Jakarta, ItWorks- Isu beredarnya data pasien Covid-19 yang diduga diperjualbelikan yang diretas dari database penanggulangan pandemi, menambah panjang daftar isu yang perlu segera diungkap dan diselesaikan. BSSN kini terus menelusuri untuk melihat struktur data ke tingkat bawah dan memastikan sejauh ini Database Covid-19 RI di pusat aman.
Seiring dengan makin banyaknya layanan publik yang didigitalisasi, kini pertukaran dan lalulintas data pribadi semakin sering dan mudah untuk dilakukan. Teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan sangat cepat begitu juga dengan upaya eksploitasi kerentanan teknologi tersebut.
Serangan siber pun semakin sering menyasar sistem informasi layanan publik yang sudah terdigitalisasi, sehingga kini perlindungan data pribadi menjadi kebutuhan yang mendesak. Isu diperjualbelikannya dan beredarnya data pasien Covid-19 yang diduga merupakan bagian dari database nasional penanggulangan pandemi Covid-19 yang diretas menambah panjang daftar isu yang perlu segera diungkap dan diselesaikan.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN, Anton Setiyawan yang juga merupakan Juru Bicara BSSN menyatakan, database pengelolaan penanggulangan pandemi Covid-19 nasional itu ada di Kementerian Kesehatan dan itu dijaga oleh beberapa stakeholder, termasuk yang memimpin untuk keamanannya adalah dari BSSN. Mereka bekerja untuk melindungi database nasional tersebut.
“Ketika isu ini bergulir, memang kita coba cek lagi secara keseluruhan dan dari kondisi yang ada, kita tidak menemukan adanya akses yang tidak sah terhadap database pengelolaan pandemi Covid-19 pusat yang berada di Kementerian Kesehatan,” jelas Anton dari ruang kerjanya di kantor BSSN Ragunan ketika menjadi narasumber dalam suatu di stasiun tv sebagaimana dilansir Bagian Komunikasi Publik, Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat – BSSN, melalui potal web resmi BSSN, baru-baru ini.
Disebutkan, proses dalam pengumpulan data Covid-19 itu sangat luas. Dimulai dari tingkat yang paling bawah dari masyarakat, ada puskesmas ada rumah sakit, bahkan ada pihak-pihak swasta yang melakukan rapid test. “Itu kan mereka juga mengumpulkan data pribadi dari yang melakukan tes tersebut. Jadi sangat sangat luas (pesebaran datanya),” jelas Anton.
Dalam hal ini, BSSN untuk (penanggulangan) Covid-19 ini mengamankan database yang (sudah) terkumpul secara terpusat di Kementerian Kesehatan. “Sekarang tim BSSN sedang berupaya untuk menelusur ke bawah, sampai pada tingkatan bagaimana tata kelola dari informasi yang di bawah, supaya jangan sampai yang diatas itu sudah kita amankan dengan baik, tetapi dalam proses dibawahnya ternyata ada kerentanan-kerentanan yang mungkin tidak tertutup sehingga bisa dieksplorasi oleh pihak-pihak luar” ujarnya.
BSSN sendiri sejak dua bulan yang lalu sudah melakukan pengamanan terhadap sistem yang ada di Kementerian Kesehatan. Pihaknya menjamin kalau sistem yang ada di pusat, saat ini dijamin aman. “Sebagai tindak lanjut untuk menanggulangi permasalah ini secara nasional, BSSN berkolaborasi dan berkoordinasi dengan teman-teman di daerah yang memang mengumpulkan datanya dari sana,” ujarnya.
Pihaknya melihat adanya sample yang bukan (seperti) data yang ada di pusat, struktur datanya juga berbeda. Dalam hal ini, ketika peretasan tersebut benar terjadi, maka pihak kepolisian yang akan melakukan tindakan dan melakukan investigasi yang lebih mendalam lagi. (AC)














