ItWorks.id- Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang semakin pesat mendorong peningkatan kebutuhan akan AI data center sebagai infrastruktur utama pengolahan dan penyimpanan data. Di balik perannya dalam mendukung transformasi digital, pembangunan pusat data AI juga menghadirkan implikasi sosial, lingkungan, dan tata kelola yang perlu diantisipasi melalui kebijakan yang tepat.
Dalam kaitan ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penyusunan kebijakan yang responsif dan berkelanjutan untuk mengantisipasi berbagai dampak dari perkembangan AI data center yang semakin pesat di Indonesia.
Kepala Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, Yanuar Farida Wismayanti, mengatakan perhatian terhadap kecerdasan artifisial (AI) tidak cukup hanya berfokus pada pemanfaatannya di berbagai sektor, tetapi juga harus mencakup aspek pendukung seperti keamanan data, infrastruktur digital, dan pusat data AI.“Selain dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, pengembangan AI data center juga memiliki dampak sosial dan lingkungan yang perlu menjadi perhatian,” ujar Yanuar dalam forum ELABORASI Special #20 yang digelar BRIN (03/06), di Jakarta, dirilis Humas BRIN, baru-baru ini.
Menurutnya, meningkatnya penggunaan AI membuat diskusi mengenai tata kelola pusat data AI menjadi semakin penting untuk memperkaya perspektif peneliti dan pembuat kebijakan dalam merumuskan strategi pembangunan yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN Cahyo Trianggoro menyoroti tantangan akuntabilitas dalam ekosistem AI karena tanggung jawab penggunaan teknologi tersebut tersebar di berbagai pihak, mulai dari pengembang hingga penyedia layanan. Ia juga mengingatkan potensi kesenjangan akses akibat dominasi pengembangan AI generatif oleh organisasi yang memiliki sumber daya besar.
Selain itu, Cahyo menekankan pentingnya memperhatikan aspek etika dalam rantai pasok teknologi AI, termasuk penggunaan sumber daya alam, kondisi ketenagakerjaan, serta dampak lingkungan akibat tingginya kebutuhan energi dan air untuk operasional AI data center.
Untuk itu, BRIN mendorong penerapan tata kelola AI yang bertanggung jawab melalui peningkatan transparansi penggunaan data, pemanfaatan model AI yang lebih efisien, penerapan prinsip FAIR (Findable, Accessible, Interoperable, Reusable), perlindungan tenaga kerja, serta analisis dampak sosial dan lingkungan pada proyek AI berskala besar.
Sementara itu, Assistant Professor of Sustainability and Enterprise Arizona State University, Kris Hartley, menilai AI data center merupakan manifestasi fisik perkembangan AI yang menghadirkan tantangan kebijakan terkait kebutuhan energi, penggunaan air, tata ruang, hingga penerimaan masyarakat terhadap pembangunan pusat data.
Melalui forum ELABORASI Special #20, BRIN berharap dialog berbasis riset dapat membantu para pemangku kepentingan merumuskan kebijakan AI yang inovatif, inklusif, transparan, dan berkelanjutan guna mendukung pembangunan infrastruktur digital yang bertanggung jawab di Indonesia.














