ItWorks.id- Sebuah platform internasional baru untuk teknologi rantai pasok end-to-end, logistik, dan intralogistik resmi diluncurkan di Jakarta seiring meningkatnya permintaan di seluruh Indonesia, dan dijadwalkan menggelar debut perdananya pada 25–27 November 2026 di Nusantara International Convention & Exhibition (NICE), PIK 2, Jakarta.
Peluncuran resmi Indonesia Supply Chain Exhibition & Conference Powered by CeMAT and CargoNOW diumumkan hari ini 930/04/2026), dalam sebuah acara peluncuran yang diselenggarakan di The Westin- Jakarta. Diselenggarakan oleh Deutsche Messe, Debindo Global Expo, dan CargoNOW, acara ini menandai hadirnya platform internasional baru yang dirancang untuk memperkuat ekosistem rantai pasok dan logistik Indonesia pada fase pertumbuhan yang krusial.
Peluncuran ini juga menandai kembalinya CeMAT ke Jakarta, yang menghubungkan sektor rantai pasok Indonesia dengan salah satu platform paling mapan di dunia dalam bidang intralogistik, otomasi, dan inovasi logistik.
Acara ini dijadwalkan berlangsung pada 25–27 November 2026 di Nusantara International Convention & Exhibition (NICE – PIK 2), Jakarta, Indonesia Supply Chain akan mempertemukan produsen, penyedia logistik, perusahaan teknologi, operator logistik dan kargo, bisnis e-commerce, serta pemangku kepentingan pemerintah dari seluruh Indonesia dan kawasan ASEAN.
Wadah Kolaborasi Pelaku Industri Nasional dan Global
Indonesia Supply Chain Exhibition & Conference dirancang sebagai wadah pertemuan berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri, mulai dari produsen, penyedia jasa logistik, perusahaan teknologi, operator kargo, pelaku e-commerce, hingga instansi pemerintah dari Indonesia dan kawasan ASEAN.
Pameran ini akan menampilkan beragam solusi terintegrasi yang mencakup transportasi dan logistik, pergudangan dan material handling, teknologi rantai pasok, dukungan manufaktur, keberlanjutan, infrastruktur, logistik e-commerce, hingga sektor khusus seperti cold chain dan rantai pasok farmasi.
Kehadiran platform ini dinilai tepat waktu, seiring posisi Indonesia yang kini menjadi salah satu pasar logistik dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.
Indonesia Butuh Sistem Logistik Modern
Pesatnya ekspansi industri, melonjaknya transaksi e-commerce, serta pembangunan infrastruktur nasional mendorong kebutuhan akan sistem rantai pasok yang semakin efisien dan tangguh.
Pemerintah sendiri terus mempercepat transformasi sektor logistik melalui sejumlah kebijakan strategis, salah satunya National Logistics Ecosystem (NLE) yang menyederhanakan proses pelabuhan dan kepabeanan. Selain itu, pembangunan pelabuhan baru, jaringan jalan tol, dan kawasan industri baru turut mengubah pola distribusi barang di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, pasar e-commerce Indonesia yang diproyeksikan menembus USD 100 miliar dalam beberapa tahun ke depan menuntut hadirnya solusi pergudangan modern, otomasi, serta layanan last-mile delivery yang lebih cepat dan efisien.
Meski demikian, tantangan besar masih dihadapi. Biaya logistik Indonesia saat ini masih tergolong tinggi, diperkirakan melebihi 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi tersebut menjadi alasan kuat perlunya percepatan penerapan teknologi dan integrasi rantai pasok nasional.
Indonesia Supply Chain hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut dengan menghadirkan teknologi internasional, sistem otomasi, serta solusi logistik digital yang dapat diadopsi pelaku usaha di Indonesia.
Penyelenggara: Indonesia Sudah Siap Jadi Hub Rantai Pasok Regional
Senior Commercial Director APAC Hannover Fairs Australia and Asia Pacific, Mike Nissen, mengatakan Indonesia kini lebih dari siap memiliki platform internasional berskala besar yang mampu menghubungkan industri lokal dengan keahlian global.
“Indonesia Supply Chain merupakan langkah besar bagi sektor logistik dan rantai pasok di kawasan ini. Indonesia lebih dari siap untuk memiliki platform internasional sebesar ini, yang menghubungkan industri lokal dengan keahlian global serta menghadirkan solusi nyata bagi tantangan operasional sehari-hari,” ujarnya dalam paparan pers.
Ia menambahkan, pihaknya bangga dapat membawa kembali jaringan acara CeMAT dan Hannover Messe ke Jakarta melalui kerja sama dengan Debindo dan CargoNOW.
Sementara itu, Director of Debindo Global Expo, Rafidi Iqra, menilai Indonesia Supply Chain 2026 akan menjadi platform lintas industri yang memperkuat kolaborasi antar pelaku usaha di sektor rantai pasok sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut dia, digitalisasi dan efisiensi akan menjadi faktor utama dalam meningkatkan daya saing industri logistik Indonesia ke depan.
Senada, President The Logistics & Supply Chain Management Society, Dr. Raymon Krishnan, menyebut Indonesia saat ini berada pada titik krusial dalam pengembangan logistik nasional.“Dengan biaya logistik yang melebihi 20 persen dari PDB, peluncuran Indonesia Supply Chain menjadi intervensi penting bagi ketahanan ekonomi nasional,” katanya.
Ia menegaskan, kehadiran jaringan CeMAT, CargoNOW, dan LogiSYM di Jakarta akan membawa teknologi serta otomasi berkualitas tinggi yang dibutuhkan untuk memodernisasi infrastruktur logistik Indonesia.
Soroti AI, Robotik, hingga Forum Eksekutif
Dalam penyelenggaraan perdananya nanti, Indonesia Supply Chain akan menghadirkan sejumlah program unggulan, di antaranya:
- Showcase teknologi internasional dan demonstrasi produk langsung
- Solusi otomasi dan robotika untuk gudang modern
- Solusi transportasi multimoda dan logistik terpadu
- Sistem digital berbasis AI, IoT, dan data analytics untuk pengambilan keputusan real-time
- Forum perdagangan lintas negara dan penjajakan kemitraan bisnis
- Konferensi eksekutif dan forum kepemimpinan industri melalui LogiSYM Indonesia 2026
Forum LogiSYM Indonesia 2026 akan mempertemukan para pemimpin industri, praktisi, dan pengambil kebijakan untuk membahas masa depan logistik, perdagangan, dan transformasi rantai pasok di kawasan ASEAN.
Indonesia Masuk Radar Jaringan Industri Global
Indonesia Supply Chain juga menjadi bagian dari jaringan industri global Hannover Messe, platform paling berpengaruh di dunia dalam bidang manufaktur maju, otomasi, logistik, dan Industry 4.0.
Keterlibatan dalam jaringan tersebut menempatkan Indonesia dalam ekosistem bisnis global yang mencakup Eropa, Timur Tengah, Asia Pasifik, hingga Amerika. Ini sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha nasional untuk menjalin kemitraan lintas negara, mengakses inovasi terbaru, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat logistik baru di kawasan.















