Dosen ITS Olah Sampah Jadi Energi Penghasil Listrik

Penulis adam

Setiap hari ada lebih dari 175 ribu ton sampah yang dihasilkan masyarakat Indonesia menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2019. Jumlah tersebut bila diakumulusikan dalam sebulan sama dengan 64 juta ton sampah mengotori Indonesia.

Melihat kenyataan tersebut, Dr Ridho Hantoro, dosen Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mencoba mengolah sampah menjadi energi alternatif penghasil listrik.

Dalam penelitiannya, Ridho menggunakan metode berbasis hydrothermal carbonization. Metode ini memiliki kelebihan yang dapat mengurangi massa sampah secara signifikan pada prosesnya.

“Dimana hasil proses hydrothermal carbonization akan digunakan sebagai bahan baku gasifikasi dan gas engine untuk memproduksi listrik,” ucapnya.

Dosen yang akrab disapa Ridho ini mengungkapkan, ia terinspirasi dari konversi nilai energi dan banyaknya sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Salah satu TPA yang mengaplikasikan metode ini adalah TPA Putri Cempo di bawah Pemerintah Kota Surakarta.

Melalui penelitiannya yang berjudul Studi Pembangkitan Energi melalui Pengolahan Sampah Kota (MSW) dengan Proses Hydrothermal Carbonization (HTC) dan Gasifikasi, Ridho fokus menggunakan metode HTC dan Gasifikasi.

“Metode ini keunggulannya mampu meningkatkan nilai kalori material sampah dalam bentuk padatan, sekaligus mengurangi massa sampah secara signifikan pada prosesnya,” ungkap Ridho.

Ridho mengatakan, dalam prosesnya limbah terlebih dulu dipisahkan dari logam dan material toksik yang ada, lalu dimasukkan ke dalam reaktor HTC.

“Pada kondisi saturasi biasanya 23 bar harus tetap dikontrol, hal itu juga tergantung kondisi dan komposisi karakteristik sampah. Bisa sampah plastik atau sampah organik seperti sayur-sayuran, limbah rumah tangga, plastik, kertas, dan lainnya,” jelas Ridho.

Setelah itu, selama kurang lebih empat sampai 10 jam sampah akan terbentuk bubur karbon (char). Setelah itu bubur tadi dihilangkan kadar airnya, lalu dikeringkan dan menjadi briket. Briket yang sudah dikeringkan tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam gasifier, dan didapatkan metana murni.

Selanjutnya, metana murni itu dimasukkan ke dalam gas engine atau motor bakar yang akan menghasilkan listrik seperti halnya genset. “Apabila dalam pemanfaatan limbah menjadi biogas akan dihasilkan gas organik, tetapi hasil yang dikeluarkan dari gasifier akan berupa gas sintetik (syngas),” tuturnya.

Dengan adanya penelitian itu, Ridho berharap mampu memberikan kontribusi dalam menyelesaikan permasalahan sampah kota. “Saya akan meneruskan penelitian ini dengan membuat prototipenya, lalu mencoba mengaplikasikannya,” tutup Ridho.

BACA JUGA

Leave a Comment