PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menargetkan pertumbuhan pendapatan 5%-9% year on year (yoy) pada 2019 ini.
Industri seluler di Indonesia yang diperkirakan tumbuh di kisaran mid to high single digit. Sementara itu, industri non-seluler diproyeksi tumbuh pada kisaran high single digit hingga low double digit.
“Kami targetkan Telkom akan tumbuh mid to high single digit. Kombinasi dari kedua industri tersebut,” kata Direktur Keuangan TLKM Harry M. Zen, (26/5).
Alasannya, bisnis legacy yang berasal dari SMS dan panggilan suara terus menurun. Sementara itu, layanan data belum termonetisasi secara optimal.
Baca: Bisnis Digital Genjot Pendapatan Telkom Tahun Lalu
“Tarif data masih relatif rendah. Indonesia untuk tarif mobile data masih nomor dua terendah setelah India. Harganya masih kemurahan,” ungkap dia.
Di samping itu, Harry mengatakan, hal tersebut akan membuat margin bisnis perusahaannya turun pada 2019 ini. Oleh karena itu, menurut dia, Telkom harus terus melakukan efisiensi supaya keuntungan tak tergerus tajam.
Sebagai gambaran, pendapatan TLKM tahun 2018 adalah Rp 130,78 triliun. Angka ini naik 1,97% secara tahunan dari sebelumnya yang sebesar Rp 128,25 triliun.
Per 2018, porsi pendapatan data, internet, dan jasa teknologi informatika ini mencapai 59% dari total pendapatan TLKM. Porsi ini naik dari tahun 2017 yang sebesar 53,43%.
Pendapatan data, internet, dan jasa teknologi informatika mencatat kenaikan paling besar di tengah kenaikan pendapatan interkonekesi dan lainnya, serta penurunan pendapatan jaringan dan telepon.
Pendapatan segmen ini mencapai Rp 77,15 triliun, naik 12,57% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 68,53 triliun.
Sementara itu, per 2018, TLKM mencatat penurunan laba bersih 18,56% secara tahunan. Emiten halo-halo pelat merah ini meraup laba bersih sebesar Rp 18,03 triliun. Padahal, per 2017, Telkom meraup laba bersih Rp 22,14 triliun.
Penurunan laba tersebut paling besar disebabkan oleh naiknya beban operasional, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi Rp 43,79 triliun dari sebelumnya Rp 36,6 triliun. Alhasil, margin laba usaha TLKM per 2018 hanya 29,7%, turun dari 34,25% pada 2017 lalu.
Dana Capex Tembus Rp33 Triliun, Telkom Belum Alokasikan 5G
Emiten-emiten telekomunikasi di Indonesia tengah mempersiapkan diri untuk menyambut teknologi jaringan seluler generasi kelima alias 5G. Ditambah lagi, pemerintah akan memutuskan penggunaan frekuensi untuk 5G seusai perhelatan World Radio Communications Conferences (WRC) pada Oktober mendatang.
Rencananya, pemerintah akan memanfaatkan frekuensi middle band 3,5 Ghz yang sudah digunakan untuk satelit. Frekuensi ini akan dikonsolidasikan dengan frekuensi 5G. Meskipun begitu, tidak semua emiten sudah menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) khusus 5G pada tahun ini.
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menyatakan, perusahaannya belum menyiapkan capex khusus untuk 5G. Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan, pihaknya masih menunggu ketersediaan frekuensi 5G dan permodelan layanan dari sistem ke pengguna.
“Kami menyiapkan diri untuk bisa investasi tapi kami masih menunggu frekuensi dan use case yang bisa dimonetisasi,” kata Ririek di Jakarta.
Baca: Telkomsel Teknologi 5G Menuju Indonesia Digital 2025
Meskipun begitu, apabila Telkom memerlukan dana investasi 5G di tahun ini, maka pihaknya akan merelokasinya dari capex lain. Tahun ini, TLKM menganggarkan belanja modal di atas Rp 33 triliun. Angka ini sedikit naik jika dibandingkan dengan tahun lalu yang ada di level Rp 33 triliun. Belanja modal terbesar akan digunakan untuk ekspansi jaringan.
Direkrut Keuangan TLKM Harry M. Zen mengatakan, untuk sektor bisnis mobile, anggaran yang disiapkan sebesar 40%-50% dari total belanja modal. Sementara sisanya digunakan untuk bisnis non-mobile.
Mayoritas belanja modal tersebut akan digunakan untuk meningkatkan infrastruktur tulang punggung jaringan, baik berupa kabel laut ataupun fiber optik di darat. TLKM juga akan meningkatkan infrastruktur untuk mendukung akses ke pelanggan baik berupa fiber to the home (FTTH) ataupun Base Tranceiver Station (BTS) 4G.
Sepanjang kuartal I-2019, anak usaha seluler Telkom, yakni Telkomsel telah membangun BTS berbasis 4G sebanyak 8.405. Dengan begitu, hingga periode tersebut, Telkomsel memiliki total BTS sebanyak 197.486 unit dengan BTS 3G dan 4G/LTE sebanyak 147.181 unit. Sepanjang tahun ini, Telkom menargetkan bisa membangun 23.000 BTS baru.














