ItWorks.id- Survei global terbaru yang dilakukan pusat riset pasar Kaspersky pada November 2025 menunjukkan, 81% responden percaya digitalisasi akan secara fundamental mengubah aktivitas keluarga dalam satu dekade ke depan seiring makin banyaknya perangkat elektronik dalam rumah tangga yang dilengkapi teknologi pintar, machine learning, AI dan IoT. Perubahan ini mencerminkan masa depan di mana kebersamaan keluarga semakin dipengaruhi oleh teknologi canggih, dengan norma baru yang terus terbentuk.
Salah satu gambaran paling nyata adalah meningkatnya peran AI dalam aktivitas keseharian di tengah keluarga. Hampir 48% responden global membayangkan aktivitas dongeng pengantar tidur menggunakan perangkat berbasis AI yang kian menjadi kebiasaan baru. Angka ini bahkan lebih tinggi di Indonesia, mencapai 58%, terutama di kalangan usia muda 18–34 tahun. Aplikasi dan perangkat pintar kini mampu menghadirkan cerita dengan narasi AI, karakter yang dapat disesuaikan, serta alur cerita interaktif.
Bagi orang tua yang sibuk, teknologi ini dinilai membantu. Namun bagi anak-anak, AI bisa menjadi pendongeng digital yang “selalu ada”. Di sisi lain, 31% keluarga di Indonesia memprediksi anak-anak akan lebih memilih hewan peliharaan digital dibandingkan hewan peliharaan sungguhan di masa depan.
Meski menawarkan kemudahan, Kaspersky mengingatkan pentingnya kewaspadaan. Interaksi anak dengan AI—baik untuk hiburan maupun pembelajaran—perlu didampingi secara aktif oleh orang tua. Pemilihan layanan dengan kebijakan privasi yang kuat menjadi krusial, terutama yang tidak menyalahgunakan data atau rekaman suara anak.
Orang tua juga disarankan memperlakukan AI sebagai “taman bermain digital” baru. Artinya, penggunaan kontrol orang tua untuk membatasi durasi, memilih platform yang sesuai usia, serta membangun dialog terbuka dengan anak tentang bagaimana AI bekerja menjadi langkah penting. Anak perlu memahami bahwa AI adalah alat, bukan pengganti hubungan manusia.
Perubahan juga terlihat dalam cara keluarga merayakan momen kebersamaan. Sekitar 43% responden global memprediksi perayaan keluarga, seperti ulang tahun, akan lebih sering dilakukan melalui panggilan video. Di Indonesia, angkanya bahkan mencapai 49%. Tak berhenti di situ, 26% responden membayangkan liburan keluarga sepenuhnya berlangsung di dunia realitas virtual—sebuah konsep yang dulu terdengar fiksi ilmiah, namun kini semakin realistis.
Di balik semua inovasi tersebut, muncul tantangan baru di ranah keamanan. Survei yang sama mencatat 43% responden memperkirakan robot rumah akan menjadi bagian dari keluarga di masa depan, tidak sekadar asisten suara atau penyedot debu otomatis, melainkan pendamping AI yang dapat bermain, membimbing, bahkan menemani anak.
Namun, setiap perangkat pintar—mulai dari headset VR hingga robot rumah—juga berpotensi menjadi celah keamanan. Kaspersky menekankan pentingnya langkah dasar seperti mengganti kata sandi bawaan, memperbarui firmware secara berkala, serta memisahkan jaringan perangkat pintar dari jaringan utama rumah.“Seiring AI, robot, dan VR menjadi bagian dari lingkaran keluarga, keamanan digital harus menjadi fondasi sejak awal, bukan sekadar tambahan,” demikian pesan Kaspersky dalam rilis pers (06/02/2026).
Dalam kaitan ini, solusi keamanan yang mampu memantau perangkat rumah pintar secara menyeluruh dinilai penting untuk mencegah risiko siber di ruang paling privat: rumah. Pada akhirnya, laju teknologi tidak serta-merta menjauhkan keluarga, melainkan mendefinisikan ulang ruang kebersamaan. Masa depan yang dibayangkan adalah perpaduan dunia fisik dan digital—dari kakek-nenek yang hadir di pesta ulang tahun melalui teknologi canggih hingga anak-anak yang merawat hewan peliharaan digital bersama saudara di belahan dunia lain.
Tantangan terbesar sekaligus peluangnya terletak pada bagaimana keluarga membangun lingkungan digital yang aman, saling menghormati, dan berorientasi pada tujuan, sehingga teknologi benar-benar menjadi alat yang mendekatkan, bukan memisahkan.














