Jakarta, ItWorks- Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional (Pusopkamsinas) BSSN merilis laporan dari sistem monitoring nasional Mata Garuda BSSN, di mana sepanjang tahun 2019 mencatat 290,3 juta serangan siber menyasar Indonesia. Serangan siber terbesar didominasi oleh serangan dengan menggunakan metode malware.
Hal ini terungkap dalam Laporan Tahunan Pusopkamsinas BSSN yang berisi ikhtisar jejak digital keamanan siber Indonesia sepanjang 2019 yang dirilis oleh Bagian Komunikasi Publik, Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat – BSSN (6/3), di Jakarta. Disebutkan, selama periode yang sama, Pusopkamsinas BSSN juga menerima 4.224 aduan insiden siber dari masyarakat.
Aduan tersebut diterima melalui e-mail, telepon maupun kunjungan langsung. Sebanyak 3.523 laporan atau 83.4 % dari seluruh laporan yang masuk dapat diverifikasi sedangkan 16.6% lainnya tidak dapat dikonfirmasi.
Disebutkan, insiden siber di Indonesia tidak lepas dengan apa yang terjadi di dunia siber global, karena serangan bisa datang dari mana saja bukan hanya dari Indonesia. Serangan siber juga belum tentu dilakukan dari sumber serangan yang tercatat tapi mungkin saja dari negara lain yang menjadikan negara sumber serangan itu sebagai pijakan atau platform saja.
Sistem monitoring nasional mata garuda BSSN misalnya mencatat sebanyak 290,3 juta serangan siber yang masuk ke Indonesia sepanjang tahun 2019 ini serangan terbesar datang dari IP address berlokasi di Amerika Serikat, bergeser dari kondisi tahun sebelumnya yang tercatat lebih banyak dari IP address yang ada di Indonesia sendiri.
Metode penyerangan siber menggunakan malware tercatat paling banyak digunakan didunia siber global, hackmagedon mencatat 39% dari top distribusi serangan siber dunia merupakan serangan menggunakan malware. Serangan malware masih menduduki peringkat pertama dalam serangan siber secara global.
Tren yang sama diperlihatkan juga di Indonesia, malware menduduki peringkat pertama metoda serangan yang sering digunakan dalam sembilan bulan dari dua belas bulan sepanjang tahun 2019. Sebanyak 36,2% dari top distribusi serangan siber ke Indonesia tercatat merupakan serangan menggunakan malware.
Kaspersky juga mencatat adanya infeksi malware ke Indonesia setiap bulan rata rata 150 ribu infeksi. Karena catatan catatan penting ini dalam Laporan tahun ini laporan hasil monitoring tiap bulan terkait malware diperlihatkan lebih detil. Peringkat atas jenis malware yang menginfeksi jaringan IP di Indonesia dilampirkan untuk dimitigasi lebih lanjut. Beberapa insiden siber penting lain selain malware adalah insiden kebocoran data dan electricity blackout.
Insiden kebocoran data antara lain insiden kebocoran data penumpang yang terjadi pada Malindo Air yaitu anak perusahaan Lion Air, dan kebocoran data 13 juta akun Bukalapak yang diperjual belikan di situs dark web. Insiden electricity blackout (padamnya listrik) terjadi pada tgl 4 Agusttus 2019 selama 9 jam menimbulkan dampak yang besar terhadap jaringan internet dan bisnis digital yang berjalan diatasnya.
Ancaman siber akan diprediksi terus ada dan semakin canggih. Bukan hanya di Indonesia, negara Amerika pun mengalami kesulitan menghadapi ancaman ini. Menurut FBI, tindakan kriminal siber di Amerika sepanjang tahun 2019 telah mengakibatkan kerugian US$ 3,5 Miliar atau sekitar Rp 47,9 triliun. (AC)














