ItWorks.id- PT BPR Bank Jombang Perseroda terus memperkuat transformasi digital dengan
memanfaatkan artificial intelligence (AI) dan mengembangkan berbagai aplikasi digital
untuk mendukung proses bisnis, layanan nasabah, manajemen risiko hingga digitalisasi
transaksi pemerintah desa.
Transformasi digital tersebut mulai memberikan dampak terhadap skala bisnis Bank
Jombang. Dari BPR yang sebelumnya memiliki aset sekitar Rp 30 miliar, dalam delapan
tahun Bank Jombang telah berkembang menjadi bank dengan aset sekitar Rp 1,2 triliun dan
melayani lebih dari 100 ribu nasabah.
Direktur Bisnis dan Operasional BPR Bank Jombang, Dr. H. Adam Joyo Pranoto, S.Kom.,
M.E., mengatakan, transformasi digital menjadi bagian dari upaya Bank Jombang
membangun BPR yang sehat, aman dan berdaya saing.
“Untuk ukuran sebuah BPR, ini menjadi sebuah milestone buat kami. Sebuah perubahan di
mana kami juga melakukan pemasaran digital. Apalagi di era AI saat ini, kami juga
memanfaatkan AI di beberapa lini bisnis,” ujar Adam dalam presentasi penjurian TOP Digital
Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Senin (5/10/2026).
Salah satu pemanfaatan AI yang dilakukan Bank Jombang ada di proses analisis kredit.
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu memberikan rekomendasi kepada analis
sehingga proses pengolahan informasi calon debitur dapat dilakukan lebih cepat dan
terstruktur.
Pemanfaatan AI tersebut terintegrasi dalam Loan Origination System (LOS), yang
dikembangkan secara internal untuk mendigitalisasi proses pengajuan hingga persetujuan
kredit.
Dalam penerapannya, AI tidak mengambil alih keputusan kredit. Teknologi tersebut
berfungsi sebagai alat bantu bagi analis dan pejabat yang berwenang. “AI ditempatkan
sebagai decision support, sedangkan keputusan kredit tetap berada pada pejabat yang
memiliki kewenangan,” ujarnya.
Arif Widodo, Kasubag Teknologi Informasi Bank Jombang menambahkan, pemanfaatan
teknologi di Bank Jombang dilakukan dengan melihat kebutuhan dari unit-unit kerja terlebih
dahulu.“Kami menangkap kebutuhan dari teman-teman, kemudian kami lakukan identifikasi kira-
kira apa yang bisa kami bantu,” kata Arif.
Dari proses tersebut, kebutuhan bisnis kemudian diterjemahkan menjadi pengembangan
sistem. Bank Jombang memiliki beberapa pola pengembangan teknologi, mulai dari
membangun aplikasi secara internal, melakukan integrasi dengan sistem lain, hingga bekerja
sama dengan mitra teknologi.
Arif mengatakan, pendekatan tersebut membuat fungsi TI tidak berjalan sendiri, melainkan
tetap mengikuti kebutuhan bisnis. “Setelah kami mendapatkan kebutuhan, baru kami
melakukan project planning,” ujarnya.
Beragam Inovasi Digital
Selain pemanfaatan AI, inovasi lain yang dikembangkan Bank Jombang adalah aplikasi
SIGMA atau Sistem Informasi Monitoring dan Manajemen Risiko Kredit.
Aplikasi tersebut digunakan untuk memantau NPL atau kredit macet, kondisi kredit, serta
berbagai informasi yang dibutuhkan manajemen.
SIGMA memungkinkan pengguna memperoleh informasi secara lebih cepat melalui satu
sistem. “Kalau kita butuh proses dan sebagainya, dengan ini kita cukup sekali klik, itu sudah
tampil semuanya,” kata Arif.
Menurut dia, integrasi berbagai informasi membuat proses monitoring menjadi lebih mudah.
Data yang sebelumnya membutuhkan proses pengumpulan dari sejumlah sumber dapat
ditampilkan melalui sistem yang telah terintegrasi.
Bagi manajemen, kondisi tersebut penting karena informasi mengenai kualitas kredit dapat
digunakan sebagai dasar untuk melakukan evaluasi dan menentukan langkah tindak lanjut.
Bank Jombang mengembangkan sejumlah kanal, antara lain my Bank Jombang, ATM/CRM
cardless, WhatsApp Banking Mas Bjo dan e-Wallet Jombang Kita.
Aplikasi my Bank Jombang menyediakan berbagai layanan, mulai dari pengecekan saldo dan
mutasi, transfer, pembayaran hingga tarik tunai cardless. Bank Jombang terus memperkuat
aplikasi tersebut sebagai bagian dari strategi menghadirkan layanan yang lebih cepat, praktis
dan aman.
Sementara itu, WhatsApp Banking Mas Bjo menjadi kanal layanan yang memanfaatkan
chatbot AI untuk membantu menjawab kebutuhan informasi nasabah maupun calon nasabah.
Bagi Arif, integrasi berbagai sistem tersebut memberikan manfaat bukan hanya pada sisi
layanan, tetapi juga pada efisiensi kerja internal. “Karena beberapa layanan kami integrasi
satu sama lain, sehingga proses di aplikasi SIGMA ini akan lebih mudah, lebih enak disajikan
kepada seluruh pejabat,” katanya.
Bank Jombang juga memiliki Sibegawan, aplikasi mobile kepegawaian yang dikembangkan
sejak 2020. Aplikasi ini digunakan seluruh karyawan untuk melakukan presensi sekaligus
memonitor aktivitas pegawai secara real time.
Sibegawan dilengkapi fitur face recognition dan deteksi lokasi untuk presensi, KPI,
perizinan, rekap gaji, serta pengajuan lembur. Sistem tersebut juga digunakan untuk
memonitor aktivitas marketing, kunjungan kolektor atau penagihan, realisasi marketing,
hingga layanan operasional.
Dengan sistem tersebut, Bank Jombang tidak hanya memperoleh data kehadiran pegawai,
tetapi juga data aktivitas yang dapat digunakan sebagai bahan monitoring dan evaluasi
kinerja.
Selanjutnya ada digitalisasi administrasi internal dilakukan melalui SIPAS (Sistem Informasi
Persetujuan Online dan Surat Menyurat) yang dikembangkan pada 2024.
SIPAS digunakan untuk pembuatan surat internal, pengelolaan surat masuk dan disposisi,
persetujuan surat, serta penyimpanan histori surat. Sistem ini digunakan oleh sekretaris, unit
kepatuhan, dan direksi.
Bank Jombang mencatat SIPAS membantu mempercepat proses persetujuan dan disposisi
surat secara digital, mengurangi proses manual, memudahkan monitoring status serta riwayat
surat, dan meningkatkan keterlacakan proses persetujuan. Sistem tersebut sekaligus
mendukung penerapan paperless office.
Sementara itu, untuk pengendalian risiko dan keamanan transaksi, Bank Jombang
mengembangkan Monica, Fraud Detection System (FDS) yang mulai diterapkan sejak 2022.
Aplikasi Monica menggunakan parameter deteksi berdasarkan jenis channel dan transaksi
pada core banking system (CBS).
Ketika terdapat transaksi yang terindikasi suspect fraud,
sistem dapat memberikan notifikasi kepada tim deteksi fraud untuk ditindaklanjuti.
Menurut Bank Jombang, sistem tersebut mendukung deteksi dini transaksi yang terindikasi
fraud, memusatkan monitoring transaksi dari berbagai channel, serta mempercepat
identifikasi dan tindak lanjut oleh tim terkait.
Inovasi digital Bank Jombang juga tidak hanya diarahkan kepada nasabah dan internal
perusahaan. Bank Jombang mengembangkan Siskeudes Non Tunai Desa untuk mendukung
pengelolaan transaksi dana desa di Kabupaten Jombang.
“Di Jombang itu ada 302 desa, 21 kecamatan dan kami mengelola dana desa kurang lebih
hampir Rp 600 miliar dalam setahun,” ujar Adam.
Melalui Siskeudes Non Tunai Desa, transaksi dapat dilakukan secara non-tunai melalui
mekanisme persetujuan berjenjang. Sistem tersebut juga terhubung dengan ekosistem
pemerintah daerah dan Siskeudes-Link Kemendagri.
Sistem tersebut dirancang untuk memudahkan pemerintah desa mengelola dan melakukan
transaksi dana desa secara digital, mempercepat pembayaran pajak daerah dan negara secara
real time, sekaligus meningkatkan transparansi dan keterlacakan transaksi.
Adam menilai digitalisasi tersebut menjadi bentuk kontribusi TI terhadap kebutuhan
masyarakat dan pemerintah daerah.
Bank Jombang juga melakukan monitoring terhadap iBnfrastruktur teknologi, termasuk server
dan layanan digital. Review terhadap layanan dilakukan secara berkala untuk memastikan
sistem tetap berada dalam kondisi optimal.
Pengembangan Talenta Digital
Bank Jombang juga menempatkan pengembangan kompetensi SDM sebagai bagian penting
dari transformasi digital. Jumlah karyawan Bank Jombang meningkat dari 116 orang pada
2025 menjadi 126 orang pada 2026.
Untuk mendukung transformasi digital, Bank Jombang memiliki dua talenta di bidang
data/AI/analytics dan dua talenta di bidang cyber security/infrastruktur.
Pada 2026, sebanyak lima SDM juga telah memiliki sertifikasi terkait teknologi informasi,
AI, cyber, dan data, yang terdiri atas dua sertifikasi BSNP Pengelolaan Data Center, dua
BNSP Cyber Security Analyst, dan satu BNSP IT Auditor.
Program pengembangan talenta Bank Jombang juga diarahkan pada pembentukan digital
mindset dan budaya inovasi, peningkatan AI, data literacy dan cybersecurity awareness,
reskilling dan upskilling, kolaborasi lintas fungsi, sertifikasi digital, serta knowledge sharing
dan continuous learning.
Bank Jombang kini telah memiliki Divisi TI yang dipimpin pejabat eksekutif dan independen
sesuai POJK 34/2025. Bank Jombang juga membentuk Komite Pengarah TI serta
melaksanakan dan mendokumentasikan self-assessment tingkat maturitas keamanan siber
sesuai PADK 43/2025.
“Walaupun dikasih waktu sampai dengan satu tahun, kami sudah melengkapi SDM yang
kami punya untuk memenuhi POJK 34,” kata Adam.
Menurut Arif, berbagai layanan digital yang dikembangkan perusahaan mendukung
peningkatan aktivitas transaksi Bank Jombang dengan nilai sekitar Rp 3 miliar per hari.
Dari sisi kinerja keuangan, Bank Jombang mencatat realisasi pendapatan 2025 sebesar sekitar
Rp 86,53 miliar dan laba bersih setelah pajak sekitar Rp 14,38 miliar. Target 2026 untuk
pendapatan sebesar Rp 145,85 miliar dan laba bersih Rp 16,13 miliar.
Keberhasilan menjalankan transformasi digital tersebut mengantarkan Bank Jombang
menjadi finalis TOP Digital Awards 2026. Dalam ajang yang sama tahun lalu, Bank Jombang meraih TOP Digital Implementation 2025
Stars 4 dan TOP CIO on Digital Implementation 2025 yang diberikan kepada Adam Joyo
Pranoto selaku Direktur Bisnis dan Operasional Bank Jombang. (NURDIAN )














