Home Indeks E-Gov Alasan LAPAN Pilih Biak Sebagai Lokasi Bandar Antariksa Kecil

Alasan LAPAN Pilih Biak Sebagai Lokasi Bandar Antariksa Kecil

Lapan

Sudah lama Pulau Biak digadang-gadang jadi pangkalan antariksa Indonesia. Hal ini akan jadi kenyataan. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Rencana Pembangunan Bandar Antariksa Skala Kecil di Pulau Biak pada Rabu (6/11/2019) di Hotel Atria Gading Serpoing Boulevard, Tangerang, Banten.

Rakornas ini bertujuan untuk menyatukan ide antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat. Dalam rilis LAPAN, rakornas ini dipimpin Kepala LAPAN, Prof Thomas Djamaluddin dan menghadirkan Deputi Bidang Teknologi dan Penerbangan, Dr Rika Andiarti yang akan membahas mengenai fasilitas uji terbang roket sonda di Biak. Sekretaris Utama LAPAN, Prof Erna Sri Adingsih menyampaikan materi mengenai perencanaan anggaran dan SDM untuk bandar antariksa skala kecil.

Untuk mematangkan rencana pembangunan bandar antariksa LAPAN mengajak bicara Pemprov Papua, Pemda Biak, Bappenas, Kemenristekdikti dan Universitas Cendrawasih. Pembangunan bandar antariksa di Pulau Biak tidak dapat dilakukan oleh LAPAN sendiri, mengingat harus dilengkapi fasilitas penunjang.

Dalam mencari lokasi bandar antariksa terbaik, LAPAN telah melakukan kajian terhadap alternatif lokasi di Indonesia seperti Pulau Engganao, Pulau Nias, Pulau Morotai, dan Pulau Biak. Yang memenuhi persyaratan sebagai lokasi bandar antariksa salah satunya adalah Pulau Biak, Desa Soukobye, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua di tanah LAPAN.

Mengapa Pulau Biak? Pulau Biak memiliki keunggulan kompetitif yaitu sangat dekat dengan ekuator atau garis Khatulistiwa, dimana terletak pada titik koordinat 0º55′-1º27′ Lintang Selatan (LS) dan 134º47′-136º48 Bujur Timur (BT).

Dengan posisi tersebut sangat baik sebagai tempat peluncuran Roket Peluncur Satelit (RPS) ke Geostationary Earth Orbit (GEO) dan berdampak positif pada penghematan penggunaan bahan bakar roket ketika peluncuran.

Pembangunan bandar antariksa di wilayah Indonesia merupakan amanat UU No 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Ini untuk mewujudkan kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa antara lain pengembangan teknologi Roket Pengorbit Satelit (RPS) yang dapat membawa wahana ke orbit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here