Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) tengah gencar-gencarnya melakukan road show ke lima kota untuk memamerkan kendaraan massal berbasis listrik pada masyarakat sebagai kendaraan yang ramah lingkungan. Kota-kota yang telah dikunjungi antara lain Yogyakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya.
Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta mengakui bahwa sejauh ini respons yang diberikan oleh kepala daerah yang telah Ia kunjungi sangat positif. Bahkan Walikota Bandung Ridwan Kamil menjadi pemesan pertama bus listrik untuk transportasi massal sebanyak 100 unit. “Bukan mengada-ngada tapi respon kepala daerah yang sudah kita datangi memang sangat baik, mereka seperti tidak sabar untuk bisa segera memiliki mobil listrik ini,” ujar Hatta.
Gusti menambahkan, dengan capaian seperti ini bukan tidak mungkin Kemenristek akan mengusulkan untuk melakukan produksi masal pada tahun 2015 mendatang. Menurutnya baik spesifikasi, teknologi dari mobil prototipe ini sudah berada pada tingkat kesiapan teknologi TRL-7 atau level 7. “Kalau bicara mobil listrik, ada sembilan tingkatan yang harus dilalui agar target memproduksi mobil listrik bisa terwujud. Yang ada sekarang ini sudah pada tingkatan level tujuh, tinggal dua langkah lagi,” kata Hatta.
Dia menyampaikan, berbagai negara maju maupun berkembang sudah mulai mengembangkaan kendaraan listrik yang notabene ramah lingkungan. Begitu juga di Indonesia, sudah digenjot agar mampu bersaing di dunia automotif internasional. “Ini uji coba sudah masuk level 7 lah, lalu kita lihat apa yang harus diperbaiki hingga masuk ke level selanjutnya. Nah setelah sampai level 9 dan uji coba di area sebenarnya (jalan raya), kita akan produksi secara massal,” ujarnya.
Gusti berharap akan ada dukungan dari Kementerian Perindustrian dan Dinas Perhubungan Darat untuk terobosan teknologi mobil listrik tersebut agar program ini bisa berkelanjutan dan memiliki pengaruh besar dalam mengurangi polusi dan peningkatan konsumsi BBM. “Sebenarnya tugas Kemenristek hanya sebatas menghadirkan barangnya saja (kendaraan berbasis listrik), kalau soal produksi massal kita harus koordinasi dengan pihak lain. Tapi kita ya inisiatif saja untuk merangkul Kementrian lain yang terkait supaya mendorong cepat realisasi dari produksi massal dari mobil listrik ini,” paparnya.
Gusti optimis, produksi kendaraan listrik massal bisa tercapai. Dia mengaku terus berkoordinasi dengan banyak pihak, terutama instansi pemerintahan untuk mengadopsi mobil listrik ini sebagai kendaraan operasionalnya. “Kita dari Kemenristek modelnya jemput bola, gerak terus ke kementrian lain, kerjasama dengan kepala daerah yang kita datangi. Sayang lah kalau program ini mandeg begitu saja, mau tidak mau kita yang harus aktif,” ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup ini.
Hatta menambahkan, pengembangan mobil listrik di Indonesia ke arah angkutan massal berbasis tenaga listrik. Hal itu sesuai dengan arahan Presiden SBY ketika peringatan Hari Teknologi Nasional (Harteknas) beberapa waktu lalu. Presiden, kata Gusti, disebut menekankan pada sektor angkutan massal dan angkutan pedesaan. “Ya harus didukung, pak Presiden juga sudah sampaikan agar mobil transportasi pedesaan bisa berbasis listrik dan ramah lingkungan. Jadi sebenarnya maksud presiden itu lebih mengarah ke kendaraan listrik,” imbuhnya.
Dia berharap, tahun 2015 nanti mobil listrik berbagai model sudah bisa diproduksi meski jumlahnya terbatas. Sehingga, target pemerintah untuk memproduksi mobil listrik secara massal pada 2016 bisa terwujud lebih awal. “Tahun depan diharapkan membuat beberapa unit dulu, katakanlah untuk kebutuhan kabupaten, beberapa kementrian, itu dulu. Sambil kita perbaiki terus, nanti kita bisa tambah-tambah (produksi) trus tiap tahun, syukur-syukur target 2016 bisa 10.000 unit,” tutupnya.














