ItWorks.id- Semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini terus menemukan relevansinya di era digital. Meski peringatan Hari Kartini telah berlalu, semangat perjuangan perempuan tetap hidup, tak terkeculai dalam kiprahnya di bidang ICT (Information and Communication Technology) dan digital .
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), perempuan kini didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga garda terdepan dalam menjaga ketahanan digital. Hal inilah yang digaungkan oleh Indonesia Women in Cybersecurity (IWCS).
Meski peringatan Hari Kartini telah berlalu, semangat perjuangan perempuan tetap hidup. IWCS melihat momentum ini sebagai pijakan untuk mendorong lahirnya “Kartini Digital”—perempuan yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran dan kemampuan dalam menjaga keamanan digital di lingkungannya.
Perempuan di Garis Depan Ketahanan Digital
Indonesia saat ini memiliki lebih dari 200 juta pengguna internet. Dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang cukup besar tersebut, peluang di ruang digital kian terbuka lebar. Namun di sisi lain, risiko seperti penipuan daring, penyalahgunaan data pribadi, hingga ancaman terhadap anak juga semakin meningkat. Kondisi ini menuntut peningkatan literasi keamanan digital, terutama di tingkat keluarga.

IWCS menilai, perempuan—khususnya ibu—memegang peran strategis dalam membangun ketahanan digital dari lingkup terkecil. Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum memiliki bekal memadai untuk mendampingi anak menghadapi kompleksitas dunia digital.
Memasuki usia lima (5) tahun, IWCS menjadikan momentum ini sebagai refleksi sekaligus penguatan komitmen. Sejak berdiri, organisasi ini konsisten mengembangkan program edukasi, advokasi, dan pemberdayaan perempuan di bidang keamanan siber. Tidak hanya fokus pada aspek teknis, IWCS juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis keluarga dalam membangun kesadaran digital.
Upaya perlindungan anak di ruang digital juga semakin diperkuat dengan hadirnya PP Tunas. Regulasi ini menekankan pentingnya kolaborasi seluruh ekosistem, mulai dari platform digital hingga keluarga. Namun, IWCS menilai bahwa keberhasilan implementasi tetap bergantung pada kesiapan masyarakat.
Hadrikan Program “Perempuan Pelita Digital”.
Sebagai langkah konkret, IWCS menghadirkan program “Perempuan Pelita Digital”. Inisiatif ini bertujuan menjadikan perempuan sebagai agen perubahan sekaligus sumber penerang dalam ekosistem digital. Program tersebut mencakup edukasi bagi ibu dan komunitas, mentorship bagi perempuan muda, serta program Cyber Safe Kids untuk anak-anak.
Founder sekaligus Ketua IWCS, Eva Noor, menegaskan bahwa keamanan digital tidak selalu berkaitan dengan hal teknis yang rumit. “Seringkali cybersecurity dianggap kompleks, padahal banyak risiko justru berawal dari hal sederhana seperti mengklik tautan yang salah atau kurangnya komunikasi dalam keluarga,” ujarnya, kepad wartawan, (2/5/2026), di Jakarta.
Ia menambahkan, keamanan digital sejatinya dimulai dari rumah, dengan perempuan sebagai pengarah sekaligus pelindung dalam keluarga. Menurutnya, regulasi seperti PP Tunas perlu diimbangi dengan pemahaman masyarakat agar perlindungan anak di ruang digital benar-benar berjalan efektif.
Melalui berbagai programnya, IWCS berupaya menerjemahkan semangat Kartini ke dalam aksi nyata. Mulai dari edukasi komunitas, pendampingan perempuan muda, hingga sosialisasi di sekolah, semua diarahkan untuk membangun ekosistem digital yang lebih aman.
Ke depan, IWCS menargetkan perluasan jangkauan program ke berbagai daerah di Indonesia. Harapannya, semakin banyak perempuan yang terlibat aktif dan menjadi bagian dari gerakan ketahanan digital nasional.
Pada akhirnya, masa depan digital yang aman tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan manusia dalam menggunakannya secara bijak. Di era ini, setiap perempuan memiliki peluang untuk menjadi Kartini Digital—menghubungkan, melindungi, sekaligus memberdayakan diri di era keterbukaan informasi menembus tanpa batas, termasuk peluang mengembangkan potensi ekonomi.














