Jakarta, Itech- Lahan gambut sebenarnya dapat dimanfaatkan guna mendukung peningkatan perekonomian masyarakat. Namun untuk pengelolaanya perlu tindakan tepat guna melindungi lahan tersebut dari degradasi.Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan dengan meningkatkan pertumbuhan social dan kesejahteraan tanpa membahayakan ekosistem.
Kunci penting dalam pengelolaanlahan gambut dapat dilakukan melalui pengelolaan tata air secaraprofesional yang membatasi drainase untuk kawasan budidaya dan melindungi system hutan rawa gambut yang dilestarikan. Dengan berbasi ilmu pengetahuan, pengelolaan lahan gambut yang bertanggungjawab, membutuhkan investasi yang nyata dan teknologi serta sumber daya manusia, sehingga degradasi di lahan gambut dapat dihindari.
Faktor paling penting dalam pengelolaanlahan gambut adalah pengelolaantata air. Saat ini sedang dilakukan pendekatan inovatif yang menggabungkan zonasi secara hati-hatiantarakawasanhutandandaerahpengelolaantata air atau yang dikenal dengan ‘Ecohydro’yaitusuatupendekatanpengelolaantata air yang melibatkan pembentukan zona penyangga untuk mencegah hilangnya air ke daerah yang berdekatan, yang rusak atau sedang dalam pengembangan.
“Pengelolaan lahan gambut berwawasan lingkungan melalui rekayasa teknologi tata kelola air (ekohidro) perlu dipraktikkan. Dari sisi lingkungan, inovasi teknologi ini mampu mempertahankan fungsi lahan gambut sebagai penyimpang karbon,” ujar Sekjen Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) Suwardi disela diskusi Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Mapiptek) bertema: “Penerapan Teknologi dalam Pengelolaan Gambut Lestari di Jakarta, (23/12).
Suwardi menjelaskan, lahan gambut yang dimanfaatkan untuk pertanian, perkebunan dan HTI saat ini baru mencapai 20 persen atau 2,4 juta ha. Sebagian lahan tersebut dimanfaatkan untuk perkebunan sawit seluas 1,6 juta ha, sisanya sekitar 20 persen atau 3,9 juta ha adalah lahan terdegradasi. Sisanya 0,6 juta ha adalah lahan bekas tambang, dan 10 persen untuk infrastruktur dan fasilitas umum. “Pemanfaatan lahan gambut di Indonesia belum optimal, karena sebagian pihak hanya melihatnya dari sisi lingkungan. Pemanfaatan lahan gambut dituding sebagai penyebab emisi,” paparnya. (*)














