PT Pertamina (Persero) punya banyak model penerapan TI (teknologi informasi) yang sudah berjalan dengan baik. Sebagai perusahaan terbesar di bidang energi di Indonesia dan masuk daftar Fortune Global 500 pada tahun ini, sudah tentu penerapan TI Pertamina memiliki dampak nasional.
“Juga, ada sistem TI kami yang berdampak nasional,” kata Vice President Architecture Security and Policy Pertamina, Wahyudi, di Jakarta (18/10/2019), dalam Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2019, di Jakarta, Jumát 18 Oktober 2019.
Wahyudi menjelaskan, contoh implementasi TI berdampak nasional itu, adalah digitalisasi SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum). Digitalisasi SPBU ini mendukung program-program tertentu yang dijalankan Pertamina. “Kami menargetkan, digitalisasi SPBU ini akan menjangkau sekitar 5.000-an titik di akhir tahun 2019 ini” papar Wahyudi.
Dijelaskannya, dengan digitalisasi tersebut, sejumlah hal penting bisa dideteksi dengan cepat. Misalnya saja, ketika persediaan bahan bakar di SPBU sudah sedikit, bisa diketahui dengan cepat.
Contoh berikut dari implementasi TI berdampak nasional, adalah Integrated Port Management (IPMan). Di sini, ada efisiensi biaya waiting port. “Nilai efiensi dari sini, mencapai USD 95 juta,” kata dia.
Sementara, implementasi MPS (Managed Printing Service) di internal Pertamina, menimbulkan efisiensi biaya cetak kertas. Dalam hal ini, Pertamina pun terus menggelar upaya menuju paper less lebih lanjut.
“Untuk saat ini, Pertamina sudah menggunakan aplikasi e-faktur pajak,” dia menambahkan.
Transformasi Digital
Dalam kesempatan yang sama, Wahyudi juga menjelaskan bahwa Pertamina kini terus menggelar transformasi digital secara intensif. Transformasi tersebut bersifat menyeluruh dan komprehensif, jadi tidak sekadar berbicara teknologi. “Dalam hal ini, aspek people, process, dan lain-lain, juga diperhatikan,” kata dia.
Mulai tahun 2018, ada organisasi baru. Itu adalah Digital Transformation Team. Organisasi baru ini menegaskan komitmen Pertamina terhadap pentingnya TI.
Organisasi corporate TI pun sudah banyak perubahan. Awalnya, yang ada adalah Corporate Self Service. Kemudian, di tahun 2017, ada perubahan menjadi organisasi ini: Corporate ICT (Corporate Information Communication Technology). Organisasi baru ini ada di bawah direktorat keuangan.
“Dan, dipimpin oleh senior vice president CICT yang bertanggung jawab kepada direktur keuangan,” kata Wahyudi pula.
Penulis: Adhito














