ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Google, Microsoft, dan Startup sedang berperang di teknologi Chatbot

Teguh Imam Suyudi
2 August 2018 | 12:00
rubrik: Digital
https://www.itech.id/wp-content/uploads/2018/08/Chatbot-provider.png

Para pemain besar sudah ikut meramaikan pasar teknologi chatbot

Share on FacebookShare on Twitter

Dalam bisnis teknologi, pertempuran dilakukan untuk memperebutkan riset, tetapi perang pecah ketika uang dipertaruhkan. Itu telah terjadi pada chatbots, atau perangkat lunak yang memungkinkan orang untuk melakukan percakapan dengan mesin.

Investor dan media teknologi telah ramai memberitakan tentang bot beberapa tahun lalu, tapi saat ini perusahaan mulai dari perusahaan asuransi hingga penyedia layanan kesehatan semakin banyak menggunakan bot untuk meningkatkan pendapatan mereka. Google telah menancapkan bendera besar dalam peperangan ini dengan masuk lebih jauh ke dalam bisnis enterprise ini, yang telah didominasi oleh Salesforce, SAP dan Zendesk, dengan mengumumkan teknologi bot untuk call center beserta sejumlah besar alat machine-learning lainnya untuk pelanggan layanan cloud-nya.

Pelaku bisnis dapat menggunakan alat Google, yang disebut Contact Centre AI, untuk ditempelkan sebuah nomor telepon seorang asisten virtual yang dapat menerima panggilan. Contact Centre AI ini dibangun di Dialogflow, yang menggunakan keahlian Google dalam pemrosesan bahasa alami. Teknologi ini mirip dengan Google Duplex, alat bot suara berbasis cloud. CEO Google Sundar Pichai telah mendemonstrasikannya pada Mei 2018 dengan memutar rekaman Duplex yang melakukan panggilan ke sebuah salon rambut untuk membuat janji dengan “klien” nya, seseorang yang menggunakan Google Assistant. Suara sintetis itu terdengar mirip suara manusia, bahkan menyisipkankan suara mengumam “um” dan “ah” ke dalam pembicaraannya.

Pelanggan potensial Google, atau hampir semua perusahaan yang memiliki call center atau departemen customer services, dapat melakukan sesuatu yang mirip dengan Contact Center AI Google.

Penelitian menunjukkan teknologi chatbot dapat membantu memperbaiki kondisi keuangan. Perusahaan di bidang perawatan kesehatan (healtcare) dan bank yang menggunakan chatbots untuk menangani pertanyaan pelanggan dapat menghemat sekitar empat menit, atau lebih dari 50 sen per permintaan, menurut laporan tahun lalu oleh Juniper Research, perusahaan intelijen pasar asal Inggris.

BACA JUGA:  Tarra Asisten Digital Toyota-Astra Motor, Resmi Diperkenalkan ke Publik Hari Ini

Helvetia, perusahaan asuransi Swiss yang membukukan laba sebelum pajak sebesar US$ 1 miliar pada tahun 2017, mengatakan dengan menggunakan teknologi chatbot mereka telah mendapat peningkatan luar biasa untuk tingkat konversi mendapatkan pelanggan yang membeli layanan asuransi baru. Teknologi chatbot dalam bentuk mengobrol melalui pesan teks yang digunakan Helvetia disediakan oleh perusahaan startup dari Berlin, Jerman yaitu Rasa.

Ergo, sebuah divisi di raksasa asuransi Jerman Munich Re, telah menggunakan teknologi chatbot yang dibuat oleh Rasa untuk mengotomatisasi sekitar 30% permintaan layanan pelanggannya dan itu telah menghemat uang, kata pendiri Rasa, Alex Weidauer.

Kabar baik untuk perusahaan-perusahaan ini dan yang lainnya adalah bahwa sudah ada pasar yang dinamis untuk menjual teknologi asisten virtual. Para pemain besar sudah ikut meramaikan pasar ini, seperti: IBM yang menjual akses ke Watson Assistant, Facebook menawarkan akses gratis ke wit.ai, dengan sejumlah pembatasan, Microsoft menjual akses ke Luis melalui API, dan Amazon menjual akses ke Lex sebagai bagian dari layanan cloud AWS-nya yang lebih besar.

https://www.itech.id/wp-content/uploads/2018/08/Chatbot.png
chatbots, atau perangkat lunak yang memungkinkan orang untuk melakukan percakapan dengan mesin (InMotion.co.id)

Alex Weidauer mengatakan bahwa startup dan pemain kecil lainnya dalam lomba ini memiliki keunggulan dalam menawarkan layanannya karena teknologi chatbot mereka dapat disesuaikan atau di-customized. Salah satu pelanggannya, startup bernama Meekan yang menawarkan layanan smart-scheduling, telah beralih menggunakan Rasa untuk mengembangkan asisten robotnya, setelah sebelumnya menggunakan layanan Microsoft Luis. Itu mereka lakukan karena Microsoft mengenakan biaya untuk setiap “panggilan” ke API-nya; akibatnya semakin banyak pengguna bot yang Anda miliki, semakin banyak Anda membayar ke Microsoft.

Setelah beralih ke Rasa, “kita dapat meningkatkan skalabilitas tanpa khawatir dengn tagihan yang mengejutkan,” kata CTO Meekan, Eyal Yavor.

BACA JUGA:  5 Kriteria Penting Chatbot Untuk Bisnis

Adanya lompatan dalam jumlah unduhan untuk perangkat lunak open source Rasa, yang biasanya dilakukan oleh seorang manajer produk untuk berlangganan, menunjukkan penjualan Rasa meningkat. Weidauer mengatakan permintaan terkuat saat ini berasal dari industri asuransi, perbankan dan, dalam enam hingga 12 bulan terakhir, perawatan kesehatan.

Startup healthcare asal Inggris, Babylon Health, yang mengincar pendapatan bernilai puluhan juta di tahun 2018, memfokuskan bisnisnya sebagian besar pada chatbot yang dikembangkannya untuk memberikan saran tentang penyakit. Ada juga layanan serupa yaitu pengecekan gejala penyakit yang dilakukan secara otomatis yang disediakan perusahaan startup bernama Ada Health di Inggris dan K Health di Israel. Bahkan, K Health membangun teknologi chatbot dari database 2,5 juta catatan pasien yang mencakup catatan selama 20 tahun, yang diperolehnya dari berbagai perusahaan asuransi di Israel.

Untuk kedua pelaku bisnis itu, chatbot bertujuan untuk meyakinkan pasien dengan memberikan informasi yang cukup sehingga mereka tidak perlu pergi berkonsultasi ke dokter manusia yang relatif lebih mahal (dan sering bekerja berlebihan). Para dokter mengatakan bahwa antara 50% dan 80% pasien mereka seharusnya tidak perlu bertemu untuk berkonsultasi, kata Mark Tluszcz, mitra di perusahaan ventura Mangrove Capital yang telah berinvestasi di K Health. “Masyarakat kita telah menjadi  hypochondriac yaitu selalu cemas dengan kondisi kesehatan,” dan sistem belajar mandiri seperti chatbots dapat membantu mengatasi kebutuhan kolektif itu, tambah Tluszcz.

Gartner, perusahaan riset, telah memposting hasil survei kepada para CIO di awal tahun ini yang menunjukkan 21% dari perusahaan enterprise berencana untuk menyebarkan beberapa jenis antarmuka percakapan dalam jangka menengah hingga panjang. Sejauh ini baru 4% yang telah melakukannya.

“Setiap perusahaan di dunia akan memiliki beberapa bentuk AI dan pembelajaran mesin yang tertanam di contact center mereka dalam beberapa tahun mendatang,” kata Mikhail Naumov, CEO startup DigitalGenius, yang telah membangun bot layanan pelanggan untuk KLM, Unilever dan Eurostar. “Contact center sudah cukup matang untuk mengalami disrupsi oleh AI.”

BACA JUGA:  Aplikasi Wahfazh untuk Digitalisasi Dakwah Diluncurkan

Sumber: forbes.com

Tags: 3DolphinsChatbotInMotion
Previous Post

WhatsApp bisnis akan mulai dikenakan biaya

Next Post

Pindad & Ismail Hadisoebroto Raih BPPT Innovation Award 2018

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

TOP Digital Awards 2026: Kembangkan Frontera, Kata.ai Bantu Organisasi Adopsi AI Lebih Cepat, Aman, dan Terukur

TOP Digital Awards 2026: Kembangkan Frontera, Kata.ai Bantu Organisasi Adopsi AI Lebih Cepat, Aman, dan Terukur

Fauzi
14 October 2026 | 21:20

TOP Digital Awards 2026: RS Universitas Hasanuddin Perkuat Transformasi Digital, Hadirkan Layanan Kesehatan Terintegrasi

TOP Digital Awards 2026: RS Universitas Hasanuddin Perkuat Transformasi Digital, Hadirkan Layanan Kesehatan Terintegrasi

Mi’roji
14 October 2026 | 15:30

TOP Digital Awards 2026: Dari Portal Mandiri Hingga AI-IX, Inovasi Digital DE-CIX Indonesia Melesat

TOP Digital Awards 2026: Dari Portal Mandiri Hingga AI-IX, Inovasi Digital DE-CIX Indonesia Melesat

Busthomi
14 October 2026 | 11:29

TOP Digital Awards 2026: Concentrix Perkuat Digital Trust melalui Tata Kelola AI dan Keamanan Siber

TOP Digital Awards 2026: Concentrix Perkuat Digital Trust melalui Tata Kelola AI dan Keamanan Siber

Agus Haryanto
8 October 2026 | 08:34

TOP Digital Awards: PA Salatiga Mantapkan Transformasi Digital Menuju Trusted Digital Justice

TOP Digital Awards: PA Salatiga Mantapkan Transformasi Digital Menuju Trusted Digital Justice

Ahmad Churi
7 October 2026 | 15:25

Load More

TERPOPULER

  • TOP Digital Awards 2026: RS Universitas Hasanuddin Perkuat Transformasi Digital, Hadirkan Layanan Kesehatan Terintegrasi

    TOP Digital Awards 2026: RS Universitas Hasanuddin Perkuat Transformasi Digital, Hadirkan Layanan Kesehatan Terintegrasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melalui Bali Tech Week 2026, Komdigi Dorong Akselerasi Ekonomi Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TOP Digital Awards 2026: Dari Portal Mandiri Hingga AI-IX, Inovasi Digital DE-CIX Indonesia Melesat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TOP Digital Awards 2026: PHE Dorong Bisnis Hulu dengan AI dan Inovasi Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni

ICT PROFILE

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

EXPERT

Survei: 80% Perusahaan Nyatakan AI Masih Terhambat oleh Tantangan Akses Data

Agen AI Menguji Asumsi Keamanan Perusahaan

Fauzi
2 October 2026 | 15:36

Oleh: Carolyn Duby, Field CTO dan Cybersecurity Lead, Cloudera ItWorks.id - Pembahasan keamanan siber seputar AI sering kali berpusat pada...

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Ahmad Churi
24 September 2026 | 16:30

Oleh: Sheila S. Fauzi Regional Marketing Manager, Concentrix. Dewasa ini perkembangan penggunaan atau adopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto