Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menutup kesenjangan keterampilan digital, Microsoft Indonesia menyelenggarakan kegiatan Hour of Code (HoC) yang dihadiri oleh sekitar 700 siswa SMP dan SMA di beberapa kota yang tersebar dari Sumatera Barat, Jawa, hingga Maluku.
Dengan tujuan meningkatkan akses ke ilmu komputer dan meningkatkan kesadaran serta minat di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, Matematika), para siswa ini diundang ke kantor Microsoft Indonesia untuk mendengar langsung dari pemimpin di bidang teknologi, berpartisipasi langsung di berbagai kegiatan, dan berinteraksi dengan teman-teman sekolah lainnya melalui Skype.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan kesenjangan yang mengkhawatirkan antara wilayah barat dan timur Indonesia menyangkut akses teknologi dan keterampilan teknis dalam menggunakan dan menciptakan teknologi. Seiring dengan evolusi dunia dan adaptasinya terhadap revolusi industri 4.0, Indonesia perlu berlari kencang. Bersama dengan pemerintah, Microsoft telah bekerja tanpa lelah selama 23 tahun terakhir untuk terus meningkatkan tidak hanya investasi dalam teknologi, tetapi bekerja sama dengan organisasi nirlaba, sekolah, dan juga pendidik dalam melatih generasi siap masa depan melalui pelatihan guru, dan menciptakan peluang dalam belajar keterampilan digital, di samping Hour of Code.
“Melalui pemikiran komputasional, para generasi muda tidak hanya akan menyerap pengetahuan teknis namun juga mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, dan keterampilan memecahkan masalah – atribut penting untuk pekerjaan masa depan. Microsoft menyadari betapa pentingnya bagi Indonesia untuk mendorong pengembangan para pelajarnya pada usia dini dan ilmu komputer adalah keterampilan yang membutuhkan dorongan lebih dari sebelumnya di era transformasi digital yang terus berkembang ini,” kata Benny Kusuma, Education Lead Microsoft Indonesia dalam rilis yang diterima It Works (14/12).
Turut diundang pada acara tersebut adalah pembicara dari PT. Astra International, Muftie Fauzan Zulfikar, Susy Simanullang dari PT. Johnson & Johnson Indonesia, Prasetya Dwicahya dari World Bank, dan Sam McNeill, Education Solution Specialist dari Microsoft Asia Pacific. Dimoderasi oleh Obert Hoseanto, Education Programs Manager Microsoft Indonesia, sesi perbincangan “Coding is the Language of the Future” mematahkan mitos robot yang disebut mampu merebut lapangan pekerjaan, mengungkapkan apa yang dapat dicapai oleh para siswa dan pendidik Indonesia melalui ilmu komputer, dan mengundang siswa untuk mempertimbangkan STEM untuk Pendidikan dan karier mereka. Acara ini disiarkan langsung melalui Skype for Business dari kantor Microsoft Indonesia ke 18 sekolah yang berpartisipasi.
Fita Sukiyani, seorang guru di SDN Sumber 1 Berbah, Sleman telah mengajar berbagai mata pelajaran untuk murid-muridnya menggunakan sarana belajar berbasis permainan, Minecraft. Minecraft Hour of Code tutorial: Voyage Aquatic adalah program pembelajaran berbasis permainan Microsoft yang memberikan peluang untuk mempelajari dasar-dasar pengodean dengan gim yang dikenal dan disukai jutaan orang. “Hour of Code tidak hanya berguna bagi siswa tetapi juga bagi para guru. Saya tidak menyangka bahwa metode pengajaran baru ini dapat memberi siswa saya peluang untuk bermain sambil belajar. Cara ini menjadikan metode baru dalam mengajar agar tidak konservatif,” kata Fita.
“Tahun lalu saya punya satu siswa matematika yang disleksia dan saya mengajarinya beberapa konsep matematika menggunakan Minecraft. Puji syukur, nilainya sekarang sudah meningkat menjadi 6,5 dari hanya 2 atau 3 sebelumnya. Dia bilang dia sekarang mengerti konsep matematika lebih baik ketika menggunakan Minecraft untu belajar,” tambahnya. Fita Sukiyani juga aktif menggunakan Skype untuk terhubung dan belajar bersama dengan ruang kelas lain di area lain lain di Indonesia.
Melalui Minecraft: Education Edition and the Hour of Code, Microsoft bercita-cita untuk mentransformasi dan meningkatkan penggunaan teknologi dalam proses pendidikan. Dengan pengalaman semacam ini, siswa akan lebih terlatih dalam pemecahan masalah, berpikir kritis, dan keterampilan komputasi dan dasar-dasar pemrograman. Dengan hadirnya Revolusi Industri 4.0 dan dampaknya terhadap sektor pendidikan, Microsoft berharap untuk mempersiapkan para siswa dan pendidik dalam beradaptasi dengan tuntutan dan kebutuhan dunia yang bertenaga Kecerdasan Buatan (AI), Big Data, dan Kmputasi Awan ini.
Dengan sekat fisik dan digital yang semakin pudar, interaksi antar manusia dan mesin adalah masa depan, dan coding adalah bahasa yang memungkinkan masa depan ini terwujud. Hour of Code memungkinkan siapapun untuk menjelajahi ilmu komputer dan pemikiran komputasional dan memulai perjalanan mereka dari sebagai pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi. Terlepas dari minat seseorang, ilmu komputer dan coding dapat menyediakan alat dan keterampilan untuk mengembangkan minat ini, membuatnya nyata, dan mengubah dunia. Keterampilan digital dan TI adalah paspor untuk peluang baru bagi jutaan warga dan fondasi untuk menarik investasi, inovasi, dan pekerjaan baru dalam ekonomi global.














