ItWorks.id- Kementerian Lingkungan Hidup/ Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, mendukung upaya optimalisasi penerapan teknologi iradiasi untuk dukung ketahanan pangan. Teknologi ini terbukti efektif dalam menekan risiko kontaminasi tanpa meninggalkan residu berbahaya, menjadikannya alternatif yang aman dan ramah lingkungan untuk pengolahan produk pangan.
Dalam kaitan ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat peran teknologi nuklir, khususnya teknologi iradiasi pangan, sebagai solusi strategis dalam meningkatkan ketahanan dan keamanan pangan nasional. Dalam diskusi yang berlangsung belum lama ini, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Syaiful Bakhri, bersama timnya, bertemu dengan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, untuk membahas sinergi lintas sektor dalam penerapan teknologi iradiasi untuk pangan.
Syaiful menekankan pentingnya kolaborasi antar-lembaga guna memperluas pemanfaatan teknologi ini, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. “Teknologi iradiasi memungkinkan deteksi dan penanganan kontaminasi sejak dini tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan ataupun kesehatan masyarakat. Ini menjadi solusi kunci untuk menjamin keamanan produk pangan kita,” jelasnya sebagaimana rilis Humas BRIN (03/09/2025), melalui portal web BRIN.
Selain meningkatkan kualitas dan daya simpan produk, teknologi nuklir juga diyakini akan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global. “Kami berharap teknologi ini menjadi bagian dari sistem perlindungan pangan nasional, sekaligus alat diplomasi dagang yang berbasis bukti ilmiah,” tambah Syaiful.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyambut baik inisiatif tersebut dan menyatakan dukungan penuh terhadap langkah BRIN. Menurutnya, penerapan teknologi iradiasi adalah strategi jangka panjang yang dapat melindungi konsumen, lingkungan, serta mendongkrak daya saing produk pangan Indonesia di pasar internasional.
“Kami mendukung kebijakan pengamanan pangan dari potensi paparan radioaktif, sekaligus memastikan produk ekspor bebas kontaminasi dan produk impor tidak membahayakan masyarakat. Ini juga akan memperkuat posisi Indonesia saat menghadapi tuduhan atau klaim sepihak dari negara mitra dagang,” ujarnya.
Pertemuan ini menandai awal kolaborasi yang lebih erat antara BRIN dan Kementerian Lingkungan Hidup dalam mengembangkan kebijakan berbasis sains dan teknologi. Keduanya berkomitmen membangun sistem keamanan pangan yang tangguh, aman, dan berkelanjutan, dengan teknologi iradiasi sebagai tulang punggungnya.














