Jakarta, ItWorks- Banyak instansi, perusahaan, dan organisasi yang tengah membuat skenario untuk bersiap menerapkan era baru dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang disebut “New Normal” atau kenormalan baru. New normal akan mengubah kebiasaan-kebiasaan secara drastis, seperti interaksi fisik atau tatap muka di dunia nyata yang berpindah ke dunia virtual dan digital, sehingga teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) akan memegang peran penting di era ini.
Wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), telah berdampak luas pada seluruh sendi kehidupan, baik nasional maupun internasional. Berbagai upaya dan kebijakan dilakukan untuk memutus rantai penyebarannya, mulai dari penanganan medis, physical distancing, kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH), belajar dari rumah, beribadah di rumah, dan berbagai himbauan untuk banyak berdiam di rumah.
Pandemi Covid-19 juga berhasil memaksa banyak orang untuk mengubah berbagai kebiasaan secara drastis, seperti interaksi fisik atau tatap muka di dunia nyata yang berpindah ke dunia virtual dengan memanfaatkan kemajuan teknologi telekomunikasi. Aktivitas belanja yang bergeser ke ranah digital melalui berbagai platform e-commerce, meningkatnya penggunaan uang elektronik dalam transaksi ekonomi, penggunaan tanda tangan digital di ranah hukum, webinar, video converence, virtual meeting,dan lainnya.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut akan terus terbawa sebagai langkah preventif terhadap penyebaran virus di kehidupan sehari-hari yang disebut dengn fase New Normal. New Normal adalah kebiasaan-kebiasaan baru yang muncul sejak fase pandemi Covid-19 dan menjadi normal baru pasca pandemi Covid-19. Dalam penerapannya, masyarakat harus menerapkan menjaga jarak, protokol kesehatan seperti rajin mencuci tangan dengan sabun, selalu mengenakan masker, hingga menghindari kerumunan agar terhindar dari penularan Covid-19.
“Dalam kondisi seperti ini, sektor industri telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi menjadi dasar terbentuknya ekosistem di era New Normal. Terutama untuk melayani kebutuhan telekomunikasi masyarakat, di mana mayoritas menggunakan jaringan seluler (mobile broadband) sebagai jaringan aksesnya. Mobile broadband melalui jaringan seluler mengandalkan infrastruktur BTS (2G), NodeB (3G) dan eNodeB (4G),” ungkap Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Johnny G. Plate saat menggelar konferensi pers daring dari Jakarta, yang dilansir dalam siaran pers, belum lama ini.
Dalam kesempatan itu, Menteri Kominfo menyampaikan kesiapan dukungan Kementerian Kominfo untuk pelaksanaan silaturahmi digital Idulfitri 1441 H dan era normal baru akibat pandemi Covid-19.
Dikatakan, pada saat diberlakukan kebijakan belajar dan bekerja dari rumah, terjadi peralihan signifikan trafik broadband dari perkantoran, perguruan tinggi dan sekolah ke pemukiman dengan kenaikan trafik sekitar 10-15%. Dalam keadaan normal, saat Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1441 H trafik naik 20-30%, namun dalam kondisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahun 2020 ini terjadi kenaikan trafik 30-40%.
Berbagai upaya dilakukan dalam mempersiapkan jaringan telekomunikasi untuk mengantisipasi lonjakan trafik ini. Di antaranya, menjaga kinerja jaringan telekomunikasi agar terus dapat memberikan layanan yang baik. Disebutkan, jumlah BTS 4G eksisting di kuartal-3 Tahun 2019 di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 173.294, BTS 3G sebanyak 188.849 dan BTS 2G sebanyak 116.982. Atau seluruhnya sekitar 479.125 unit. Sedangkan jaringan Fiber optic (FO) panjang FO inland: 224.583 km dan SKKL: 123.859, atau total panjang FO kita adalah 348.442 km.
Selain itu juga diupayakan menambah kapasitas pada BTS untuk mengantisipasi lonjakan trafik dan menyiapkan mobile BTS apabila diperlukan. Menjaga keberlangsungan jaringan telekomunikasi di titik-titik strategis pada kondisi PSBB yaitu di area pemukiman, jalan tol, puskesmas dan rumah sakit rujukan layanan Covid-19.
Untuk mendukung kebijakan bekerja dan belajar dari rumah yang akan menjadi new normal, Kementerian Kominfo juga melakukan kegiatan monitoring kualitas layanan telekomunikasi selama masa pandemik COVID-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan melakukan pengukuran Quality of Service (QoS) layanan suara dan data/internet seluler terhadap operator seluler guna memastikan layanan prima telekomunikasi. Hasil pengukuran terhadap layanan suara (voice) menunjukkan keberhasilan panggilan rata-rata sebesar 94,21%.
Sedangkan pada pengukuran layanan data menunjukkan bahwa tingkat kecepatan download rata-rata internet seluler sebesar 15,57 Mbps, kecepatan upload rata-rata 13,34 Mbps dan latency 27,37 milisecond. Pengukuran juga dilakukan terhadap penggunaan streaming byYoutube dan Whatsapp, dimana diperoleh tingkat keberhasilan rata-rata untuk Youtube sebesar 84,82% dan Whatsapp sebesar 90,6%. Pada wilayah yang hasil pengukurannya tidak baik, Kementerian Kominfo berkoordinasi dengan penyelenggara seluler untuk melakukan upaya perbaikan atau meningkatkan kapasitas jaringan telekomunikasi di tempat tersebut. (AC)














