Sebagai bagian dari tur luas di Amerika Serikat pada bulan Maret dan April 2018, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman mengunjungi kampus-kampus perusahaan teknologi besar dan berfoto bersama dengan para CEO Apple, Amazon dan Google. Fokus utama dari pertemuan ini, menurut beberapa pernyataan yang dikeluarkan saat itu oleh Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi, adalah untuk membicarakan kemungkinan kemitraan di masa depan antara negara kaya minyak dan perusahaan publik paling berharga di dunia.
Ada desas-desus perusahaan teknologi ini akan membangun pusat data baru dan peluang usaha ritel di Arab Saudi.
Sekarang hubungan yang tengah berkembang itu bisa menjadi rumit dengan semakin banyak pertanyaan tentang peran pemerintah Saudi, dan bin Salman khususnya, dalam lenyapnya dan pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi.
Sementara para pemimpin teknologi besar tetap diam dalam berita kasus itu sejauh ini, itu tidak berarti mereka tidak bergulat dengan masalah ini.
“Banyak dari mereka masih “anak-anak baru” bagi blok ke Timur Tengah, dibandingkan dengan industri energi dan pertahanan,” kata Sam Blatteis, mantan eksekutif dan CEO Google MENA Catalysts, sebuah perusahaan urusan pemerintah yang menjadi konsultan perusahaan teknologi pada isu-isu Timur Tengah. Pertanyaan yang diajukan perusahaan-perusahaan ini kepada perusahaannya sekarang ini, setelah berita Khashoggi: “Katakan padaku bagaimana kasus ini berakhir.”
Situasi yang ada dari kasus Khashoggi itu menjepit idealisme Silicon Valley melawan peluang untuk memanfaatkan dana besar dari sebuah negara yang sangat bertaruh pada teknologi sebagai bagian dari upaya untuk mendiversifikasi ekonomi yang bergantung pada minyak.
Apple dan Amazon keduanya sebelumnya dilaporkan telah melakukan pembicaraan untuk mulai membangun usaha di negara itu, dengan mengenalkan Apple Store dan Amazon Web Services. Amazon saat ini memiliki lowongan pekerjaan untuk “kepala kebijakan publik” untuk AWS di Arab Saudi “untuk membantu lebih lanjut Amazon sebagai penyedia platform cloud terkemuka di Kerajaan Arab Saudi.”
Alphabet, perusahaan induk Google, juga dilaporkan melakukan pembicaraan dengan raksasa minyak Arab Saudi Aramco untuk membangun pusat data di seluruh negeri. Secara terpisah, Google telah mengonfirmasi pada acara earning call di bulan April lalu bahwa mereka memperluas infrastruktur cloud untuk mendukung Arab Saudi, di antara negara-negara lain.
Perwakilan Apple, Amazon, dan Google menolak berkomentar. Namun, CEO Google Cloud, Diane Greene baru-baru ini bergabung dengan daftar eksekutif bisnis yang terus bertambah untuk batal menghadiri dari konferensi Arab Saudi di akhir Oktober 2018 ini.
Bukan hanya tiga perusahaan teknologi besar ini. Banyak startup teknologi telah menerima dana dari Arab Saudi secara tidak langsung, melalui Vision Fund SoftBank. Dana investasi teknologi sebesar US$93 miliar telah diluncurkan tahun lalu dengan US$45 miliar yang didukung dari dana kekayaan negara Arab Saudi.
Vision Fund telah memompa uang ke startups seperti WeWork, Slack, DoorDash dan lain-lain. Suntikan berupa uang cash ini, sering kali berjumlah ratusan juta – jika tidak miliaran – dapat membuat bisnis melimpah dan secara signifikan menunda perlunya startup untuk melakukan penawaran umum. Dana kekayaan negara Arab Saudi juga diinvestasikan secara langsung di perusahaan seperti Uber.
Pekan lalu, CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan dia “sangat terganggu oleh laporan” tentang Khashoggi dan batal hadir dalam konferensi mendatang di Riyadh.
Sumber: cnn.com














