Jakarta, Itech- Setelah mengikuti Kompetisi Roket Air Regional (KRAR) Jawa Barat 2018 yang digelar Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-Iptek) Kemenristekdikti bersama Puspa Iptek Sundial, Padalarang-Bandung, selama dua hari pada Sabtu (8/9) dan Minggu (9/9) di di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, dari 266 pelajar yang mengikuti kompetisi itu, akhirnya enam pelajar dinyatakan sebagai pemenang.
Adapun para pemenang yaitu Hasnat Ferdiananda (SMP Pasundan 1 Bandung, Juara 1), Retno Dewi Wulandari (SMKN I Losarang Indramayu, Juara 2), Shabrina Nibrasalhuda (SMP Al-Ma’some Jatinangor, Juara 3), Nawal Alifiah HIdayat (SMPIT Asy-Syifa Boarding School Subang, Harapan 1), Nabil Riano Zaky ( SMPIT Asy-Syifa Boarding School Subang, Harapan 2), dan Pricilia Alianda Hud (SMPN 1 Cimahi, Harapan 3)
Sebelumnya, sebanyak 266 orang pelajar yang berasal dari 56 sekolah di Jawa Barat yakni sekolah SMP, SMA, dan SMK itu adu keterampilan dalam mendesain roket air dan meluncurkan roket air berdasarkan zona/target sasaran yang jaraknya dari titik luncur sepanjang 50 meter.
Kepala Puspa Iptek Sundial Joko Santoso mengatakan, “Tahun ini, kami membatasi jumlah peserta yang ikut berkompetisi. Pasalnya, lokasi untuk kompetisi roket air hanya menampung 260 peserta. Tahun lalu, di Bale Pare Kota Baru Parahyangan bisa menampung hingga 500 peserta,” ujaranya didampingi Direktur PP-Iptek Mochammad Syachrial Annas.
Keenam pelajar tersebut diputuskan menjadi juara setelah roket air yang mereka buat dari dua botol karbonasi ukuran besar diluncurkan pada Minggu (9/9) . Penilaian berdasarkan kecepatan dan ketepatan saat roket air mendarat di tempat yang sudah ditentukan. Para peserta dinilai berdasarkan skor terbaik dari dua kali peluncuran yaitu jarak terdekat jatuhnya roket terhadap titil pusat target
Lebih lanjut Joko Santoso mengaku bersyukur karena setiap tahun minat siswa mengikuti kompetisi ini mengalami peningkatan. Hal tersebut menandakan minat siswa terhadap Iptek mengalami peningkatan. “Penyelenggaran kompetisi roket air ini bertujuan untuk memperkenalkan teknologi peroketan sejak dini kepada generasi muda. Sekaligus dalam rangka penyebarluasan sains dan teknologi secara mudah dan menyenangkan,” tambahnya.
Ditempat yang sama Syachrial Annas mengatakan bahwa di Indonesia saat ini terdapat 23 science center dan rencananya pada 2018-2019 , pihaknya akan menambah empat science center baru yakni d daerah i Sumatera Barat, NTB, Riau dan Sulawesi Tengah. Idealnya di setiap kabupaten/kota memiliki satu wahana science cente sebagai bagian upaya pengenalan Iptek sejak usia dini.
“Pembangunan science center sangat bergantung pada dukungan pemerintah daerah (Pemda) setempat. Persoalannya, Kepala daerah itu selalu berganti dan ujungnya kebijakannya pun selalu berbeda. Karena kalau kepala daerah yang sekarang setuju pembangunan science center, belum tentu kepala daerah yang menggantikan akan mengikuti atau meneruskan pengelolaan science center tersebut ,” paparnya.
Masih menurut Syachrial, sebenarnya kalau ada satu daerah berinisiatif membangun science center maka pihaknya akan memberikan satu insentif berupa alat peraga sebagai pemicu. Misalnya, PP Iptek Kemenristekdikti memberikan 10 hingga 20 alat kepada daerah yang berminat membangun science center sendiri dan daerah bisa mengembangkan dengan menggandeng pihak swasta. (red/Ju*)














