Jakarta, Itech – Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendapatkan dana senilai 30 juta Euro dari Perancis untuk meningkatkan kapasitas teknologi pemantauan cuaca dan iklim di Indonesia. Secara umum bentuk modernisasi teknologi dari Perancis tersebut meliputi peralatan untuk mengumpulkan data, proses data, diseminasi untuk cuaca dan iklim.
Selasa (9/12), Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Corinne Breuze, berkunjung ke BMKG untuk melihat perkembangan teknologi pemantauan cuaca dan iklim di Indonesia. Kontribusi Perancis di BMKG itu dapat ikut berperan dalam mencegah perubahan iklim ekstrim. “Pemanasan global merupakan isu penting dan Perancis mendukung Indonesia untuk membangun kapasitasnya menghadapi dampak perubahan iklim.,” ujar Corinne.
Bagaimana pun, dampak perubahan iklim mulai dirasakan di Indonesia, bahkan di belahan dunia. Kesadaran akan dampak dan upaya mengurangi dampak pun harus ditingkatkan. Baginya, perubahan iklim terjadi dalam jangka yang panjang dan harus terus diingatkan sejak awal. Perubahan iklim mengakibatkan pemanasan global, kenaikan temperatur, konsentrasi karbon, mencairkan es, meningkatkan jumlah air dan naiknya permukaan air laut.
Kepala BMKG Andi Eka Sakya seusai mendampingi Breuze mengatakan, pihak Perancis sudah kali keempat memantau proses modernisasi teknologi di BMKG. Salah satunya adalah alat untuk mengambil unsur gas dari air yang dipakai untuk teknologi udara atap. Teknologi udara atap itu sejauh ini kerap digunakan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca dan iklim lewat balon udara yang diterbangkan ke langit setinggi 30 kilometer.
“Pemantauan udara atap ini mengirimkan pembaruan informasi meteorologi dan klimatologi. Setiap detik kita mendapatkan pembaruan informasi dari parameter cuaca yang ada di udara ini,” tegas Andi seraya menambahkan, bahwa terjadi pula transfer teknologi. Terbukti, sebanyak 4 pegawai muda BMKG mengambil studi S2 di Perancis. (*)














