seperti penyedia layanan internet, perusahaan, dan penyedia konten di seluruh Indonesia, dengan konektivitas yang dapat diandalkan.
“Bagaimana kita bisa menerapkan itu, salah satunya adalah kita menekankan bahwa tingkat netralitas daripada kehadiran kami di data center diharapkan dapat bisa membawa dampak yang lebih positif dengan teknologi yang kami adopsi dari Jerman yang sudah menjadi pemimpin di industri ini selama 30 tahun terakhir dan juga adalah teknologi platform internet exchange pertama di dunia,” jelas Thomas.
“Kami membangun semangat kolaborasi dan gotong royong di kalangan seluruh stake holder yang ada, khususnya para internet service provider (ISP) dari berbagai daerah di Indonesia. Kami mengundang teman-teman ISP untuk bisa mulai berkonsentrasi bergabung pada DE-CIX Jakarta sebagai satu platform, sehingga DE-CIX Jakarta itu sendiri bisa menjadi daya magnet/daya tarik sendiri untuk konten-konten dari luar negeri untuk bisa bergabung dan menghadirkan konten itu sendiri ada di dalam negeri,” sambungnya.
Bicara soal aktivitas usaha, seperti diungkap Thomas, dari sisi layanan DE-CIX membaginya menjadi tiga unsur utama, yakni GlobePeer (Lokal dan ASEAN), Microsoft Azure Peering Service (MAPS), dan DirectCloud.
Seperti dijelaskan Thomas, untuk GlobePeer, layanan ini dibagi menjadi dua aspek, yakni Peering secara lokal yang sifatnya domestik dan juga peering internasional yang mencakup wilayah ASEAN.
“Lalu kami juga menawarkan salah satu produk unggulan, yang disebut sebagai MAPS (Microsoft Azure Peering Service), sifatnya adalah kita menyediakan satu jalur khusus untuk bisa para pengguna internet di Indonesia terhubung langsung dengan Microsoft,” tutur Thomas.
Sementara untuk DirectCloud, ini adalah satu layanan yang menghubungkan para pengguna internet dengan berbagai jenis cloud provider di luar negeri, tidak hanya yang ada di Indonesia, tapi juga yang ada di secara global. “Saat ini sudah 80 cloud provider yang tergabung di platform kami,” tutur Thomas.
Selanjutnya dalam paparannya di hadapan dewan juri, Thomas juga mengungkap perihal strategi bisnis yang dicanangkan perusahaan. Dalam hal ini DE-CIX Indonesia memiliki strategi bisnis untuk membangung satu ekosistem yang disebut sebagai internet exchange (IX) sebagai platform di mana para OTT, CDN, provider dan pengguna broadband, baik itu rumahan maupun korporasi dapat secara efisien dalam pemakaian bandwidth dan menikmati kualitas yang terbaik.
Keamanan Siber dan Penerapan AI
Sebagai perusahaan teknologi, sudah barang tentu keamanan siber atau cyber security menjadi hal yang tidak bisa dipungkiri bagi DE-CIX penyedia solusi interkoneksi. Seperti ditegaskan, Thomas, dari sisi keamanan, perusahaan menerapkan beberapa layer (L).
”Layer 1 (keamanan fisik) tentunya dari sisi keamanan fisik untuk mengakses perangkat yang terpasang di data center ataupun terpasang sebagai production center itu kita lakukan dan mengikuti kajian-kajian yang sudah dilakukan di data center pada umumnya, seperti kondisi fisik pada saat mereka masuk ke data center, dikontrol dengan ID Card, Biometric scan, CCTV, dan juga tentunya alarm,” ujarnya.
Sementara dari sisi keamanan logis (Layer 2), dalam hal ini DE-CIX Indonesia menggunakan ACL statis dengan alamat MAC untuk mencegah routing loops di Peering LAN, serta menerapkan filter MAC global untuk membatasi siaran ethernet.
“Dari sisi keamanan backbone ataupun yang kita sebut sebagai jaringan, kami juga telah melakukan blackholing,” ujar Thomas.
Blackholing adalah teknik yang digunakan oleh DE-CIX untuk memblokir lalu lintas berbahaya sebelum mencapai jaringan pelanggan, membantu mencegah dampak serangan DDoS yang dapat mengganggu layanan. Selain itu, DE-CIX terus menerapkan langkah-langkah keamanan siber yang kuat dan terpercaya untuk memastikan pelanggan terlindungi dari berbagai ancaman dunia maya.
“(Sementara) untuk redudansi itu sendiri kami juga menerapkan N+1, di mana kita memastikan bahwa apabila terjadi gangguan dengan salah satu jaringan backbone menuju atau yang men-supply pasokan bandwidth ke dalam server kami, itu juga (sudah) diantisipasi. Sedangkan server itu juga sudah kita antisipasi, tidak hanya di satu lokasi tetapi dua lokasi yang sifatnya mirroring. Jadi, apabila terjadi gangguan di salah satu lokasi maka tentunya satu server lagi akan bisa tetap beroperasi tanpa menghilangkan tingkat kenyamanan di sisi pelanggan,” jelas Thomas.
Nah, sejalan perkembangan teknologi, termasuk dalam hal ini adalah penerapan AI (artificial intelligence), DE-CIX Indonesia juga sudah memanfaatkannya di dalam layanannya. Seperti dikatakan Thomas, pemanfaatan AI merupakan salah satu diferensiai DE-CIX dibandingkan dengan (perusahaan) Internet Exchange lainnya. Dalam hal penerapan AI, kata Thomas, hal itu dilakukan tidak hanya untuk mendukung peran atau pengembangan AI secara regional atau dalam hal ini Indonesia. Namun, DE-CIX juga memastikan bahwa seluruh perangkat yang kompatibel untuk menerapkan solusi AI ini sudah terpasang dan sudah diantisipasi.
“Salah satu contohnya adalah bagaimana secara portal yang dilakukan oleh masing-masing pelanggan DE-CIX itu sudah kami libatkan juga peran dan fungsi AI. Di mana AI ini melakukan analisa terhadap data-data gangguan yang terjadi di salah satu pelanggan, baik itu dari sisi port, fisikal, ataupun logikal, dan dari sana mereka akan melihat log daripada gangguan itu sendiri dan akan dikonversi dan diterjemahkan ke dalam bentuk prediktif. Kejadian di mana kami bisa memastikan bahwa apabila terindikasi adanya pola-pola yang dapat mengganggu pelayanan daripada layanan yang disediakan, maka secara portal, AI akan memberikan notifikasi ke PIC-PIC dari masing-masing pelanggan,” tandas Thomas.
“Dengan kehadiran AI ini kami memastikan bahwa secara jaringan tidak hanya dari sisi kesiapan DE-CIX untuk bisa melayani, tetapi juga kita mengadopsi AI itu sendiri (dalam) konteks melayani pelanggan kita. Sama-sama kita ketahui bahwa di AI sendiri pemanfaatannya untuk saat ini masih sangat rendah, belum memasuki babak berikutnya. Kenapa saya sebut seperti itu, karena pada saat kita membuka, contohnya dari ChatGPT, Gemini, ataupun OpenAI misalkan pada umumnya masyarakat Indonesia sudah langsung impresif atau sudah langsung terkesan begitu kita mendapatkan satu feedback daripada AI. Padahal fungsi dan peran AI jauh daripada apa-bagaimana kita mulai bertanya jawab, bagaimana AI dapat membantu memaksimalkan satu trafik yang tadinya secara routing patern melewati jalur A, tetapi karena jalur A ada gangguan, jalur B akan dilakukan sebagai optimalisasi. Nah, itulah adalah fungsi-fungsi AI yang kami terapkan di belakang layar DE-CIX,” sambungnya.
Secara ringkas, seperti tersaji dari slide presentasi, disebutkan bahwa DE-CIX mendukung penerapan AI dengan menyediakan konektivitas optimal melalui Cloud Exchange dan interkoneksi global, seperti
- Akses Cepat ke Data: Koneksi langsung ke cloud memfasilitasi pemrosesan dan analisis data besar untuk AI.
- Integrasi AI Berbasis Cloud: DE-CIX Cloud Exchange menyediakan jalur koneksi berkinerja tinggi yang memfasilitasi integrasi berbagai solusi AI berbasis cloud, memungkinkan perusahaan untuk mengakses aplikasi dan alat AI terbaru tanpa hambatan.
- Solusi AI yang Optimal: Latensi rendah dan koneksi aman memungkinkan otomatisasi, analitik prediktif, dan personalisasi.
- Skalabilitas untuk Inovasi: Mudah menambah kapasitas sesuai kebutuhan AI yang terus berkembang. Tidak hanya itu, di internal, DE-CIX Indonesia juga memiliki layanan IT yang mampu mendeteksi malware dan secara otomatis melakukan shutdown untuk mencegah penyebaran ancaman. Hal ini menunjukkan bahwa keamanan di DE-CIX Indonesia sangat terjaga dengan baik dan siap mengantisipasi berbagai situasi.














