Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Boyolali pada Rabu (9/10/2019) mengikuti penjurian Top Digital Awards 2019 yang diadakan oleh Majalah It Works. Dalam penjurian yang dihelat di Mercantile Athletic Club, Gedung WTC Jakarta ini, Diskominfo Kabupaten Boyolali diwakili langsung oleh Abdul Rahman selaku kepala dinas instansi tersebut.
Sedangkan dewan juri yang hadir dalam acara penjurian ini adalah Prof Dr Kalamullah Ramli (guru besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia), Garuda Sugardo dari Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Nasional, Hidayat Tjokrodjojo dari Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), serta Eri Sumiarso (konsultan dari PT Sinergi Daya Prima).
Dalam presentasinya di depan dewan juri, Kepala Diskominfo Kabupaten Boyolali Abdul Rahman banyak mengutarakan soal keberhasilan implementasi dan pemanfaatan solusi teknologi informasi (TI) di Kabupaten Boyolali. Keberhasilan itu setidaknya terlihat dari tiga hal, yakni kinerja pemerintahan, operasional instansi, serta pelayanan publik.
Dari sisi kinerja pemerintahan, implementasi IT berhasil mempercepat dan mempermudah proses kerja dengan menggunakan berbagai aplikasi atau sistem informasi.
“Terkait hal ini, kami memiliki beragam produk antara lain Simda untuk tata kelola keuangan, Sibangun untuk tata kelola perencanaan, LPSE untuk tata letak pengadaan barang atau jasa, Simpeg untuk tata kelola kepegawaian,SIAK untuk tata kelola kependudukan, dan lainnya,” kata Abdul Rahman yang dalam penjurian ini didampingi dua orang stafnya.
Selain itu, kata Abdul Rahman, implementasi TI di Kabupaten Boyolali berhasil menghemat biaya perjalanan dinas, penggunaan alat tulis kantor serta biaya telepon. Produk TI yang dipakai dalam hal ini antara lain e-mail, e-office (SIKD) dan digital signature.
“Kebijakan ini sudah memberikan dampak nyata berupa efisiensi anggaran sebesar Rp 16 miliar pada 2018 karena kebijakan paperless,” tutur dia.
Masih terkait kinerja pemerintahan, implementasi TI juga berhasil meningkatkan jangkauan layanan sampai ke desa. Beberapa produk terkait hal ini antara lain Siskeudes, laporan online, dan profil desa.
“Implementasi TI juga mempercepat pengambilan keputusan dengan menggunakan data atau informasi yang diperoleh dengan cepat. Kami sudah memiliki command center, ada juga berita online dan medsos,” tuturnya.
Untuk yang terkait operasional instansi, implementasi TI di Kabupaten Boyolali berhasil mempercepat dan mempermudah hubungan kerja antara perangkat daerah/instansi menggunaan aplikasi atau sistem informasi yang terintegasi dan penggunakan data berbagi pakai.
“Kami sudah memiliki integrasi e-planning, e-budgeting dan e-laporan serta pemanfaatan data kependudukan untuk berbagai kepentingan antara lain layanan kesehatan (RSUD), layanan pendidikan, kemiskinan dan pertanian,” ujar Abdul Rahman.
Sedangkan yang terkait pelayanan publik, implementasi IT telah meningkatkan kemudahan akses pelayanan publik karena adanya pelayanan secara online. Layanan online berbasis web maupun aplikasi ini sudah menjangkau hampir semua sektor seperti kesehatan, pendidikan, perizinan, administrasi kependudukan, data/informasi.
Pemanfaaatan TI juga berhasil meningkatkan akses masyarakat terhadap TI yang sekaligus untuk mendorong adanya literasi masyarakat terhadap TI. “Kami sudah mengembangkan hotspot publik, e-pangan, perpustakaan online, serta e-commerce,” kata dia.
Dari berbagai langkah yang sudah dilakukan, ada satu solusi bisnis unggulan yang dibesut Diskominfo Kabupaten Boyolali, Sistem Monitoring Sapi atau SIMAPI. Solusi TI ini berangkat dari kearifan lokal masyarakat Boyolali yang selama ini dikenal sebagai sentra peternakan sapi di Jawa Tengah.
“SIMAPI ini merupakan pendataan lengkap ternak sapi, mulai dari jumlah sapi, jenis sapi, kategori sapi, bobot, umur sapi, serta data peternak sapi di Kabupaten Boyolali. Jadi semua ter-record , sehingga kalau misal ada sapi yang hilang bisa terpantau,” ujar Abdul Rahman.
Penulis: Nurdian Akhmad














