Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasi kepada jajarannya yang mampu memenuhi target pengujian spesimen sebanyak 10.000 per hari sebagaimana yang sebelumnya telah ditetapkan. Selanjutnya, selain meningkatkan capaian tersebut, Presiden juga meminta agar pelacakan secara agresif kini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi komunikasi.
Demikian disampaikan oleh Kepala Negara saat memimpin rapat terbatas mengenai percepatan penanganan pandemi Covid-19 melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (04/06/2020).
“Saya menyampaikan terima kasih bahwa target pengujian spesimen yang dulu saya targetkan 10.000 ini sudah terlampaui. Saya harapkan target berikutnya ke depan adalah 20.000 per hari. Ini harus mulai kita rancang ke sana,” ujarnya.
“Saya minta pelacakan penyebaran Covid-19 dilakukan dengan lebih agresif dan mulai memanfaatkan sistem teknologi telekomunikasi. Dibanding menggunakan cara konvensional, penerapan teknologi tentunya dapat memungkinkan sistem pelacakan menjadi lebih cepat.”
Presiden JoKo Widodo
“Seperti yang kita lihat di negara-negara lain, misalnya di Selandia Baru, mereka menggunakan digital diary. Kemudian Korea Selatan juga mengembangkan mobile GPS untuk data-data sehingga pelacakan itu lebih termonitor dengan baik,” tuturnya.
Digital Diary
Mengutip berbagai sumber, Digital Diary yang dimaksud adalah aplikasi ponsel pintar bernama NZ COVID Tracer, diluncurkan pemerintah Selandia Baru pada 20 Mei 2020. NZ COVID Tracer adalah aplikasi Kementerian Kesehatan yang mendukung pelacakan kontak (contact tracing) secara cepat dan efektif dengan menciptakan diari digital dari tempat-tempat yang Anda kunjungi.
Aplikasi digital diary bisa dipasang di ponsel bersistem operasi Android maupun Apple. Pengguna aplikasi perlu memasukkan email dan membuat password di aplikasi itu terlebih dahulu, termasuk mengisi data diri (opsional).
Cara kerja diari digital ini adalah lewat pemindaian (scan) kode QR lewat aplikasi ini. Bila si pengguna aplikasi ini sedang bepergian di suatu tempat, misalnya restoran atau pusat perbelanjaan, di restoran atau pusat perbelanjaan tersebut akan tersedia poster QR code yang bisa dipindai oleh si pengguna aplikasi.
Dengan pemindaian QR code yang disediakan pemerintah itu, terlacaklah pergerakan pengguna aplikasi NZ COVID Tracer. Riwayat perjalanan pengguna aplikasi bisa dilihat di menu aplikasi ini. Informasi mengenai riwayat perjalanan ini bakal terhapus otomatis setelah 31 hari.
Bila pengguna aplikasi teridentifikasi pernah berkontak jarak dekat dengan orang yang terjangkit COVID-19 di suatu lokasi, Layanan Kontak Dekat Nasional (NCCS) akan segera menghubungi si pengguna aplikasi dan menjadwalkan pengetesan untuk Anda. NCCS juga akan menanyai pengguna aplikasi mengenai siapa saja orang-orang yang telah dilihatnya.
Mobile GPS
Sedangkan Mobile GPS adalah pelacakan menggunakan aplikasi sistem pemosisi global yang mulai digunakan di Korsel pada pertengahan Maret, di Daegu dan Gyeongsang Utara, dua lokasi yang dulu sempat dilanda penularan COVID-19 terparah di Korsel, bahkan di dunia.
COVID-19 Smart Management System (COVID-19 SMS), bukan sekadar aplikasi melainkan suatu sistem. Sebelum sistem ini ada, Korsel melakukan pelacakan kontak kasus COVID-19 secara manual. Namun setelah COVID-19 SMS hadir, maka seluruh proses contact tracing didigitalisasi.
Sistem telah membuat pelacakan kontak lebih cepat dan lebih ringan. Sistem ini diklaim mampu mempersingkat 24 jam pelacakan kontak (contact tracing) menjadi 10 menit saja. Sistem ini menyediakan analisis rute penularan, deteksi hotspot penularan, namun tetap melindungi data pribadi lantaran butuh persetujuan otoritas sebelum pihak berkepentingan mengakses data orang yang hendak dilacak.
Cara kerjanya, aplikasi ini akan memonitor orang yang dikarantina. Bila mereka pergi dari lokasi karantina, sistem akan mengaktifkan alarm.














