Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan A Iskandar menilai pengembangan dan riset dari teknologi satelit penginderaan jarak jauh, telah mencapai kemampuan yang pesat. Bermula dari hanya sekedar penginderaan menjadi pemecahan problem pengindentifikasian.
“Karena itu, digelarnya konferensi ini menandai 34 tahun eksistensi pentingnya Indonesia mempunyai satelit sendiri dan mengoperasikannya sesuai permintaan para stakeholder,” papar Marzan A Iskandar saat memberikan sambutan pada 34th Asian Conference “Remote Sensing” di Nusa Dua Bali, Denpasar, Senin (21/10).
Menurut Marzan, pengembangan riset ini akan lebih berorientasi pada teknologi observasi kebumian, yang amat berguna untuk pemantauan cuaca Indonesia karena dapat menembus cuaca hujan dan awan tebal. Akan tetapi, ia melanjutkan, jumlah dari penggunaan data Synthetic Aperture Radar (SAR) amatlah terbatas dan tidak semua orang mengerti cara menggunakannya.
“BPPT mempunyai kontribusi pada pengkajian dan pengembngan metodologi dari penggunaan Insar radar untuk antisipasi kebencanaan dan pengawasan lahan pertanian, pada 2012 BPPT juga turut serta dalam kampanye udara PISAR-2 terutama dalam monitoring Krakatau dan Gamalama,” paparnya seperti dilansir laman BPPT, Rabu (23/10).
Menurutnya, teknologi maju berikutnya adalah pengembangan teknologi yang merupakan paradigma baru dalam komunitas penginderaan kebumian yang mampu memberikan pemetaan yang lebih detil secara tematik. “BPPT saat ini menyiapkan dokumen pengkajian kebumian yang merupakan teknologi pada sistem satelit penginderaan jarak jauh Indonesia,” jelansya.
Dokumen ini adalah referensi yang dihasilkan dari pengkajian teknologi terdepan untuk mendorong realisasi penginderaan jarak jauh Nasional sebagai alat untuk melengkapi kebutuhan sumber data keangkasaan dan mendukung pengembangan program tersebut di Indonesia, pungkasnya.
BPPT bekerjasama dengan beberapa instansi dan mendapat dukungan penuh dari LAPAN, BIG serta beberpa pihak terkait dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi, tambahnya. (endy)














