Kementrian Perindustrian terus mendorong agar pelaku industri kecil dan menengah (IKM) nasional dapat memanfaatkan fasilitas promosi online melalui platform e-Smart IKM.
E-Smart IKM diluncurkan pada Januari 2017 lalu oleh Kementrian Perindustrian dan dilanjutkan dengan kegiatan workshop e-Smart IKM yang diikuti 1.730 peserta. Tahun ini, kegiatan tersebut dapat menggandeng 4.000 IKM di seluruh Indonesia dan 12.000 produk IKM masuk dalam marketplace.
Program e-Smart IKM ini telah menjalin kerja sama dengan beberapa marketplace dalam negeri, antara lain Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Blibli, dan Shopee.
Banyak kisah sukses yang dialami para pelaku IKM setelah ikut serta program itu, salah satunya adalah Linda Variasi milik Poniman (43), warga Pasuruan, Jawa Timur yang membuka toko onlinenya melalui Bukalapak.com.
Linda Variasi termasuk dalam IKM logam yang memproduksi berbagai komponen untuk otomotif, khususnya produk variasi dan onderdil kendaraan roda dua. Terdapat 71 macam produk dengan harga mulai dari Rp40 ribu sampai Rp110 ribu per produk yang disediakannya.
Linda Variasi juga tergolong IKM yang cukup sukses berjualan di Bukalapak. Dia berhasil mendapatkan label pelapak terbaik dengan jumlah transaksi 15-30 pesanan per hari.
Berdasarkan data e-Smart IKM yang dihimpun Kemenperin, Linda Variasi termasuk salah satu IKM yang memiliki angka penjualan fantastis hingga 1.740 transaksi yang telah dilakukan.
“Sebelumnya, saya hanya mampu menjual lima produk setiap harinya dan hanya dijual di daerah lokal Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ujar Poniman.
Saat ini, Poniman mengaku setiap bulan rata-rata mampu menjual sebanyak 450 produk kepada para pelanggannya yang berasal dari Sabang sampai Merauke.
“Sekarang saya juga sudah punya pelanggan tetap di Maumere dan Papua,” imbuhnya.
Menurut ceritanya, Poniman melanjutkan bisnis keluarga di sektor IKM logam pengolahan dengan mesin industri rumahan sejak tahun 2015. Hingga kini, usahanya telah menyerap tenaga kerja 10 orang, di mana tiga orangnya bekerja di bagian pengemasan produk.
“Dalam produksinya, kami menggunakan bahan baku lokal yang biasa dibeli di toko material di Pasuruan,” tuturnya.
Poniman termasuk salah satu peserta workshop e-Smart IKM di Sidoarjo pada September 2017.
Dalam waktu delapan bulan berjualan online setelah mengikuti workshop tersebut, dia berhasil menjadi peserta e-Smart IKM yang dinilai sukses berjualan melalui marketplace.
“Setelah saya belajar berjualan online dari program e-Smart IKM, saya langsung diajari tips dan trik tentang cara berjualan online yang bagus. Dalam waktu dua minggu saja sudah terlihat produk saya sudah banyak laku terjual di online,” paparnya.
Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih menjelaskan hingga 2017, program e-Smart IKM telah menghasilkan total nilai penjualan lebih dari Rp236 juta dengan kontribusi terbesar dari transaksi IKM logam yang mencapai 70 persen.
“IKM logam merupakan salah satu sektor yang potensial dari delapan sektor e-Smart IKM lainnya, seperti IKM makanan dan minuman, perhiasan, herbal, kosmetik, fesyen, kerajinan, furnitur, dan sektor kreatif,” katanya di Jakarta, Kamis (7/6) seperti dikutip dari Antara.
Selain untuk memperluas akses pasar, program e-Smart IKM ini pun menjadi sistem database karena menampilkan profil, sentra, dan produk IKM sehingga bisa sebagai bahan analisa untuk melakukan pembinaan ke depannya.
Selain itu dapat mengetahui data bahan baku IKM serta mesin dan peralatan atau teknologi yang dibutuhkan IKM.














