Perubahan dari layanan atau pekerjaan yang semula dilakukan secara manual menjadi digital diyakini bisa membantu perusahaan rintisan (startup) untuk mengatasi tantangan saat pandemi virus corona berlangsung.
Perusahaan rintisan adalah istilah yang merujuk pada semua perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.
Anggota Dewan TIK Nasional, Ashwin Sasongko, dalam sebuah webinar: “Pandemi COVID-19 Dampak Terhadap Pelaku Ekonomi Digital”, 9/7, membagi perusahaan rintisan ke dalam dua kelompok.
“Startup harus tahu betul kegiatannya, lalu mengubah layanan apa yang bisa ditransformasi digital,” kata Ashwin Sasongko.
Pertama adalah startup yang aktivitasnya tidak digital, namun menggunakan teknologi digital sebagai alat.
Bisnis seperti ini contohnya adalah yang berkaitan dengan makanan, produksi makanan tetap membutuhkan kegiatan fisik, namun pembayarannya bisa dilakukan secara digital. Banyak bisnis makanan juga yang pemesanannya daring tapi pembayarannya masih konvensional.
Kelompok kedua adalah perusahaan yang memang produk digital, seperti aplikasi atau game.
Jika aktivitas bisnis perusahaan bersifat non-digital, segera tinjau ulang bisnis dan cari tahu apa saja yang bisa diubah ke bentuk digital. “Supaya lebih efisien, cepat,” kata Ashwin.
Sementara bagi yang membuat produk digital, mereka harus cermat melihat peluang apa yang sedang berkembang, misalnya aplikasi apa yang sedang dibutuhkan selama pandemi ini.
Perusahaan rintisan adalah istilah yang merujuk pada semua perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.














