Astra Hadirkan Webinar Jadi UMKM Juara

Penulis Teguh Suyudi

Nurman Farieka, yang tinggal di Bandung, setiap 10 hari menampung 20 kilogram ceker ayam dari pedagang sayur langganannya. Bukan untuk dibuat makanan tertentu, ceker ayam itu hanya diambil kulitnya untuk dibuat sepatu.

“Saya ingin sepatu ceker ayam merek Hirka dapat dipahami dan diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia. Untuk itu, saya membuat dua jenis sepatu, yakni Jokka dan Tafiaro yang berarti jalan-jalan dalam bahasa Makassar dan Papua,” ujar pemuda yang tahun ini genap berusia 25 tahun.

Jatuh bangun Nurman membuat sepatu dari ceker ayam pertama di dunia diceritakan dalam inspira webinar bertema “Jadi UMKM Juara? yang diadakan oleh Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2020 bersama dengan Young On Top, 4/7.

Turut hadir dalam webinar tersebut pendiri serta pemilik Kebab Turki Baba Rafi Nilam Sari yang mendampingi Nurman Farieka, penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2019 bidang kewirausahaan dan dipandu oleh penyiar radio dan pelaku industri kreatif Iwet Ramadhan.

Nilam Sari berbagi suka duka mendirikan Kebab Turki Baba Rafi, makanan khas internasional, tetapi memiliki cita rasa yang dapat diterima oleh lidah konsumen di Indonesia.

“Berawal dari mimpi, kemudian saya kembangkan lebih lanjut agar dapat menjadikan Kebab Turki Baba Rafi sebagai pemain kuliner asal Indonesia di kancah global,” tutur wanita alumni Universitas Airlangga.

Pada webninar tersebut, kedua narasumber juga menjelaskan keinginan mereka untuk mengharumkan nama Indonesia melalui karya anak bangsa di bidang kuliner

Bertahan di Tengah Pandemi

Nurman dan Nilam merupakan dua pelaku saha kecil dan menengah (UMKM) yang bertahan di tengah pandemi COVID-19. Berbagai upaya dilakukan oleh pelaku UMKM untuk menyiasati situasi bisnis yang kurang kondusif akibat pandemi, di antaranya mengoptimalkan channel daring.

Sebagai pencetus Hirka yang memiliki konsumen antarpulau dan negara seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, Jepang hingga Prancis, Nurman telah menjajaki pasar global melalui berbagai platform ranah digital sejak awal didirikan, sehingga tidak terjadi perubahaan strategi secara signifikan.

“Awalnya saya ingin menguatkan produk-produk Hirka dengan memproduksi 200 pasang sepatu agar dapat memasuki pasar ritel di seluruh Indonesia. Namun karena terjadi pandemi COVID-19, kami mengubah cara penjualan dengan sistem pre-order dan menyebarkannya melalui platform daring yang telah kami rintis tiga tahun terakhir,” tuturnya yang menemukan resep pengolahan kulit ceker ayam dari catatan bapaknya.

Secara perlahan, Hirka semakin berkibar dengan mendapatkan konsumenkonsumen baru, sehingga penghasilannya meningkat 20% setiap bulan. “Dengan metode pre-order, Hirka telah menjual 70 hingga 90 pasang sepatu per bulan, berbeda dari tahun sebelumnya yang hanya mampu menjual 30 pasang sepatu per bulan.”

Penjualan melalui platform daring yang banyak dilakukan oleh pelaku usaha di tengah pandemi seperti saat ini diyakini dapat membuat bisnis mereka bertahan.

Baca: Kolaborasi Anak Muda Penerima Satu Indonesia Awards dan Seniman Kebanggaan Indonesia

BACA JUGA

Leave a Comment