Jakarta, Itech- Kementerian Ristek bekerja sama dengan pemerintah Tiongkok untuk transfer teknologi monitoring melalui satelit.Pemanfaatan teknologi dalam monitoring eksplorasi batu bara sangat penting untuk mengurangi angka pencurian batu bara selama ini. Sistem pengawasan batu bara merupakan sistem yang telah dipakai Pemerintah Tiongkok. Diharapkan, sistem itu mampu mewujudkan pencatatan angka produksi dan ekspor batubara yang efektif melalui satelit. Sehingga bisa mengurangi pencurian batubara selama ini.
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta mengimbau, agar pelabuhan batu bara dibenahi, karena menurutnya, masih banyak pintu ilegal. “Pelabuhan harus ditentukan yang aman. Kalau teknologi dan ahli kita punya, justru sulitnya di situ. Harus berkoordinasi, entah itu dengan Dinas Perhubungan atau lainnya terkait pelabuhan,” katanya mdalam seminar nasional Teknologi Sistem Pemantauan dan Pengawasan Batubara di Indonesia, di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (16/10).
Di sisi teknologi lanjut Gusti, Lapan sudah mengembangkan teknologi satelit untuk membantu nelayan. Satelit ini mampu menangkap posisi ikan paling banyak melalui pencatatan koordinat dan meneruskannya ke global positioning system (GPS) yang dipegang nelayan. Pemanfaatan satelit juga bisa digunakan untuk monitoring batubara, misalnya, untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan yang kaya potensi batubara.
Pada kempatan yang sama, Deputi Menteri Bidang Jaringan Iptek Kementerian Riset dan Teknologi Agus R Hoetman berpendapat pemanfaatan monitoring ini tentunya akan disesuaikan dengan atmosfer Indonesia lewat pengkajian dengan perusahaan-perusahaan batubara di Indonesia yang jumlahnya sekitar 60 perusahaan. “Teknologi monitoring ini penting untuk menghilangkan kecurigaan, mengetahui berapa volume ekspor, berapa batubara yang digali. Sehingga semuanya transparan,” paparnya.
Sementara itu, Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, R Sukhyar menambahkan, dengan penerapan sistem satelit diharapkan dapat mengurangi tindakan pencurian dan penggelapan laporan. Sumber-sumber kehilangan itu, berasal dari manipulasi data produksi dan penjualan batu bara. “Di samping itu, meskipun laporan bersifat wajib, namun tidak ada sanksi tegas jika laporan yang disampaikan oleh perusahaan salah. Penyebab lainnya ialah pelaporan yang masih bersifat hard copy, bukan berbasis IT,” sambungnya.(red/ju)














