Home Indeks Research Studi Microsoft: Penerapan AI pada Industri Keuangan Dapat Meningkatkan Daya Saing

Studi Microsoft: Penerapan AI pada Industri Keuangan Dapat Meningkatkan Daya Saing

Studi Microsoft: Penerapan AI pada Industri Keuangan Dapat Meningkatkan Daya Saing
Haris Izmee, Presiden Direktur Microsoft Indonesia pada acara Media Briefing, 12 Maret 2019. (Foto: Microsoft Indonesia)

Studi yang diluncurkan oleh Microsoft, Future Ready Business: Assessing Asia-Pacific’s Growth with AI, mengemukakan bahwa organisasi yang mengimplementasikan AI diprediksi dapat meningkatkan daya saingnya sebesar 41% dalam tiga tahun mendatang.

Studi ini juga mengungkapkan bahwa lebih dari setengah (52%) pelaku industri keuangan di Asia Pasifik telah memulai perjalanan AI mereka. Angka ini lebih tinggi dari jumlah rata-rata Asia-Pasifik, yang berjumlah 41%, menandakan bahwa sektor ini selangkah lebih maju dari sektor lainnya di wilayah yang sama.

Dalam siaran per ke media, (8/10), Haris Izmee, Presiden Direktur, Microsoft Indonesia mengungkapkan, “Ekonomi digital telah menghasilkan tuntutan bagi organisasi untuk mengubah diri agar tetap relevan bagi pelanggan. Di Indonesia kita melihat adanya pemain baru, terutama layanan non-perbankan dalam industri keuangan yang mampu menjangkau pelanggan melalui layanan berbasis teknologi.

Disrupsi ini mengharuskan pemain lama untuk tetap relevan, termasuk mengubah strategi mereka. Untuk melakukan hal tersebut, terdapat tiga kunci utama – pemanfaatan data dan AI untuk operasional mereka, membangun dan menjaga kepercayaan dengan pelanggan, serta kolaborasi untuk mendorong inovasi.”

Organisasi di industri keuangan yang telah memulai perjalanan AI mereka melihat peningkatan dalam beberapa area seperti Keterlibatan Pelanggan, Daya Saing, Inovasi, Margin, Inteligensi Bisnis, dengan rentang peningkatan antara 17% hingga 26%. Pada 2021, peningkatan di area tersebut diprediksi mencapai 35% hingga 45%, dengan lompatan terbesar pada Margin (yang diperkirakan meningkat sekitar 2,1x).

Haris menambahkan “Di Australia, Moula, sebuah perusahaan rintisan menerapkan AI untuk layanan pengambilan keputusan kredit secara real-time dan memanfaatkan Azure AI dan machine learning yang mampu memprediksi probabilitas pengembalian kredit untuk mencegah kredit macet. Kami melihat adanya potensi penerapan hal yang sama di Indonesia. Di Indonesia, penerapan AI dapat dilakukan pada perusahaan rintisan yang bergerak di bidang keuangan, seperti tekfin yang menyediakan pinjaman produktif secara online pada masyarakat, terutama pelaku bisnis kecil menengah.”

Baca: ViBiCloud Raih Gelar Indonesia Partner of the Year 2019 dari Microsoft

Industri keuangan perlu membangun Kapabilitas, Infrastruktur, Strategi dan Budaya

Memasuki era disruptif, digitalisasi menjadi tak terelekkan di segala industri termasuk Industri keuangan yang digunakan dalam keseharian masyarakat. Teknologi membantu para pemain industri untuk melayani pelanggan mereka secara lebih baik melalui ketersediaan layanan berbasis teknologi yang memenuhi kebutuhan masyarakat mobile-first. Selain itu, tenaga yang terampil juga dibutuhkan untuk dapat memaksimalkan penerapan AI.

Temuan studi juga mengemukakan hal yang sama. Sembilan dari sepuluh pemimpin bisnis dari industri keuangan setuju bahwa AI adalah instrumen penting bagi daya saing industri. Meskipun begitu, tantangan terbesar yang dihadapi oleh para pelaku industri keuangan mencakup kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang terampil, sumber dan program pembelajaran, serta kepemimpinan dan perangkat analisis yang kurang memadai.

“Perusahaan masih menghadapi tantangan dalam memaksimalkan kemampuan AI untuk mempercepat perjalanan transformasi mereka. Sering kali, mereka terhalang berbagai tantangan dalam infrastruktur, keterampilan, dan budaya yang ada. Oleh sebab itu kita harus melihat penggunaan dan pengembangan AI dari perspektif yang lebih menyeluruh”, ujar Victor Lim, Vice President, Consulting Operations, IDC Asia/Pacific.

Ada enam dimensi yang berkontribusi terhadap kesiapan industri keuangan untuk menerapkan AI, termasuk Strategi, Investasi, Budaya, Kapabilitas, Infrastruktur, dan Data. Kendati organisasi di industri keuangan telah memimpin dalam seluruh dimensi di kawasan Asia-Pasifik, mereka masih tertinggal dalam hal pemimpin yang paham pentingnya AI dalam area seperti Kapabilitas, Infrastruktur, Strategi, dan Budaya.

Transformasi budaya perusahaan dan kepemimpinan yang mendorong penerapan AI di Industri Keuangan secara menyeluruh

“Untuk mendorong transformasi, perusahaan harus dapat menerapkan AI secara lebih masif. Para pemimpin bisnis tidak hanya membutuhkan data dan persyaratan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan visi yang dapat mendorong terciptanya budaya belajar yang berkelanjutan, dalam memberdayakan staf di seluruh tingkatan agar dapat memanfaatkan potensi AI,” kata Lim.

Saat ini, mayoritas organisasi di industri keuangan telah menciptakan satu tampilan pelanggan untuk mendorong efisiensi operasional dengan tujuan memberikan layanan yang lebih personal. Meskipun begitu, kurang dari 20% pelaku industri keuangan yang telah mengintegrasikan data operasional mereka, menandakan bahwa operasional data masih berpusat pada satu divisi, bukan lintas divisi. Tata kelola data yang saling terhubung lintas divisi membuka sumber pendapatan baru dalam jangka waktu yang panjang.

“Penerapan teknologi pada perusahaan akan meningkatkan daya saing di era digital. Namun untuk mencapai transformasi digital yang menyeluruh, diperlukan tenaga kerja terampil serta budaya perusahaan yang mendorong implementasi AI menjadi lebih masif,” kata Haris.

“Selain dari peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang bagi karyawan, para pimpinan harus memiliki pola pikir untuk selalu mau belajar agar siap menghadapi perubahan yang cepat yang dibawa oleh transformasi digital,” tutup Haris.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here