ItWorks.id- Pengadilan Agama Salatiga Kelas IB terus perkuat transformasi digital. Tak hanya berhenti pada pemanfaatan teknologi untuk mempercepat pekerjaan administrative, namun terus dikembangkan dengan smart technology, seperti artificial intelligence (AI) sebagai bagian dari upaya menghadirkan layanan peradilan yang lebih cepat, mudah, transparan dan terpercaya dengan dukungan sistem digital (Trusted Digital Justice).
Mengusung visi utama “Terwujudnya Pengadilan Agama Salatiga yang Agung”, PA Salatiga di bawah kepemimpinan – Muh. Safrani Hidayatullah, S.Ag., M.Ag. (Ketua Pengadilan Agama Salatiga), terus meneguhkan komitmen dan langkahnya menuju layanan terbaik melalui inovasi digital (transformasi digital). PA Salatiga terus bergerak “Dari Digitalisasi Layanan Menuju Trusted Digital Justice” sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mewujudkan Pengadilan Agama Salatiga yang Agung.
Hal tersebut terungkap dalam sesi presentasi dan wawancara penjurian TOP DIGITAL Awards 2026 yang diselenggarakan Majalah ItWorks (Madani Solusi Internasional-MSI Group) secara daring melalui aplikasi zoom meeting pada (06/09/2026). Presentasi dipaparkan langsung oleh Ketua Pengadilan Agama Salatiga, Muh. Safrani Hidayatullah, S.Ag., M.Ag., didampingi Wakil Ketua Hj. Nahdiyatul Ummah, S.Ag., M.H., Panitera, Sekretaris, serta sejumlah aparatur.
Smart Court Digital Signature
Dalam sesi penjurian tersebut, PA Salatiga memaparkan perkembangan transformasi digital, inovasi layanan, dampak terhadap kinerja dan pelayanan masyarakat, serta komitmen penguatan tata kelola, keamanan data, dan keberlanjutan inovasi menuju trusted digital justice. “Transformasi digitalisasi yang dilaksanakan PA Salatiga bukan semata-mata tentang berapa banyak aplikasi yang digunakan, melainkan bagaimana teknologi menghubungkan proses, data, aparatur dan masyarakat,” kata Safrani.
Digitalisasi yang dilakukan, di antaranya untuk meningkatkan kecepatan, efisiensi, transparansi, dan kualitas layanan peradilan. Salah satu inovasi unggulannya, Smart Court Digital Signature, bahkan disebut menjadi yang pertama diterapkan di Indonesia dan telah menjadi objek benchmarking sejumlah pengadilan agama.
Smart Court Digital Signature digunakan untuk mempercepat proses administrasi melalui tanda tangan elektronik. Sistem ini dapat digunakan aparatur PA Salatiga kapan saja dan di mana saja, sehingga mempercepat proses persetujuan, meningkatkan efisiensi waktu, sekaligus mengurangi penggunaan kertas.
Menurut Safrani, inovasi tersebut telah menjadi objek benchmarking PA Kudus pada 29 Juli 2025, PA Ngawi dan PA Ngamprah pada 15 Desember 2025, serta PA Luwuk pada 8 Juli 2026.
Selain Smart Court Digital Signature, PA Salatiga mengembangkan SIMPATI (Sistem Informasi Monitoring Pemenuhan Hak Anak & Istri Pasca Perceraian). Aplikasi yang mulai diterapkan pada 2026 ini digunakan untuk memonitor pemenuhan hak perempuan dan anak pasca perceraian, mulai dari identifikasi, monitoring, evaluasi hingga tindak lanjut.
PA Salatiga saat ini memiliki 21 aplikasi digital yang terdiri dari tiga aplikasi pusat, dua aplikasi korwil, dan 16 aplikasi internal. Tingkat availability/uptime layanan utama tercatat 100% pada 2025 dan 2026.
Dari sisi anggaran, belanja TI/digital mencapai Rp223,479 juta pada 2025 dan meningkat menjadi Rp224,214 juta pada 2026. Pengelolaan teknologi informasi didukung empat pegawai TI/digital tetap dari total 35 pegawai.
Digitalisasi juga terlihat dari meningkatnya penggunaan e-Court. Pada 2024, pemanfaatannya mencapai 90% dari perkara yang diterima. Angka tersebut meningkat menjadi 100% pada 2025 dan tetap 100% hingga 30 September 2026.
Untuk memperkuat kepercayaan digital, PA Salatiga menerapkan Multi-Factor Authentication (MFA) dan Single Sign-On (SSO), pemantauan lalu lintas jaringan, audit log, serta pencadangan data melalui Disaster Recovery Plan. Pengelolaan keamanan juga dikoordinasikan dengan Tim CSIRT Mahkamah Agung/BSSN.
PA Salatiga juga mulai memanfaatkan artificial intelligence (AI) sebagai trusted assistant, terutama untuk mendukung publikasi konten media sosial. Sementara pemanfaatan AI untuk pendampingan atau konseling pada layanan PTSP online masih dalam tahap pengembangan.
Safrani menegaskan, AI ditempatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan pelayanan, monitoring, efisiensi, dan analisis berbasis data, bukan menggantikan kewenangan hakim maupun pengambil keputusan.
Atas implementasi digitalisasi tersebut, PA Salatiga juga meraih Terbaik I Capaian Kinerja SIPP Semester I 2026 untuk kategori pengadilan dengan jumlah perkara di bawah 250 perkara.
Top Digital Awards merupakan kegiatan corporate rating (penilaian) dan pemberian penghargaan tahunan di bidang teknologi digital, IT, dan telekomunikasi di Indonesia yang diselenggarakan oleh Majalah ItWorks bekerja sama dengan sejumlah pakar TI, akademisi, serta asosiasi industri. Tahun kini mengangkat tema “Driving Business and Government Excellence through Trusted AI and Digital Innovation”. Tema ini bertujuan untuk mendorong organisasi di sektor korporasi bisnis maupun pemerintahan agar memanfaatkan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence / AI) dan inovasi digital secara aman, terpercaya, bertanggung jawab, dan memberikan nilai tambah nyata.
Sedang tim juri penilai terdiri Prof. DR. Satya Arinanto (Guru Besar FH Universitas Indonesia), Febrizal Efendi (Praktisi ICR-ASPILUKI), DR. Melani K Harriman (Melani K Harriman & Associate), Benyamin de Haan, SH (Senior Advisory MSI Group) yang moderator Ahmad Chury (Managing Editor ItWorks). Selain menggali sejauh mana digitalisasi dan pemanfaatan IT di PA Salatiga, di penghujung sesi, dewan juri juga menyampaikan sejumlah masukan dan rekomendasi sebagai pembelamjaran dan penguatan bagi PA Salatiga dalam mengembangkan transformasi digital agar makin terintegrasi, aman, adaptif, dan berdampak secara berkelanjutan.














