ItWorks.id- Pelecehan dan penyalahgunaan yang difasilitasi teknologi tidak hanya berdampak di ruang digital, tetapi juga menimbulkan konsekuensi nyata pada kehidupan korban. Laporan terbaru perusahaan keamanan siber-Kaspersky mengungkapkan bahwa lebih dari separuh korban di kawasan Asia Pasifik mengalami perubahan perilaku dan gangguan dalam kehidupan sosial akibat pelecehan digital.
Berdasarkan studi yang melibatkan 7.600 responden di 19 negara, sekitar 80 persen responden Asia Pasifik mengakui bahwa pelecehan digital dapat memicu dampak psikologis dan sosial, seperti trauma, depresi, stres berkepanjangan, hingga kerusakan reputasi dan isolasi sosial.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa 55 persen korban menjadi lebih berhati-hati saat beraktivitas di dunia maya, 25 persen mengurangi kehadiran digital mereka, 18 persen membatasi komunikasi dengan teman atau keluarga, dan 12 persen bahkan mengakhiri hubungan. Dalam kasus yang lebih serius, 4 persen korban mengaku kehilangan atau meninggalkan pekerjaan, sementara 3 persen terpaksa putus sekolah.
Meski dampaknya signifikan, banyak korban tidak mencari bantuan. Sebanyak 13 persen korban di Asia Pasifik mengaku tidak mengambil tindakan apa pun setelah mengalami pelecehan digital. Fenomena serupa juga terjadi pada para saksi, di mana 9 persen responden yang mengetahui adanya pelecehan terhadap orang lain memilih untuk tidak bertindak.
Peneliti Keamanan Utama Kaspersky, Tatyana Shishkova, mengatakan banyak korban tidak bertindak bukan karena tidak peduli, melainkan karena tidak mengetahui ke mana harus mencari bantuan. “Orang-orang menyadari dampak emosional dari pelecehan digital, tetapi masih meremehkan konsekuensinya terhadap karier, pendidikan, dan hubungan di dunia nyata. Menutup kesenjangan ini melalui peningkatan kesadaran, akses terhadap alat perlindungan, dan panduan yang jelas menjadi sangat penting,” ujarnya yang dirilis, baru-baru ini.
Sementara itu, Leonie Maria Tanczer menilai masih terdapat kesenjangan akuntabilitas dalam menangani penyalahgunaan berbasis teknologi. Menurutnya, perubahan tidak hanya bergantung pada pemerintah dan platform digital, tetapi juga pada kesadaran individu untuk mengenali dan merespons perilaku berbahaya sebelum menjadi hal yang dianggap normal.
Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menambahkan bahwa meningkatnya ancaman berbasis teknologi merupakan realitas yang harus dihadapi bersama. Ia menekankan pentingnya peningkatan kesadaran, penguatan pertahanan siber, dan tanggung jawab kolektif untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman.
Sebagai langkah pencegahan, Kaspersky mengimbau masyarakat untuk mengenali tanda-tanda pelecehan digital sejak dini, menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor, membatasi akses ke perangkat dan akun pribadi, serta segera mencari dukungan jika menjadi korban atau menyaksikan tindakan pelecehan di ruang digital.














