Jakarta,Itworks- Sebagai upaya mendukung peningkatan kemampuan digital talent di Indonesia, Alcatel-Lucent Enterprise menggelar ALE Geek Battle, yaitu program kompetisi untuk para programmer di Indonesia. Melalui kegiatan ini, ALE bertekad mendorong lahirnya para digital talent, terutama programmer untuk mengasah dan meningkatkan keahlian mereka melalui kelas programmer yang digelar oleh ALE.
Dalam laporan berjudul “Unlocking Indonesia’s Digital Opportunity” McKinsey menyatakan bahwa Indonesia diprediksi menjadi sebuah kekuatan ekonomi digital yang cukup diperhitungkan. Sejalan dengan hal itu, pemerintah juga giat membangun infrastruktur terkait teknologi digital di Indonesia yang dikenal dengan proyek Palapa Ring, sekaligus mempercepat pemerataan infrastruktur serta transformasi digital. Terlebih dalam menghadapi era industri keempat (Industri 4.0) yang sudah di depan mata.
Upaya transformasi digital yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas demi menjaga daya saing Indonesia, juga menjadi peluang dan tantangan tersendiri. Di satu, sisi transformasi digital membutuhkan skill set baru, terutama lahirnya para digital talent, namun di sisi lain sistem pendidikan di Indonesia masih tertinggal dan perlu ditingkatkan demi memenuhi kebutuhan tersebut.
Guna menjembatani kebutuhan akan skill set baru, Alcatel-Lucent Enterpise (ALE) Indonesia dengan dukungan pemerintah akan menggelar ALE Geek Battle demi menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan di era digital. ALE akan memberikan 1.500 beasiswa kepada penduduk Indonesia di usia produktif untuk mengikuti kelas dasar pemrograman. Dari 1.500 peserta awal ini, ALE akan memilih 150 peserta untuk mengikuti tahap selanjutnya yaitu kelas pemrograman lanjutan. Kemudian, 30 peserta terbaik akan dipilih untuk mengikuti program ALE Geek Battle dan memenangkan kesempatan untuk bekerja bersama tim ALE Indonesia.
“Melalui ALE Geek Battle, kami memberikan kesempatan kepada para programer di seluruh Indonesia untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Para programer ini akan saling diasah dan diuji oleh para juri dari ALE. Para peserta yang terpilih juga akan mendapatkan program beasiswa dan kesempatan bekerja bersama tim Alcatel Lucent Indonesia,” ujar Adios Purnama, Country Manager, Alcatel-Lucent Enterprise Indonesia, dalam paparan pers (29/10), di Jakarta.
Ditambahkan, bahwa saat ini kebutuhan pasar akan tenaga programmer cukup besar, tetapi di sisi lain, tidak banyak programmer andal yang ada di Indonesia untuk memenuhi kenutuhan itu. Melalui kegiatan ini, ALE berharap bisa melahirkan talenta-talenta baru di bidang pemrograman yang kemampuannya sesuai dengan kebutuhan pasar. “Menurut McKinsey, dalam 10 tahun ke depan kebutuhan akan programmer akan meningkat 55 persen. Oleh karena itu, kebutuhan untuk melahirkan programmer baru harus dimulai dari sekarang,” ujarnya.
Sementara itu, Narenda Wicaksono, CEO Dicoding, mengatakan, programmer memiliki peran yang sangat krusial di era industri 4.0 ini. Apalagi di era industri 4.0 ini, semua proses di berbagai industri akan beralih menuju otomasi dan ini memerlukan bahasa pemrograman yang sesuai dengan jenis industri masing-masing.
“Di sinilah peran penting programmer, yaitu membuat aplikasi atau program yang tepat untuk membantu pertumbuhan perusahaan.Dengan aplikasi yang tepat, perusahaan akan mampu bekerja secara lebih efektif dan efisien serta meningkatkan kinerja perusahaan dengan signifikan,” ujar Narendra.
Disebutkan, dicoding merupakan salah satu lembaga yang fokus memberikan pelatihan kepada generasi muda yang tertarik dengan dunia programming. Mengutip data McKinsey Institute yang memproyeksikan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi digital besar dalam 10-20 tahun mendatang, hal ini menjadi indikasi kuat akan prospek programming yang bakal makin menjajikan. McKinsey menyatakan bahwa kebutuhan akan tenaga programmer pada 2030 akan meningkat sebesar 55 persen. Sementara itu, World Economic Forum menyatakan di masa depan SDM yang memiliki keahlian teknis seperti pemrograman dan pengembangan aplikasi akan menjadi incaran perusahaan. Selain di sektor swasta, kebutuhan akan talenta-talenta dengan keahlian teknis di bidang pemrograman dan pengembangan aplikasi juga menyentuh sektor pemerintahan. Apalagi Pemda juga banyak yang menerapkan konsep smart city.
Menurut Akmal Malik, Direktur Jenderal Otonomi Daerah, Kementerian Dalam Negeri, Republik Indonesia, dalam kaitan pengembangan digital talent, Kemendagri juga rutin memberikan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan skill para pegawai, terutama SDM di bidang IT, agar terus terupdate mengingat perkembangan dunia digital berjalan demikian cepat. Dalam kaitan ini, kepala daerah/ wakil kepala daerah, serta para kepala perangkat daerah juga dituntut untuk mengikuti perkembangan digital yang demikian pesat.
Transformasi digital juga diharapkan bisa mendorong reformasi birokrasi melalui peningkatan pelayanan kepada masyarakat agar lebih cepat, tepat, murah dan efisien. Di tingkat pusat, pemerintah telah memiliki aplikasi Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR!), yaitu sebuah aplikasi pengaduan yang terpadu dan mudah diakses bagi seluruh masyarakat yang melibatkan partisipasi publik dan bersifat dua arah. Aplikasi ini terhubung dengan 67 instansi pemerintah demi memudahkan koordinasi dan penyelesaian pengaduan.
Di tingkat provinsi, hampir seluruh provinsi di Indonesia telah memiliki aplikasi sendiri untuk membantu meningkatkan pelayanan publik di masing-masing daerah. Bandung dan Jakarta, misalnya, telah membangun konsep Smart City dengan dukungan aplikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah. Pengembangan aplikasi dilakukan dengan melihat kebutuhan masyarakat serta solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Melihat kebutuhan akan pengembangan aplikasi yang demikian besar, gelaran ALE Geek Battle dinilai menjadi signifikan untuk memunculkan talenta-talenta baru yang memiliki keahlian di bidang pemrograman dan pengembangan aplikasi. Saat ini, kebutuhan pasar yang demikian besar akan talenta di bidang IT belum sejalan dengan ketersediaan SDM yang ada. Memasuki era Industri 4.0 dan transaformasi digital, Indonesia sangat memerlukan banyak talenta untuk mendukung transformasi digital yang sedang berjalan. Selain melalui jalur formal, berbagai pelatihan dan kompetisi seperti yang dilakukan oleh Alcatel Lucent Enteprise bisa menjadi jalan untuk meningkatkan jumlah dan kapabilitas talenta digital di Indonesia.
“ALE telah berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya peningkatan kapabilitas talenta digital di Indonesia melalui berbagai program. Tahun lalu kami telah menggelar ALE Hackathon yang mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Tahun ini, kami mengadakan ALE Geek Battle bagi para programmer. Semoga setiap tahun kami bisa terus menemukan dan mengasah talenta-talenta baru di Indonesia dan memberikan sedikit kontribusi kami bagi pengembangan SDM digital di Indonesia,” pungkas Adios Purnama. (AC)














