Jakarta, Itech- BPPT melalui Pusat Pengkajian Industri Manufaktur, Telematika dan Elektronika (PPIMTE) mendorong tumbuhnya manufaktur komponen pembangkit tenaga surya di dalam negeri. Deputi Bidang Teknologi Pengkajian Kebijakan Teknologi (PKT) BPPT Gatot Dwianto mengatakan, pemanfaatan energi surya dengan menggunakan teknologi solar photovoltaic (PV) atau sel surya, menjadi salah satu sumber sumber energi pilihan.
“Diharapkan teknologi PV atau solar photovoltaic ini mampu menjadi pilihan untuk menggantikan sumber energi primer untuk dikonversi menjadi tenaga listrik,” ujar Gatot Dwianto disela FGD bertema “Penyusunan Roadmap Industri Manufaktur Komponen dan Usulan Kebijakan untuk Meningkatkan TKDN Industri Pembangkit Surya” sebagai salah satu bentuk tugas pokok dan fungsi pengkajian kebijakan industri manufaktur di Jakarta, Rabu (5/9).
Menurutnya, Indonesia yang beriklim tropis, perlu memanfaatkan energi surya yang saat ini tengah dikembangkan berbagai pihak termasuk manufaktur komponen pembangkit tenaga surya di dalam negeri. Seperti misalnya penerapan tingkat kandungan dalam negeri/ TKDN bagi procurement perangkat tenaga surya yang dilaksanakan instansi pemerintah dan BUMN untuk mendorong tumbuhnya industri komponen Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di dalam negeri.
Terkait TKDN, pada kesempatan FGD ini juga dibahas rencana pengembangan industri nasional bidang energi surya atau PV, serta kebijakan peningkatan TKDN. “Terkait TKDN inipun akan lebih mempertimbangkan atau mengaitkan proses kepemilikan intelektual (process based) dibandingkan dengan perhitungan biaya (cost based),” kata Andhika Prastawa, Direktur PPIMTE BPPT.
Dikatakan Andhika Prastawa, untuk potensi dan permasalahan pengembangan industri sel surya, inverter dan batere di Indonesia, diharapkan FGD ini dapat menghasilkan masukan substansi teknis dan non teknis dari narasumber dan stakeholder, serta tercipta kesepakatan dalam konsep roadmap dan kebijakan pengembangan industri manufaktur pembangkit dan komponen PLTS. “Dengan itu, optimalisasi pemanfaatan tenaga surya dapat menjadi solusi nuhan kebutuhan listrik di masa mendatang, di lain pihak manufaktur perangkat pembangkit tenaga surya dapat menciptakan lapangan kerja baru serta efek ganda terhadap perekonomian,” pungkasnya.
Sementara itu, menurut prediksi German Federal Government terkait sumber energi primer dunia hingga tahun 2100, menunjukkan bahwa mulai tahun 2030 sumber energi primer yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dunia (minyak, batubara dan gas bumi) akan mengalami penurunan drastis dan akan digantikan dengan sumber energi terbarukan terutama energi surya.
FGD ini sebutnya, menjadi ajang untuk bertukar gagasan terkait penyusunan Roadmap dan kebijakan pengembangan industri manufaktur pembangkit dan komponen PLTS. “Roadmap tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan menyusun kebijakan pengembangan industri manufaktur komponen PLTS di Indonesia. Selain menjadi alternatif sumber energi ramah lingkungan, dan menggantikan sumber energi primer untuk dikonversi menjadi tenaga listrik,” jelasnya.(red/Ju)














