ItWorks- Tren digitalisasi yang dipicu pesatnya penggunaan internet di hampir segala lini kehidupan di era new normal, telah mendorong percepatan transformasi digital di Indonesia. Namun di sisi lain, meningkatnya adopsi teknologi digital juga mendorong semakin tingginya ancaman kejahatan di ruang siber.
Fenomena adopsi teknologi digital di tengah pandemi menunjukkan peningkatan signifikan, termasuk di sektor pemerintah untuk memudahkan layanan masyarakat. Namun di sisi yang lain, apabila pemanfaatan teknologi tersebut tidak diiringi dengan kewaspadaan akan keamanan siber, maka berbagai pihak bisa terdampak, kerusakan akibat kejahatan di ruang siber bisa terjadi. Karena itu, kesadaran akan IT security dan keamanan siber juga harus ditingkatkan untuk mendukung transformasi digital yang aman.
“Proses digitalisasi yang aman akan mendorong timbulnya kepercayaan publik dan potensi ekonomi digital di Indonesia pun bisa terus berkembang. Proses transformasi digital memerlukan dukungan dari seluruh stakeholder. Terkait hal tersebut, BSSN juga telah menyusun Strategi Keamanan Siber Nasional (SKSN),” ungkap Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Yoseph Puguh saat menjadi keynote speaker dalam webinar bertajuk “Data and Cloud Governance to Drive National Digitalitation”, dilansir dalam rilis pers Humas BSSN, belum lama ini.
Menurutnya, Strategi Keamanan Siber Nasional (SKSN) yang telah disusun BSSN bisa menjadi acuan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terkait implementasi sistem IT security. SKSN mencakup lima pilar sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2019 – 2024, terdiri dari Ketahanan Siber Indonesia, Kepastian Hukum Ruang Siber, Kemampuan Teknologi Siber, Dukungan Pertumbuhan Ekonomi Digital, serta Kerja Sama Internasional dan Nasional.
“Di sisi teknis BSSN juga membentuk CSIRT (Computer Security Incident Response Team) sebagai pelaksana keamanan siber. CSIRT bertanggung jawab menerima, meninjau dan menanggapi laporan dan aktivitas insiden keamanan siber. Dalam konteks yang lebih luas, keamanan siber akan berkaiut erat dan berujung pada kesejahteraan melalui pertumbuhan ekonomi digital,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN Anton Setiawan. Ia menyatakan keamanan siber terkait erat dengan aset dan risiko. Dalam perspektif keamanan siber, kontrol merupakan hal yang paling penting, semakin besar kontrol yang dimiliki maka semakin baik.
“Tentunya bukan monopoli kontrol, namun kontrol bersama yang terstruktur sehingga kita bisa mengawasi dan mengelola berbagai ancaman dan risiko yang ada bersama-sama,” ujar Anton. (AC)














