Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) memenuhi undangan untuk hadir di sesi penjurian sebagai kandidat penerima penghargaan bergengsi TOP Digital Awards 2025 yang diselenggarakan Majalah ItWorks. Yudhi Dwi Cahyo, Kepala Instalasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) RS Kanker Dharmais hadir mewakili RSKD pada sesi penjurian dengan membawakan tema ‘Driving Operational Excellence through Intelligent Digital Transformation’.
RKSD diketahui merupakan rumah sakit pusat kanker nasional yang mengutamakan pelayanan Precision Treatment dan menjunjung tinggi nilai-nilai perusahaan, yakni Procare CS (Profesional, Care, Continuous Improvement dan Synergy) dan BerAKHLAK (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif).
“Rumah Sakit Kanker Dharmais itu di bawah Kementerian Kesehatan. Jadi, kami juga mengikuti turunan nilai-nilai dari Kementerian Kesehatan,” ujar Yudhi di hadapan dewan juri, Senin, 10 November 2025.
Seperti rumah sakit pada umumnya, RSKD memiliki aktivitas operasional antara lain layanan rawat, rawat inap, dan layanan operasi.
“(Namun) karena kami rumah sakit kanker, kebanyakan kita menerima pasien rujukan dari pasien seluruh Indonesia, khususnya untuk kanker. Jadi, kami tidak melayani penyakit-penyakit selain kanker,” ujarnya.
Sebagai rumah sakit khusus kanker, RSKD memiliki sejumlah program unggulan, seperti NAPAK (Navigasi Pasien Kanker) — sebuah program pendampingan pasien dari awal diagnosis hingga tahapan pengobatan.
“Banyak pasien yang bingung harus mulai dari mana. Lewat NAPAK, mereka mendapatkan pendampingan penuh agar perjalanan pengobatan lebih terarah,” jelas Yudhi.
Selain itu, layanan homecare dan paliatif menjadi salah satu pilar penting. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker stadium lanjut, dengan perawatan di rumah atau dalam bentuk dukungan paliatif.
Transformasi Digital
Transformasi digital di RS Kanker Dharmais tidak terjadi seketika. Proses ini dimulai pada tahun 2016, ketika rumah sakit memutuskan untuk berhenti bergantung pada vendor eksternal dan mulai mengembangkan sistem informasi secara in-house.
“Direktur kami saat itu mengambil keputusan berani: berhenti pakai vendor, dan mulai bikin sistem sendiri. Dari situlah transformasi digital Dharmais dimulai,” kenang Yudhi.
Langkah itu melahirkan sistem terintegrasi yang kini menjadi tulang punggung operasional rumah sakit. Dari Sistem Pendaftaran dan Billing (SIMpel), Sistem Kepegawaian (SIMPEG), hingga Electronic Medical Record (EMR) yang diluncurkan pada 2019 — semuanya dibangun oleh tim internal yang kini berjumlah 33 orang, terdiri dari programmer, IT support, dan network administrator.
Seluruh sistem terhubung dalam satu basis data dan melayani berbagai kebutuhan, mulai dari front office, back office, hingga interaksi langsung dengan pasien melalui kiosk pendaftaran mandiri, mobile apps, dan notifikasi WhatsApp.
Tata Kelola IT
Sebagai institusi di bawah Kementerian Kesehatan dengan status Badan Layanan Umum (BLU), RSKD memiliki fleksibilitas dalam mengelola anggaran, namun tetap mematuhi prinsip akuntabilitas publik. Anggaran IT dialokasikan sebesar 1–2% dari total anggaran rumah sakit.
Dalam pelaksanaan pengembangan, Dharmais menggunakan metodologi Scrum dan platform JIRA untuk pelacakan proyek. Setiap keluhan pengguna pun tercatat melalui aplikasi internal bernama HELP SIMRS, yang mengelola laporan kerusakan hardware maupun software secara sistematis.
Untuk memastikan arah strategis tetap terukur, investasi IT disusun dalam rencana dua tahun sebelumnya dan disesuaikan dengan Rencana Strategis (Renstra) lima tahunan rumah sakit. Strategi bisnisnya berpegang pada konsep “Survive, Serve, and Sustain” — bagaimana rumah sakit tetap produktif, memberi layanan berkualitas, dan menjaga kesehatan finansial di tengah dinamika dunia kesehatan yang serba tidak pasti (VUCA: Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous).
Salah satu tonggak penting dalam perjalanan digital Dharmais adalah insiden ransomware tahun 2017. Alih-alih menjadi kemunduran, kejadian itu justru menjadi titik balik untuk memperkuat pertahanan siber.
“Kami belajar banyak dari insiden 2017. Dari situ kami sadar, sistem bagus saja tidak cukup, harus dibentengi dengan keamanan yang kuat,” kata Yudhi yang pada sesi penjurian ini juga didampingi oleh Indri Dwi Erfianty – Staff System Analyst dan dr Giovanni Angasta Ongo – Staff Unit Perencanaan.
Saat ini, RSKD diketahui memiliki infrastruktur keamanan berlapis. Selain itu, rumah sakit juga tengah membentuk Tim CSIRT (Computer Security Incident Response Team) dan menerapkan Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI) sesuai panduan BSSN. Penilaian Digital Maturity Index dari Kemenkes menunjukkan skor 4,67.
Inovasi Bisnis
Memasuki tahun 2025, Dharmais memasuki babak baru dengan pembangunan Gedung Eksekutif Cendana, hasil kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dan Islamic Development Bank (IsDB). Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah agar rumah sakit Kemenkes tidak hanya fokus pada pasien BPJS, tetapi juga membuka layanan eksekutif.
“Selama ini kami sibuk melayani pasien BPJS. Dengan Gedung Cendana, kami belajar bagaimana memberi pengalaman berbeda bagi pasien eksekutif, tanpa meninggalkan semangat pelayanan publik,” jelas Yudhi.
Gedung ini akan dilengkapi berbagai inovasi digital:
• Kiosk Self-Registration dengan OCR: pasien cukup memindai KTP untuk pendaftaran mandiri.
• Sistem Antrian Terpadu: satu nomor untuk semua layanan, dari pendaftaran hingga farmasi.
• Integrasi Alat Medis: menghubungkan vital sign, patient monitor, dan farmasi untuk mewujudkan precision treatment real-time.
Selanjutnya, Yudhi juga mengungkap bahwa RSKD tengah mengembangkan Dharmais AI, serta appointment via WhatsApp.
Tidak berhenti sampai di situ, RSKD juga memiliki solusi bisnis bernama Antrian Farmasi terintegrasi dengan E-Resep yang telah diimplementasikan pada tahun 2024. Setiap harinya terdapat sekitar 1500 pasien rawat jalan. Sekitar 60-70% setiap kunjungan ada obat. Seperti kebutuhan obat kemo rutin dll. Mengakibatkan antrian resep cukup banyak. Maka dibutuhkan inovasi untuk mempercepat pelayanan obat di RSK Dharmais.
Solusi ini memiliki fitur unggulan di mana ketika ada E-Resep pasien akan otomatis dapat nomor antrian via WhatsApp. Di waktu bersamaan tanpa perlu pasien konfirmasi, obat langsung di proses oleh Farmasi. Ketika obat sudah siap maka pasien juga dapat info via WhatsApp. sehingga pasien tidak perlu menunggu di area Farmasi.
Solusi lain yang juga dikembangkan RSKD secara internal adalah Sistem Informasi Remunerasi Medis (SIREMDIS) yang telah diimplementasikan sejak tahun 2023.














